Malam Ini, Kujamu Yesus dan KujagaNya dalam Hatiku – Renungan Kamis Putih, 5 April 2012

(Sebenarnya artikel ini aku tulis dari kemarin malam sehabis pulang Tuguran di secarik kertas, cuma karena baru bisa connect internet sekarang jadi baru bisa ngepost di blog hari ini hehe)

Malam menjelang pagi, 6 April 2012, pk. 01.00 …….

Baru saja aku pulang dari tuguran di Gereja Katedral. Bau dupa yang diayun-ayunkan wirug selama misa dan tuguran tadi masih membekas kuat di bajuku, bahkan aku masih bisa mencium aromanya yang kuat di sekitar lengan dan badanku.

Tuguran tahun ini, bagiku, adalah tuguran terindah yang pernah aku saksikan. Sakramen Mahakudus ditatahkan dalam sebuah montrans, di sebuah tempat, aku tidak begitu tahu namanya apa, yang jelas tempat itu cukup tinggi dan diselimuti kain putih, sehingga cukup tinggi dan jelas untuk dilihat dari jauh. Tempat itu ditaruh di sebuah meja bundar, yang dihiasi lilin-lilin berukuran besar dan kecil. Altar utama (altar misa Tridentine) dan altar rail pun juga dihiasi lilin-lilin kecil yang semakin menampakkan keindahan altar. Keindahannya semakin membuatku terpesona saat lampu gereja dimatikan dan di depan monstrans dinyalakan lampu yang membuat monstrans nampak sangat bercahaya. Seperti merayakan keIllahian Kristus melalui cahaya dalam kegelapan, aku pun takjub akan pemandangan ini. Sungguh amat kusayangkan aku tidak membawa tustel seperti biasanya …..

Di tuguran ini, aku merenungkan apa yang diucapkan romo sewaktu Misa Kamis Putih tadi. Romo bilang bahwa Kamis Putih merupakan kelahiran 2 sakramen utama dalam Gereja, yaitu Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat. Sakramen Ekaristi lahir saat Yesus dalam Perjamuan Terakhir memberikan Tubuh dan DarahNya dalam rupa roti dan anggur kepada murid-muridNya. Sedangkan Sakramen Imamat lahir saat Yesus menyuruh murid-muridNya untuk terus mengenangkan perjamuan ini. Menurut Tradisi Suci, dalam Perjamuan Terakhir inilah pula, Yesus mengurapi dan mentahbiskan para muridNya, sama seperti yang dilakukan Gereja sekarang dalam pentahbisan romo/uskup. Tidak akan pernah ada Sakramen Ekaristi bila tidak ada Sakramen Imamat, artinya tidak akan pernah ada Ekaristi tanpa para imam yang mengkonsekrasikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi para umat untuk terus mendoakan para imam, bahkan bila perlu menegur dan memperingatkan bila para imam berbuat yang tidak benar. Umat harus menjaga imam agar imam bisa merayakan Ekaristi dan terus melayani umat.

Selain itu, aku juga ingat akan renungan romo akan semangat dan teladan Yesus yang mau merendahkan diriNya untuk membasuh kaki murid-muridNya. Tentu suatu yang tidak wajar, saat Yesus yang adalah Guru dan Tuhan, membasuh kaki orang lain selayaknya bahwa Dia adalah seorang hamba, seorang pelayan. Hal ini sebenarnya Dia contohkan agar seorang yang menjadi pemimpin haruslah merangkap menjadi seorang hamba, seorang pelayan. Apa maksudnya? Ya, Pemimpin ada untuk melayani, BUKAN dilayani. Untuk menjadi besar, kita harus menjadi rendah terlebih dahulu. Jangan terlalu nafsu untuk sesuatu yang besar apabila kita tidak mampu dalam sesuatu yang kecil. Hal ini seharusnya bisa menjadi contoh bagi para pemimpin masa kini yang mayoritas lebih suka melayani, lebih suka meninggikan dan menebalkan hati terhadap teriakan rakyat yang lapar dan haus akan kesejahteraan dan keadilan.

Aku kembali dalam tubuhku, setelah mengembara jauh dalam sanubariku. Kembali dalam tuguran ini, melihat Kristus yang menyala terang di depanku. Aku pikir hari ini aku sudah menjamu Yesus dengan baik, setelah mengakukan dosa sampai 2 kali dalam sehari karena ada dosa-dosa yang ketinggalan, lalu perbuatan amal, dan terakhir, menyambut Tubuh Tuhan dalam Misa Kudus tadi, meskipun sebenarnya, aku masih merasa belum cukup. Beruntung sekali sebenarnya Tuhan memberikan manusia sifat yang tidak pernah puas. Jika Tuhan selalu memberikan kepuasan pada manusia, maka kehidupan manusia akan cenderung statis dan tidak akan pernah maju, dan manusia akan terus bermalas-malasan, kenyang akan kepuasan hidup.

Selagi aku bertugur , aku sadar juga akan tubuhku ini yang telah menjadi bait kediamanNya, terlebih saat Tubuh Tuhan dalam bentuk Hosti Kudus masuk ke dalam mulutku dan larut dalam asamnya lambung. Pasti unsur-unsur Tubuh Kristus tadi sudah masuk dalam setiap relung tubuhku. Ya, tanpa aku bertugur pun, aku sudah menjamu Yesus setiap hari dan menjagaNya dalam hatiku. Selamat malam Yesus dalam hatiku ……… =)

 

 

 

 

 

 

 

R.M.T.B.D.J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: