Guruku Yang Galak

Hari mulai menjelang siang. Suasana kelas yang tadinya gaduh mulai hening sampai tak satupun suara terdengar. Kemudian, langkah kaki tegap berjalan menuju ke dalam kelas. Para siswa-siswi hanya tediam membisu.

“Apa-apaan ini ! Tidak diberi salam lagi ! Siswa macam apa kalian ini ?” bentak guru tersebut sambil memukul meja.

Ketua kelas dengan ketakutan kemudian memberi komando kepada teman-temannya. “Si…si…siap ! B..Beri S..alam!”

Sebelum teman-teman sempat menjawab, guru tersebut berteriak, “Ketua kelas macam apa itu ? Beri salam saja tidak benar ! Ulangi lagi!”

Salam pun diulangi lagi. “Bagus, bagus. Kalian mulai sadar siapa yang berkuasa di sini. Sekarang, keluarkan selembar kertas, kita ulangan !”

Sorak-sorai protes pun langsung keluar dari mulut para siswa. Mendengar itu, guru itupun langsung menggebrak meja sambil berkata, “ Dasar murid-murid malas, tidak tahu aturan ! Murid-murid macam apa itu ? Tidak bermutu! Kumpulkan buku Tatibsi kalian, SEKARANG!”

Dengan ketakutan para siswa-siswi mengumpulkan buku Tatibsi mereka sambil menggerutu dalam hati. Guru tersebut memang disebut seluruh sekolah sebagai guru yang paling banyak mendapat predikat “Guru Terangker”. Selain sikapnya, penampilannya juga “sangar”. Berkumis lebat, gaya bicaranya seperti orang Batak, dan marahnya seperti singa yang lagi beranak. Namanya Pak Gori.

Jam sekolah pun berakhir. Seperti biasa, Adinda, salah satu dari siswi kelas tersebut, lagi mengobrool soal kejadian tadi. “Eh, kayaknya tuh guru sudah hipertensi tingkat 4.”

“Maksudmu?”tanya Lila, sahabatnya. “Ya, hipertensi yang paling puuuarah poool !!! Oh ya, tadi katanya ada yang ngompol lo!”.

“Oh ya? Siapa ?”.

“Hihihihi, Ronal. Koq gak malu ya, sudah kelas 1 SMP, masih aja ngompol”, ujar Adinda sambil tertawa cekikikan.

Lila yang juga ikut cekikikan berkata, “ Maklumlah, guru galak, masa mau diladenin. Sebenarnya, aku juga hampir ngompol, saking takutnya, hihihihi……”.

Sambil menyantap semangkuk porsi bakso, Adinda berkata, “Koq bisa ya, guru koq kelakuannya gitu ? Apa tidak malu jadi buah bibir satu sekolah?”.

“Huh, paling kebanyakan makan garam. Sudahlah, gak usah dipikirin, guru galak kaya gitu masa dipikirin?”, sahut Lila.

“Bukan gitu, La. Aku koq prihatin. Mungkin gurunya ada beban. Atau, apa gitu”, kata Adinda.

“Huh, guru kaya gitu koq dikasihani. Gak usah gitu lah!” Lila berkata dengan nada sedikit marah.

Esoknya, Pak Gori tidak masuk sekolah. Kata beberapa siswa, Pak Gori sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Sukacitapun menyelimuti kelas itu, termasuk Lila dan Adinda. Tetapi, Adinda adalah anak yang memiliki rasa empati dan penasaran yang tinggi. Maka, ia memutuskan untuk menjenguknya. Saat hal ini disampaikan pada Lila, terkejutlah ia. “Heh, kamu gila ya! Mengunjungi guru yang disebut-sebut sebagai guru terangker, aku khawatir banget. Takut!”.

“Ya, aku juga sih. Tapi, aku juga ada urusan di rumah sakit itu. Ayahku kan kerja di sana. Jadi, sambil mengunjungi ayahku, aku coba mengunjungi Pak Gori.”

Akhirnya, ide tersebut dituruti. Lila juga turut menemani Adinda ke rumah sakit dengan perasaan takut. Setelah menemui ayah Adinda, mereka beralih menuju kamar Pak Gori. Di sana, Pak Gori didampingi oleh kedua anaknya. Sambil membawa bingkisan, mereka kemudian mengetuk pintu kamar. Mereka pun dipersilahkan masuk.

“Wah, ternyata ada 2 muridku. Ayo masuk!” kata Pak Gori mempersilahkan.

Ternyata mereka salah sangka. Pak Gori itu sebenarnya ramah. Pak Gori pun bercerita, dulunya ia adalah seorang PNS daerah setempat. Kemudian, sebuah kasus tak sedap memaksa Pak Gori untuk keluar dari jabatannya. Setelah itu, bebannya ditambah dengan meninggalnya istrinya akibat kecelakaan sepeda motor. Lalu, anaknya ke-2 dikeluarkan dari sekolah karena dituduh terlibat dalam kejahatan.  Ia lalu menjadi stress dan akhir-akhir ini sifatnya menjadi lebih kasar. Akhirnya, mereka mengerti kesusahan Pak Gori. Setelah itu, mereka berjanji untuk memberitahukannya pada teman-temannya yang lain, agar Pak Gori tidak dicap oleh seluruh warga sekolah sebagai guru yang angker.

(fact: Sebenernya ini cerpen uda aku bikin 3 tahun yang lalu lho wkwkwk kemudian aku edit apa adanya dulu. Kalo ada yg kurang2 tlg dicomment ya ^^) R.M.T.B.D.J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: