TITANIC: Kefatalan Sebuah Kesempurnaan

Well, hari ini genap seabad tenggelamnya kapal pesiar yang paling fenomenal, Titanic. Tenggelam dalam dinginnya malam bulan April pada tanggal 15 tahun 1912. Membayangkan betapa fenomenalnya kapal itu, sampai-sampai dikatakan bahwa Titanic tak akan pernah bisa ditenggelemkan, bahkan oleh Tuhan sekalipun, pada nyatanya Titanic K.O. gara-gara bertabrakan dengan bongkahan es besar yang berada di tengah Samudera Atlantik. Yang membuat semakin ironis bahwa Titanic tenggelam pada pelayaran perdananya, menjadikan kapal ini, yah, semakin “legenda”, bukan hanya popularitasnya, tapi juga, tragedinya yang memilukan.

Titanic dan Menara Babel: Mungkin Ada Hubungannya

Aku jadi teringat akan kisah Tuhan yang menghancurkan menara Babel dalam Kitab Kejadian akibat keinginan dan kesombongan manusia dalam menggunakan teknologi, sehingga ingin membangun menara setinggi-tingginya untuk melihat seperti apa Tuhan itu. Yaa mungkin sedikit berbeda konteks dengan Titanic. Namun, ada 1 hal yang mirip yang bisa aku dapat. Dua peristiwa ini sama-sama bersumber tentang kesombongan. Ya, kesombongan untuk mengalahkan alam. Kesombongan untuk “menantang” Tuhan. Ambisi yang tidak benar tersebut pada akhirnya mengakibatkan kehancuran yang mengerikan. Di cerita menara Babel, bahasa-bahasa dikacau balaukan sehingga pembangunan menara Babel terhambat yang mempercepat proses kehancurannya (kalau aku pikir Menara Babel hancur akibat ketimpangan dan ketidakseimbangan yang sangat besar antara tinggi menara yang terlalu tinggi dengan dalamnya pondasi menara yang terlalu dangkal). Sementara di Titanic sendiri, kemegahan dan kilauan emas serta berlian pada kapal yang katanya tidak dapat tenggelam, hancur dan larut dalam dinginnya laut akibat tubrukan es (menurut info yang aku dapat, Titanic tenggelam bukan hanya tubrukan es, tapi juga kecacatan produksi yang fatal, terutama pada bagian paku dan lempengan baja). Tuhan menghancurkan apa yang disombongkan melalui apa yang menjadi titik terlemahnya, membuat manusia mestinya sadar bahwa tidak ada di dunia, bahkan alam semesta ini yang dapat menandingi Tuhan.

Kemartiran para pelayan Tuhan

Tadi aku melihat situs Indonesian Papist yang menceritakan tentang kemartiran 3 imam Katolik yang terus berada di atas kapal untuk menerimakan Sakramen Tobat dan memberikan pelayanan pada para penumpang yang, rasanya tentu sudah tahu bahwa mereka akan meninggal di kapal itu. Dari hasil sermon/kesaksian para korban yang melihat, bahkan mengenal romo-romo tersebut, mereka terus berada di atas kapal selagi kapal tenggelam, bahkan menolak menerima kursi-kursi yang disediakan pada sekoci. Mereka malah tak segan menawarkan kursi mereka pada penumpang lainnya, terutama para wanita dan anak-anak. Sungguh kalau boleh aku pikir, ini adalah aksi pelayan Tuhan yang heroik, rela mengorbankan nyawanya demi orang lain. Selengkapnya baca di http://indonesian-papist.blogspot.com/2012/04/kisah-para-imam-katolik-di-kapal.html

Titanic: Kesempurnaan yang Penuh Cacat Cela

Betapa banyak orang yang ingin mencoba naik kapal ini. Aku yakin hal itu. Dengan segala promosi yang gencar dilakukan, mengatakan bahwa Titanic adalah kapal terbaik sepanjang masa, yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas terbaik dan elegan, menjadikannya primadona di Inggris waktu itu. Mungkin hal itulah yang menyebabkan pihak manajemen kapal, White Star Line, mengurangi jumlah sekoci hingga hanya berjumlah 20 buah saja, dengan alasan bahwa sekoci mengurangi keindahan kapal. Apakah ini sebuah alasan yang bisa diterima? Aku mau bilang, TIDAK. Sepertinya mereka lebih menonjolkan keestetikaan kapal ketimbang sistem keamanan dan keselamatannya. Yang lebih tololnya lagi, begitu banyak penumpang yang ingin mencoba menaiki kapal ini. Promosi tentang kenyamanan dan keindahan kapal ini seperti hendak mengaburkan sisi keamanan kapal ini sendiri. Pada akhirnya dengan tenggelamnya kapal ini menyadarkan semua orang bahwa apa yang dibuat manusia pada akhirnya akan hancur pula.

Aku pernah menonton sebuah acara di televisi, mungkin National Geographic, yang menyelidiki tentang alasan tenggelamnya kapal Titanic yang dikatakan begitu megah dan dibangun dengan bahan-bahan berkualitas kakap. Pada akhirnya diketahui bahwa material yang digunakan, sangatlah jauh, jauh, dari layak. Dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi yang melanda White Star Line, dan sikap untuk berhemat, menyebabkan mereka membeli material yang kualitasnya tidak dapat terjamin. Hal itulah yang menyebabkan Titanic begitu rapuh dan tenggelam “hanya” menubruk gunung es. Memprihatinkan memang.

Akhirnya, dengan segala peristiwa yang ada, kita hanya dapat mengambil hikmah untuk selalu bersikap rendah hati dan menerima apa yang ada dengan hati bersyukur, terlebih selalu berserah diri pada Tuhan, bukan menantangnya seperti peristiwa di atas. Semoga kejadian yang sama tidak terulang kembali di masa mendatang. Marilah kita doakan mereka yang telah menjadi korban kebiadaban kapal ini. Semoga jiwa mereka tidak ikut terseret dalam dosa kapal ini. Amin.

 

R.M.T.B.D.J

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: