Michael Jackson, Sang Legenda dari Para Legenda (Resensi Buku)

 

  1. Judul Buku            : Michael Jackson The Legend of A Superstar
  2. Pengarang             : Teguh Wangsa Gandhi H. W.
  3. Penerbit                 : PT Global Overseas, Jakarta
  4. Tahun terbit           : 2009
  5. Jumlah halaman     : 172 halaman
  6. Harga buku           : Rp 28.000,00

Bagi penggemar musik pop, terutama musik pop era 80-an, pasti tidak akan asing dengan nama Michael Jackson. Ya, Michael Jackson menjadi pujaan bak dewa di era musik tahun 80-an hingga awal tahun 90-an. Karya-karyanya selalu menggugah dan menggetarkan hati banyak orang yang mendengarnya, seperti lagu Thriller, yang disebut-sebut sebagai lagu terlaris sepanjang masa dengan penjualan album hingga lebih 100 juta buah. Itu belum termasuk karya-karyanya yang lain, termasuk tarian khas Michael Jackson, yaitu moonwalk. Itu membuatnya sebagai musisi paling berpengaruh sepanjang abad 20 hingga ia menyebut dirinya sebagai “King of Pop”. Itu sesuai saja, sebab popularitas Michael Jackson pada waktu itu benar-benar jauh melebihi para legendaris musik seperti Elvis Preasley dan John Lennon, sehingga Michael Jackson menjadi Legenda dari para Legenda saat ini.  Namun ironis, hanya beberapa tahun sesudahnya, popularitasnya hancur akibat terseret kasus pelecehan seksual dan pedofilia. Belum lagi pernikahannya yang hancur, serta kebangkrutan pada akhir tahun-tahun hidupnya, yang membuat dirinya menyerah pada obat-obatan, sampai kematiannya yang penuh dengan kontrovesi pada 25 Juni 2009 di Los Angeles, AS.

Itulah yang disampaikan Teguh Wangsa Gandhi H. W. dalam bukunya yang berjudul Michael Jackson The Legend of A Superstar. Buku yang diterbitkan PT Global Overseas, Jakarta tersebut terdiri atas 14 bab. Didahului dengan pengantar yang menunjukkan bahwa kehidupan Michael Jackson merupakan pelajaran berharga bagi siapapun, tidak hanya bagi dunia musik saja, bahwa “Betapa meski setiap hidup selalu dialami dengan rasa senang, akan tetapi tidak seharusnya perjalanan hidup dialami sebagai perburuan akan kesenangan semata”(halaman 6).

Empat belas bab itu diawali dengan pembahasan mengenai kronologi kematian Sang Raja Pop itu sendiri, kemudian dibahas mengenai kehidupan pribadinya dari karir-karirnya, sampai misteri kematian Michael Jackson yang diduga terjadi akibat obat-obat penenang yang dia minum beberapa saat sebelum kematiannya. Lalu juga pembahasan mengenai reaksi para penggemarnya ketika mengetahui Michael Jackson telah tiada, juga penderitaannya semasa kecil, termasuk operasi plastik yang pernah ia lakukan. Perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Michael Jackson juga dibahas dalam buku ini, juga mengenai kekayaannya, dan kontrovesi bahwa dirinya menjadi mualaf. Buku ini diakhiri dengan kesaksian dan kenangan para sahabat-sahabatnya tentang Michael. Buku ini juga disertai lampiran mengenai foto-foto Michael mulai dari kecil hingga beberapa saat sebelum kematiannya. Juga disertai lampiran beberapa lirik lagu-lagunya yang terkenal seperti Beat It dan Man in The Mirror.

Apabila dibandingkan dengan buku-buku lain yang sama-sama menjelaskan Michael Jackson, buku ini dinilai cukup lengkap karena menyinggung hampir sebagian sisi kehidupan dari seorang Michael Jackson. Apalagi, di dalam buku ini juga disertai lampiran-lampiran yang memuat foto dan lirik lagu Michael Jackson yang pastilah sia-sia bila dilewatkan begitu saja bagi para pembaca. Bahasanya pun segar dan mudah dipahami. Hanya saja, karena banyak hal yang nampaknya ingin disampaikan penulis, ada kesan buku ini sangat singkat hanya pada permukaan kehidupan Michael, tidak menyentuh sampai kehidupannya secara mendalam.

Mengutip perkataan Teguh Wangsa Gandhi H. W. bahwa “Betapa meski setiap hidup selalu dialami dengan rasa senang, akan tetapi tidak seharusnya perjalanan hidup dialami sebagai perburuan akan kesenangan semata”, kita jadi menyadari bahwa dalam hidup ini, kesuksesan tidak berarti kebahagiaan, sama seperti yang dialami Michael Jackson sendiri. Meskipun dirinya sukses, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan dan selalu kehilangan jati dirinya. Hal tersebut yang nampaknya menyebabkan Michael sampai harus operasi kulit dan menderita akibat ketergantungan obat-obatan sepanjang jalan hidupnya, hingga akhirnya membunuhnya. Buku ini sangat cocok untuk generasi muda yang sedang mencari jati diri.

 

R.M.T.B.D.J

Nb: Resensi ini dibuat sekitar 2 tahun yang lalu sebagai tugas resensi Bahasa Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: