Reformasi “Abal-Abal” ala Indonesia

21 Mei 1998 ….

Aku masih berusia 3 tahun waktu itu. Masih polos dan manis, masih terpaku akan kenyamanan dan kedamaian dunia anak-anak yang aku alami.

 

Tanpa aku sadari, di tempat lain, di waktu yang sama, sebuah peristiwa monumental terjadi atas bangsa ini. Pak Harto bersama rezim “Orde Baru”nya dipaksa lengser setelah 31 tahun lebih berkuasa atas bumi pertiwi. Disaksikan oleh para pejabat negara yang hadir di Istana Negara waktu itu, tampuk kekuasaan seolah-olah dipindah tangankankan dengan mudahnya begitu sang presiden menyatakan “mundur dari jabatannya”. Pak Habibie, seorang senior dan ahli teknik, otak dibalik pesawat kebanggaan Indonesia “Gatotkaca”, mendapatkan “hadiah” istimewa dari Pak Harto, yaitu jabatan presiden, terkait bahwa Pak Habibie saat itu menjabat sebagai wakil presiden. Mungkin sebuah aturan yang sengaja dibuat oleh penguasa waktu itu, tampuk kekuasaan dari presiden pindah ke wakil presiden.

21 Mei 1998 pukul 10.00 WIB. Serentak jutaan mata di luar Istana bersorak sorai menyambut peristiwa tersebut sebagai akhir dari sebuah rezim. Cita-cita mereka untuk melepaskan diri dari jeratan demokrasi semu dan keterkekangan HAM akhirnya menjadi kenyataan. Mungkin yang tak mereka sadari, bahwa apa yang dilakukan pemerintah semata-mata hanya ingin menyelematkan bangsa Indonesia dari kehancuran yang lebih fatal. Kerusuhan di berbagai kota di seluruh Indonesia, ditambah penjarahan dan pembakaran gedung-gedung mall dan perkantoran yang sampai menewaskan ratusan orang. Kemudian perusahaan-perusahaan yang tercekik akibat krisis ekonomi 1997 sehingga harus gulung tikar dan menambah jumlah pengangguran dan gelandangan. Parahnya lagi juga ditambah ketidakmampuan dan kegagapan polisi menghadapi arus demonstrasi sehingga peluru karet dan timah panas menjadi jalan satu-satunya menyelesaikan revolusi. Pada akhirnya, penguasa harus mengakui, bahwa rakyat sudah menang. Dirinya bersama antek-anteknya harus pergi dari tahta kekuasaan secepat mungkin ………

Mujur bahwa kotaku tercinta tidak mau mengikuti arus hancur-hancuran massal seperti kota lain. Biarpun reformasi bergulir, aktivitas kota berlangsung seperti biasa tanpa ada halangan sekalipun. Itulah yang diceritakan orang tuaku. Aku tidak begitu mengingat banyak hal soal apa yang terjadi di hari itu, hanya ingat bahwa selama beberapa hari aku tidak berani menonton TV karena acara-acara televisi begitu penuh dengan berita kebakaran dan pengrusakan massal, lengkap dengan mayat-mayat manusia yang sudah gosong tak berbentuk.

 

14 tahun berlalu sejak reformasi itu bergulir ……..

Dengan umur dan pemikiran yang lebih dewasa, kini aku mulai merenung dan merefleksikan kejadian tersebut dengan kacamata seorang remaja. Koran yang aku baca barusan semakin meneguhkan pemikiranku akan betapa sia-sianya reformasi yang dulu pernah tergulir. Praktik KKN tetap saja merajalela bahkan hingga di kalangan bawah pun hal itu terjadi. Ironis, mereka yang melakukan KKN mayoritas adalah aktivis reformasi 1998, yang bersama dengan gelombang massa waktu itu menentang perbuatan haram tersebut.Biarpun kebebasan dan demokrasi sudah diraih, tapi bangsa ini tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana menggunakannya. Akibatnya, ya, kebablasan.

Atas nama kebebasan dan demokrasi, ormas-ormas berdiri dengan alasan menegakkan ajaran agama yang benar, walau berbuntut pada kekacauan dan kebencian semata di kalangan masyarakat.

Atas nama kebebasan dan demokrasi pula, pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin dilaksanakan, walau pada akhirnya keluhan dan hujatan kecurangan terus bergaung.

Seperti atas nama kebebasan dan demokrasi, reformasi itu dijalankan. Namun, apa yang didapat bangsa setelah 14 tahun berlalu? Hampir tak ada yang berubah.

Bahkan teman-temanku berniat meninggalkan Indonesia sehabis lulus sekolah dengan alasan bahwa negara ini tidak pernah memfasilitasi pendidikan yang berkualitas. Biaya yang melambung tinggi, pada akhirnya lulus menjadi buruhnya orang dengan gaji asal-asalan. Bukti bahwa reformasi tidak pernah menjamin kesejahteraan calon pakar-pakar bangsa.

 

Kini tak dapat disangkal, bahwa reformasi ini hanyalah kemunafikan semata. Tak ada yang bisa didapat, karena tidak ada yang mau berusaha mewujudkan apa yang dicita-citakan reformasi. Semua sibuk dengan pundi masing-masing, meninggalkan rakyat yang berteriak-teriak minta makan dan hidup yang layak. Jadi, apakah Indonesia akan berlanjut seperti ini sampai kiamat nanti?

Atau, akan ada “reformasi” selanjutnya?

 

R.M.T.B.D.J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: