Aku dan Titanic (Kesaksian Salah Seorang Penumpang Titanic Yang Selamat, vers. 1)

Namaku Aloysio Bark. Banyak orang menganggapku istimewa. Padahal aku bukan artis, bukan bintang fim, tetapi seluruh orang mengenalku. Kini aku tinggal di New York, Amerika. Kebanyakan waktu luangku aku gunakan untuk duduk di kursi goyang yang ada di serambi rumah. Umurku kini 106 tahun. Jari kelingkingku sudah tidak sempurna lagi. Kakiku telah lumpuh. Penyakit jantung kadang kambuh. Padahal sekarang aku sudah tak punya keluarga lagi. Dua anakku telah sukses bekerja di Whasington dan rencananya bulan Agusus nanti, mereka akan pulang. Istriku sudah lama meninggal 30 tahun yang lalu. Kini aku sendiri di rumah. Tetapi berkat para tetanggaku yang baik hati, aku dirawatnya dengan baik. Kadang mereka ke rumahku dengan membawa makanan. Pernah suatu saat pada saat ulang tahunku, mereka menghadiahkanku kursi roda canggih. Tetapi, pasti kalian heran mengapa aku begitu populer di lingkunganku ? Ini karena hanya aku satu-satunya yang menjadi saksi hidup tenggelamnya sebuah kapal mewah “Titanic”.

Berawal pada tanggal 13 April 1912. Pada waktu itu, aku berada di Inggris. Rencananya aku ingin berkunjung ke rumah nenekku yang ada di New York. Pada saat itu, aku melihat sebuah kapal yang mewah, besar, dan besar sekali, dengan 4 cerobong asap dan sekoci-Nya. Sepertinya aku menganggap ini adalah hari keberuntunganku. Ketika aku masuk, aku sangat kagum. Hampir pingsan rasanya aku. Ruang pesta-Nya bagaikan istana. Lalu ketika aku masuk kamar, rasanya seperti menginap di hotel berbintang lima. Lalu aku melihat ke luar. Pemandangan pelabuhan sangat indah. Lalu aku melihat arlojiku. Pk. 06.55. Tinggal 5 menit lagi kapal berangkat. Akhirnya, kapal mewh bak istana ini berangkat juga. Senag rasanya hatiku. Ketika sudah jauh dari Inggris, Dalam hati aku mengucapkan kata perpisahan.

Malampun tiba, saatnya makan malam. Ternyata ruang makannya tak kalah menarik dari ruang pesta. Setelah usai makan malam, aku menuju ruang pesta. Setelah puas, aku langsung pergi menuju kamarku. Untuk mendengarkan radio tentunya. Setelah puas, aku langsung tidur. Hari yang menyenangkan diakhiri dengan tidur yang menyenagkan.

Esoknya, aku pergi untuk melihat cerobong asap lebih dekat lagi. Aku juga membawa peralatan lukis. Untuk melukis tentunya. Aku telah melukis berbagai macam kejadian menarik. Seperti orang yang sedang melihat pemandangan laut yang luas nan indah. Lalu bagian dek kapal. Lalu ruang pesta beserta jamnya. Kamarku juga. Dan akhirnya, terkumpul 10 lukisan. Bisa kubuat sebagai kenang-kenangan untuk nenekku.

Malamnya, aku tak tahu jam berapa karena arlojiku hilang pada saat di ruang makan tadi. Dengan santainya, aku memandangi lautan yang indah. Mungkin sekitar 3 menitan aku tertidur di kursi dan aku terbangun karena mendadak cuaca menjadi sanagt dingin. Ketika aku akan kembali berbaring, tiba-tiba sebuah goncangan hebat terasa di kapal, bahkan seperti bukan gempa bumi, tapi tertabrak sesuatu. Dugaanku benar, ketika aku melihat sebuah gunung es yang menurutku sangat besar muncul. Lalu sebagian serpihannya roboh dan membasahi tempatku berbaring. Segera aku sadar bahwa aku harus meninggalkan tempat ini. Segera aku menuju kamarku untuk mengambil peralatan lukisan dan lukisanku yang ada di dalam tas kecil berwarna hitam. Lalu aku pergi menuju ruang pesta. Mungkin ada pengumuman. Ternyata tidak ada. Lalu seorang pegawai kapal menyodohi aku pelampung. Aku pun memakainya, lalu memegang tasku untuk menuju ke atas. Lalu para awak kapal memberitahukan bahwa yang masuk sekoci hanya perempuan dan anak-anak. Lalu aku berkata kepada salah satu awak untuk ikut juga. Tetapi awak kapal itu melarangku. Aku berusaha memohon dengan segala cara, tetapi awak kapal itu tetap melarang. Akhirnya aku berkata bahwa nenekku menungguku denagn penuh pengharapan. Bila aku mati, maka nenekku akan ikut mati. Apakah kau tidak kasihan padanya ? Begitulah kataku. Akhirnya awak itu mengijinkan.

Mungkin sekitar 55 menit dan aku mendengar teriakan dari kejahuan. Perlu kalian tahu, aku yang disuruh mengemudikan sekoci itu, dan aku sekarang menghentikannya. Aku ingin agar orang-orang tahu tentang kapal itu. Lalu tiba-tiba kapal miring(kepala kapal masuk air, sedangkan bagian belakang kapal naik ke atas, seperti jugkat jungkit). Lalu tiba-tiba seluruh lampu di kapal itu mati, dan aku mendengar seperti suara kayu patah. Ternyata kapal itu patah menjadi dua. Lalu perlahan-lahan, kapal itu mulai tenggelam dengan bagian depannya dulu. Lalu kapal itu akhirnya tenggelam. Ketika peristiwa itu selesai, akupun mendayung sekoci, tak tahu ke mana tujuanku.

Lalu ketika matahari mulai terbit, terlihatlah sebuah kapal. Ternyata itu kapal penyelamat. Kamipun nyaman di sana. Sekian ceritaku. Lukisan beserta peralatan lukisku juga tasku ada di sini. Rumahku sekaligus rumah nenekku.

 

R.M.T.B.D.J

Nb: Cerita ini aku tulis, yaa mungkin 5-6 tahun yang lalu, jadi maklum kalau tata bahasanya sedikit kacau. Aku sengaja tidak mengubah 1 katapun karena 1 hal, malas. Wkwkwkwk. Bagi yang berpikir ini adalah kisah nyata, aku minta maaf, this is just an fiction. ^^v

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: