Drama Proklamasi Kemerdekaan

Panggung menggambarkan kondisi rumah Ir. Soekarno yang cukup tegang. Waktu menunjukkan pk. 22.00, tanggal 15 Agustus 1945. Ketika para penghuninya yang terdiri dari Ir. Soekarno, Fatmawati, isterinya, Sayuti Melik, S.K. Trimurti, sekretaris Ir. Soekarno yang juga merupakan suami Sayuti Melik, dan anak Bung Karno, Guntur Soekarnoputera sedang sibuk sendiri dalam kegiatannya, tiba-tiba ……..

Pemuda 1 : “Assalamualaikum!” (pintu digedor-gedor berkali-kali) “Assalamualaikum!”
SK Trimurti : “Ya, siapa?”
Pemuda 1 : “Cepat bukakan pintu! Kami mau bicara dengan Bung Karno secepatnya!
SK Trimurti : “Baik! Baik!” (membukakan pintu)
SK Trimurti : “Maaf, ini siapa?”
Pemuda 3 : “Sudahlah, itu nanti saja. Sekarang mana Bung Karno? Kami mau bicara dengannya!”
SK Trimurti : “Baik, baik. Saya panggilkan beliau.”

S.K. Trimurti pun segera menemui Ir. Soekarno yang saat itu sedang merencanakan perincian strategi untuk Proklamasi dengan Sayuti Melik.

SK Trimurti : “Tuan, ada tamu di depan?”
Soekarno : “Siapa?”
SK Trimurti : “Saya juga tidak tahu. Sepertinya dari gerombolan pemuda.”
Ir. Soekarno : “ Pemuda? Mau apa mereka ke sini?”

Ir. Soekarno pun segera pergi ke beranda rumahnya, di mana gerombolan pemuda sudah menunggunya. Pemimpin mereka, Chaerul Saleh, segera menemui Ir. Soekarno.

Ir. Soekarno : “Mau apa kalian ke sini ?”
Chaerul Saleh : “Sekarang, Bung! Sekarang! Malam ini juga kita kobarkan   revolusi yang meluas malam ini juga. Kita mempunyai pasukan PETA, pasukan pemuda, Barisan Pelopor, bahkan Heiho pun sudah siap. Dengan satu isyarat Bung Karno, seluruh Jakarta akan terbakar, Ribuan pasukan sudah siap sedia akan mengepung kota. Kita akan menjungkir  balikkan seluruh tentara Jepang yang ada!”
Soekarno : (Ir. Soekarno lalu duduk di kursi yang berada di serambi dan mulai berbicara dengan perlahan) “Seorang pemimpin suatu negeri mempunyai      seribu mata dan seribu telinga.” (Diam, lalu melanjutkan lagi) “Saya tahu bahwa engkau mengadakan pembicaraan-pembicaraan rahasia selama ini. Saya tahu bahwa engkau mempunyai sandi yang dapat menjalar dengan cepat. Saya dapat melihat sendiri, bahwa engkau semua bersikap misterius, bahwa engkau mempunyai tiga-empat nama samaran dan bahwa keputusan-keputusan tingkat tinggi mengenai tanah air kita telah engkau ambil dalam taman-taman di belakang kebun binatang., di gang-gang dari labolatorium kesehatan sambil naik sepeda. Akan tetapi, kalian tidak kompak! Tidak ada persatuan di antara kalian semua! Ada golongan kiri, ada golongan Syahrir, golongan intelektual, semua ini membikin keputusan sendiri-sendiri terlepas dari yang lain. Kurir-kurirmu dengan giat bersepeda berkeliling ke tempat-tempat tertentu menyampaikan instruksi kilat. Tapi intruksi dari siapa? Kesukaranmu adalah engkau tidak menyediakan waktu untuk mendapatkan pemecahannya menurut  pertimbangan akal.”
Sukarni : “Kita harus segara merebut kekuasaan di saat Jepang  sedang dalam keadaan kebingungan. Kita lakukan di saat  Jepang tidak bisa mengambil keputusan. Sebelum mereka mempunyai rencana-rencana konkret, kita harus bertindak di luar dugaannya.”
Soekarno : “Ya, ya, baiklah! Engkau mengatakan adanya kekuatan pemuda. Baiklah, coba buktikan kepada saya. Saya tidak yakin pada kekuatanmu.”
Semua pemuda : “Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”
Soekarno : “Ya, saya tahu!”(dengan kesal) “Akan tetapi kekuatan yang segelintir  itu tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total dari tentara Jepang. Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti dari  kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana pandanganmu tentang cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, kita akan tegak di atas kekuatan sendiri!” (Diam, kondisi tenang, lalu kembali melanjutkan) “Taruhlah, para pemuda dapat mengobarkan revolusi di Jakarta. Baik. Tapi bagaimana dengan tempat-tempat lain yang jauh dari sini ? ………Hahhh ! Engkau semua tidak tahu ! Bukankah begitu ? Bahkan tak seorang pun mempunyai pikiran sampai ke situ. Benarkah taksiran saya ? Nah, coba dengar apa yang saya kerjakan. Saya mencakupi setiap kemungkinan, jadi tidak akan terjadi akibat yang mengerikan setelah itu seperti terjadi dalam pemberontakan yang tidak diperhitungkan semasak-masaknya dan tidak tepat pada waktunya ! Pemberontakan terhadap Imperialisme Belanda bukanlah suatu coup d’etat. Pekerjaan ini tidak sama dengan melemparkan seorang kepala negara keluar istananya. Pekerjaan ini lebih berat dari pada itu. Indonesia meliputi daerah yang jauh lebih besar daripada lingkungan istana saja atau kota Jakarta saja. Tidakkah engkau menyadari semua ini? Apakah kalian mengira bahwa saya tidak bersiap samasekali dengan rencana sebelum pemberitahuanmu ini tentang bagaimana yang harus kita lakukan? Akan tetapi taktikku lain. Saya mendahulukan pertama proklamasi yang dibacakan secara serentak di tiap daerah. Kedua, suatu pidato yang menggeledek dan membangkitkan api untuk berontak dan kemudian akhirnya baru mengibarkan revolusi. Tapi sekarang ini, tak seorang pun yang tahu, tak seorang pun yang siap , atau tak seorang pun yang mendapat perintah.” (Diam, memperhatikan para pemuda yang ada di sekitarnya, kemudian berbicara lagi) “Aku ini sudah lebih lama memeras keringat untuk kemerdekaan dari pada engkau, anak-anak. Jadi, jangan kira engkau bisa menekanku.”

Tiba-tiba dengan nada mengejek, salah seorang pemuda berkata dengan suara rendah.

Pemuda 2 : “Barangkali Bung Besar kita takut. Barangkali dia melihat hantu dalam gelap. Barangkali juga dia menunggu-nunggu perintah dari Tenno Heika.”

Wikana, seorang dari para pemuda yang lain mengikuti ejekan teman-temannya dengan gerakan mendadak dan menggertak Ir. Soekarno.

Wikana : “Kita tidak ingin mengancammu, Bung!”(sambil berjalan ke arah Bung Karno dengan memegang sebilah pisau) “Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung! Kalau Bung tidak memulai malam ini, maka ……………..”
Soekarno : “Maka apa?!” (berteriak sambil melompat dari kursi dengan kemarahan menyala-nyala) Jangan aku diancam! Jangan aku diperintah! Engkau harus mengerjakan apa yang kuingini! Pantanganku untuk dipaksa menurut kemauanmu!”

Ir. Soekarno melompat ke tengah-tengah pemuda itu. Ia melipatkan lehernya dan menyerahkan kuduknya disertai gerakan seperti mau dipenggal.

Soekarno : “Ini! (sambil menunjukkan kuduknya dan berkata dengan nada mengejek) “Ini kudukku! Boleh potong …….. Hayo, boleh penggal kepalaku ……engkau bisa membunuhku …….. tapi jangan kira aku bisa dipaksa untuk mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena hendak menjalankan sesuatu menurut kemauanmu!”

Ir. Soekarno kembali duduk. Ia melihat para pemuda itu bingung, takur, dan menundukkan kepala mereka karena melihat ekspresi Ir. Soekarno barusan. Dengan suara rendah, ia kembali memulai pembicaraan.

Ir. Soekarno : “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”
Sukarni : “Mengapa tanggal 17 ? Mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16 ?”
Soekarno : “Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan secara pertimbangan akal sehat mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi aku merasakan di dalam kalbuku bahwa waktu dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci. Pertama-tama, kita sedang berada di dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Bukankah begitu?”
Sukarni : “Ya.”
Soekarno : “Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Bukan begitu?”
Sukarni : “Ya”
Soekarno : “Hari Jumat ini adalah Jumat Legi. Jumat yang yang berbahagia. Jumat suci. Dan hari Jumat adalah tanggal 17. Al-Quran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 raka’at dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 raka’at, mengapa tidak 19 atau 20 saja? Oleh karena itu kesucian angka 17 bukan buatan manusia. Pada waktu saya mendengar berita penyerahan Jepang, saya berpikir bahwa kita harus segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun saya menyadari, adalah kemauan Tuhan peristiwa ini akan jatuh di harinya yang keramat. Proklamasi akan diumumkan tanggal 17. Revolusi menyusul setelah itu.”(bangkit dari kursi dan berkata dengan cukup lantang) “Mengapa semuanya dihadapkan kepada saya? Saya menjadi pusat perhatiandaripada taufan yang hebat! Setiap orang datang kepada saya, setiap orang mengoyak-oyak saya! Tidak seorang pun datang kepada Hatta. Tidak kepada Syahrir,  tidak kepadamu sendiri. Akan tetapi kepada saya. Saya menghadapi pemuda di satu pihak, para pemimpin yang tua di pihak lain, pemimpin agama di lain pihak lagi. Hatta menarik saya ke satu jurusan. Syahrir menarik saya ke jurusan lain lagi. Tapi saya harus mengikuti hati nurani saya sendiri. Karena hanya itulah suara yang tenang dan tidak dikuasai oleh perasaan semata-mata. Setiap orang pandai dan murah benar dalam memberikan nasehat, akan tetapi jika datang saatnya untuk bertindak engkau dan menarik diri dari tanggung jawab dan menudingkan jarimu kepada saya. Tentu, Bung yang akan melakukannya, kata orang. Tidak seorang pun bisa memimpin kami, Hei, engkau, Soekarno, engkau satu-satunya orang yang akan mempertaruhkan lehermu pada tiang gantungan, kata orang. Nah, kalau engkau sendiri tidak dapat melakukannya dan engkau tidak melihat pemimpin lain yang sanggup dan kalau sayalah satu-satunya orang yang akan melakukannya, Yah, saya akan kerjakan, tapi saya akan kerjakan dengan caraku.”

Ternyata, meskipun Ir. Soekarno telah menjelaskan panjang lebar, para pemuda seakan belum puas. Mereka pun mengakhiri kunjungan mereka dengan sebuah ancaman.

Pemuda 1 : “Baiklah, Bung. Besok situasi mungin semakin bertambah buruk. Pengikut-pengikut kita sudah gelisah. Kalau Bung Karno tidak bertindak seperti yang telah kami janjikan, mereka akan menjadi galak. Dan Bung Karno yang harus memikul akibatnya! Sekarang kami harus kembali untuk memberitahukan informasi ini, dan ingat Bung apa yang sudah kami katakan!”

Waktu pun sudah menunjukkan pk. 03.00. Ir. Soekarno masih tidak bisa tidur meskipun semuanya sudah tertidur lelap. Tiba-tiba, terdengarlah suara mendesir dari balik semak-semak dan segerombolan pemuda berpakaian seragam masuk dengan diam-diam. Salah satunya, Sukarni. Ia membawa pistol dan sebilah pisau panjang.

Sukarni : (sambil menjabut pisaunya) “Berpakaianlah, Bung …… Sudah tiba saatnya.”
Soekarno : “Ya!”(marah)”Sudah tiba saatnya untuk dibunuh! Jika aku yang mempimpin pemberontakanmu ini dan gagal, aku kehilangan kepala, engkaupun juga ……. begitupun yang lain-lain. Anak buah mati, ada gantinya. Tapi pemimpin? Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya yang tepat?”
Sukarni : “Oleh karena itu kami akan melarikan Bung keluar kota di tengah malam buta ini. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman.”
Soekarno : “Aaaaahhh…..!!”(menghembuskan nafas) “Tindakanmu salah! Salah samasekali! Tidakkah engkau dapat mengerti bahwa permainanmu ini akan menemui kegagalan? Aku tahu kecintaanmu terhadap tanah air. Kuhargai semangatmu yang berkobar-kobar itu. Tapi hanya itu yang kaumiliki. Engkau harus bijaksana dan bekerja dengan kepala dingin.”
Sukarni : “Maafkan saya, Bung. Tetapi ini sudah keputusan kami. Sekarang para pemuda sudah menunggu anda. Anda harus cepat!”

Saat itulah Ir. Soekarno menetahui apa yang diperbuat para pemuda sepeninggal mereka dari kediamannya. Mereka berdiskusi dan memutuskan bahwa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Ir. Soekarno pun menemui isterinya yang saat itu sedang berada di dalam kamarnya dan sedang menggendong Guntur yang saat itu amsih bayi.

Soekarno : “Isteriku. Berpakaianlah dengan cepat. Isi juga tas untuk keperluan kita. Kita harus pergi dari sini.”
Fatmawati : “Baik. Tunggulah sebentar!”

Fatmawati pun segera menurut. Tanpa bertanya apa-apa, dan dengan tenang, ia melakukan seperti yang dikatakan suaminya. Setelah selesai, mereka pun segera keluar menemui para pemuda itu.”

Pemuda 2 : “Jepang akan menembak orang preman kalau kelihatan naik.”(sambil memberikan seragam tentara) “pakailah ini!”
Soekarno : “Apa ini?”
Pemuda 2 : “Ini baju tentara PETA. Satu-satunya baju yang aman bagi keselamatan anda.”
Soekarno : “Tapi, bagaimana dengan Ibu Fatmawati?”
Pemuda 2 : “Tidak apa-apa. Anggota PETA biasa berjalan bersama keluarganya.”

Ir. Soekarno pun segera mengenakan pakaian itu. Pakaian itu tampak kecil dan tidak pas untuk tubuh Ir. Soekarno. Sementara itu, 2 buah kendaraan berdiri di pinggir jalan. Dalam kendaraan depan, duduk tawanan lain, yaitu Drs. Moh. Hatta  dengan wajah yang jemu. Dalam kendaraan kedua lebih banyak tentara dan kaleng-kaleng makanan, cukup untuk beberapa hari. Kemudian mereka pun berangkat ke lokasi yang bernama Rengasdengklok. Sesampainya di sana, mereka diturunkan di persawahan. Mereka menuju sebuah rumah yang tampak tidak sebegitu menarik dan banyak babi di pekarangannya.

Pemuda 2 : “Sudah sampai, Bung!”
Soekarno : “Ini rumahnya? Punya siapa ini?”
Pemuda 2 : “Ini kepunyaan seorang petani Tionghoa.”

Lalu salah seorang letnan masuk ke rumah itu. Dalam beberapa menit pemiliknya beserta keluarganya yang terdiri dari 7 orang, termasuk baji-baji, keluar dari rumah itu beserta membawa alat tidurnya.

Soekarno : “Ke mana mereka pergi ?”
Pemuda 2 : “Ke rumah anaknya yang paling tua, tidak jauh dari sini. Pagi tadi saya datangi anaknya yang kedua yang saya kenal. Saya berkata kalau tamu-tamu penting akan datang dari Jakarta. Oleh karena itu kami minta pinjam rumahnya selama 3 sampai 4 hari. Saya tidak menyebut nama Bung Karno”

Ir. Soekarno masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat tidak ada sesuatu yang istimewa di rumah yang buruk itu.

Soekarno : “Mengapa justru rumah ini?”
Pemuda 2 : “Inilah satu-satunya rumah dekat asrama yang cukup besar untuk menempatkan rombongan Bung Karno. Dan…..(sambil menunjuk ke arah luar di mana terdapat selusin lebih pemuda bersenjatakan lengkap sedang berpatroli sambil terus menetralisir lokasi itu.)”

Ir. Soekarno, Fatmawati beserta Guntur, serta Drs. Moh. Hatta masuk ke dalam rumah itu. Sambil beristirahat, mereka menunggu apakah benar ada pemberontakan yang terjadi di Jakarta.

Soekarno : “Aku heran. Mengapa para pemuda selalu bersikap seperti itu? Seperti bermain-main api dalam ruang penuh gas, mereka tidak tahu resiko yang dihadapi dari sikap yang terburu-buru itu.”
Moh. Hatta : “Yang penting sekarang kita harus menjaga sikap kita itu. Sedikit saja kita gegabah, nyawa bangsa taruhannya. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah, bagaimana cara menenangkan para pemuda itu supaya tidak lagi melakukan aksi-aksi konyolnya selama ini.”
Soekarno : “Ini pasti ulah Syahrir!” (kesal) “Dasar pengecut! Pekerjaanya hanya mendengarkan radio gelap. Pasti dari dialah, berita kekalahan Jepang bisa tersebar ke mana-mana.”
Pemuda 1 : “Assalamualaikum.”
Soekarno-Hatta : “Walaikum Salam.
Pemuda 1 : “Bung Karno, ini ada kiriman susu dari Jakarta untuk anak Bung.”
Soekarno : “Oh, terima kasih bayak. Hei, apa sudah ada berita mengenai pemberontakan?”
Pemuda 1 : “Belum. Belum ada berita dari Jakarta.”
Moh. Hatta : “Belum?”
Pemuda 1 : “Ya, dan sepertinya masih akan berlangsung lama. Baiklah, Bung. Saya permisi dulu. Assalamualaikum.”
Soekarno-Hatta : “Wallaikum Salam.”
Moh. Hatta : “Sepertinya mereka tidak jadi melakukan pemberontakan.”
Soekarno : “Atau….mereka memang belum memulai. Sebaiknya kita tunggu saja beritanya dari Jakarta.

Mereka terus menunggu berita dari Jakarta tentang revolusi besar itu. Tetapi, belum ada berita yang muncul. Sampai magrib pun berkumandang. Mereka pun berbuka puasa bersama. Saat itu, datanglah Ahmad Soebarjo dengan mobil tuanya beserta 3 kendaraan yang siap mengantar rombongan pulang.

A. Soebardjo

:

“Assalamualaikum.”
Soekarno

:

“Walaikum salam. Bung Soebardjo, keperluan apa yang membawa Bung ke sini?”
A. Soebardjo

:

“Bung Karno, saya datang untuk menjemput anda kembali ke Jakarta.”
Soekarno : “Apa yang terjadi? Sudah dimulaikah revolusinya?”
A. Soebardjo

:

“Tidak ada apa-apa. Justru karena itulah.”(kesal) “Tidak ada tindakan besar dari pemuda. Tidak satupun yang terjadi. Tidak ada revolusi. Tidak satupun, selain dari setiap orang  ribut bertanya-tanya, ‘Di mana Bung Karno! …… Cari Bung Karno!’ Tidak ada peristiwa apapun yang terjadi. Mungkin tindakan yang tidak disadari dalam menyembunyikan anda, maksudnya hendak mencoba memaksa Bung untuk menjalankan rencana mereka. Tak seorang pun tahu. Saya kira, ini hanya disebabkan oleh ketegangan yang belum pernah kita alami selama ini.”
Soekarno

:

“Bodoh sekali mereka. Mereka hanya menggunakan otot mereka saja tanpa memikirkan selanjutnya. Beginilah yang terjadi! ”

Lalu, mereka semua berkemas-kemas untuk kembali ke Jakarta. Sesampainya di rumah Ir. Soekarno, Fatmawati dan Guntur diturunkan di sana dan langsung masuk rumah, sementara Ir. Soekarno, Drs Moh. Hatta, serta Ahmad Soebardjo, serta beberapa pemuda yang lain , langsung menuju kediaman Laksamana Maeda yang berada di Jl. Imam Bonjol no. 1.

Soekarno : “Laksamana! Laksamana! Kami ingin meminjam rumah anda! Ini sudah saatnya!”
Maeda : “Baiklah. Terserah padamu. Tapi ingat! Aku memberikan jaminan kepadamu serta kepada teman-temanmu itu keamanan hanya selama kau masih di rumah ini. Di luar, aku tidak bertanggung jawab. Ini daerah militer.”
Soekarno : “Terima kasih, Laksamana!”

Mereka pun segera masuk ke dalam rumah itu. Jam 23.30 WIB, Ir. Soekarno dan Drs Moh. Hatta, serta sejumlah anggota PPKI juga beberapa tokoh para pemuda seperti Sukarni, B.M. Diah, dan Soediro berada di dalam ruangan itu.

Soekarno : “Baiklah, saudara-saudara. Kita sekarang berada di sini untuk menyaksikan suatu momentum penting di mana kita sendiri sebagai anak-anak bangsa akan merumuskan proklamasi sebagai hasil jerih payah kita selama 3 abad lebih.”
Anggota PPKI : “Bung Karno, ini ada buku catatan yang saya punya. Saya harap bisa berguna.”
Soekarno : “Terima kasih. Ini sangat berguna sekali.”(sambil memotong selembar kertas dari buku itu). Saudara-saudara, marilah kita mulai.”

Mereka pun mulai merumuskan naskah proklamasi tersebut. Selesainya, Ir. Soekarno segera menemui para pemuda.”

Pemuda 2 : “Bung Karno!”
Soekarno : “Sekarang dengarkanlah naskah proklamasi yang sudah kami buat. Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Wakil-wakil bagsa Indonesia.”
Pemuda 1 : “Bagus Bung! Tapi, siapa yang akan menandatanganinya?”
Soekarno : “Saya pikir akan lebih baik jika naskah ini ditandatangani kita semua yang hadir dalam acara ini.”
Anggota PPKI : “Jangan! Lebih baik anggota PPKI yang menandatanganinya!”
Pemuda 2 : “Apa maksudmu? Kami tidak mau! PPKI buatan Jepang! Kami tidak akan menginginkan ada coretan badan Jepang di naskah proklamasi kami!”
Sukarni : “Hei, Hei…bagaimana kalau Bung Karno sama Bung Hatta saja yang menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia?”
Pemuda : “Baiklah! Kami setuju!”
Moh.Hatta : “Tunggu! Bukankah teks itu kurang sempurna? Saya rasa, beberapa kalimat di situ harus diubah ! Seperti, kata tempoh. Bagaimana jika kita menggantinya dengan kata yang sama tetapi tanpa huruf h?”
Soekarno : “Baiklah.”
Moh. Hatta : “Lalu, mengenai tanggal. Kita ganti dengan kata ‘Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05’?”
Soekarno : “Ya. Juga kita ganti kata-kata ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ dengan ‘Atas nama bangsa Indonesia’ .”
Moh. Hatta : “Baiklah. Sekarang kita harus menuangkannya dalam bentuk ketikan.”
Soekarno : “Baiklah. Sayuti! Bisakah engkau mengetikkan ini untukku! Tentu saja setelah revisi yang aku katakan barusan.”
Sayuti Melik : “Ya, akan saya lakukan.”

Sayuti Melik pun mengetik naskah tersebut. Tak berapa lama, naskah yang dalam bentuk ketikan telah selesai.

Sayuti Melik : “Sudah selesai.”
Soekarno : “Bagus. Terima kasih banyak.”
Sayuti Melik : “Tapi, Bung, bagaimana dengan naskah yang ini?”
Soekarno : “Buanglah ! Kita tidak memerlukannya lagi, bukan?”
Sayuti Melik : “Baiklah, Bung!”

Naskah hasil tulisan tangan Ir. Soekarno pun dibuang ke tempat sampah. Setelah itu, para pemuda pun menghampiri ir. Soekarno.

Pemuda 1 : “Bung, patutlah kita merayakan hari kemenangan kita ini di Lapangan Ikada saja.”
Soekarno : “Lebih baik tidak usah. Saya sarankan rumah saya saja yang dijadikan tempat pembacaan proklamasi. Lapangan Ikada bagi saya terlalu besar, terlebih lagi pasukan Jepang yang masih mengintai aktifitas kita ini. Bagaimana?”
Semua : “Setuju!”
Soekarno : “Baiklah, saudara-saudari. Waktu sudah menjelang pagi. Kita siapkan diri kita untuk peristiwa besar nanti pagi. Selamat malam!”
Semua : “Selamat malam, Bung!”

Mereka pun bubar meninggalkan lokasi menuju rumahnya masing-masing. Saat itulah, B.M. Diah melihat ke tong sampah dan menemukan naskah proklamasi hasil tulisan Ir. Sekarno yang dibuang Sayuti Melik tadi. B.M. Diah pun mengambilnya dan membawanya pulang. Lalu B.M. Diah bersama para pemdua yang lain menyebarkan naskah proklamasi yang sudah diperbanyak sekaligus mengumumkan bahwa jam 10.00 nanti akan diadakan upacara proklamasi kemerdekaan di rumah Ir. Soekarno. Di rumah Ir. Soekarno, beliau sedang menulis beberapa surat perintah terkait tentang kemerdekaan.

Soekarno : “Aduh…..”(Terkulai lemas di tempat tidur) “Sepertinya penyakitku kumat lagi.”
Fatmawati : “Malaria lagi kah?””
Soekarno : “Sepertinya begitu. Oh….badanku lemas sekali…….”
Fatmawati : “Istirahatlah! Jangan terlalu memaksakan diri!”
Soekarno : “Jangan! Aku tidak mau mengecewakan mereka semua. Istriku, bagaimana dengan benderanya?”
Fatmawati : “Sudah kujahit. Merah dan putih bukan?”
Soekarno : “Ya.”
Fatmawati : “Kauyakin tidak akan apa-apa?”
Soekarno : “Sudahlah. Aku akan baik-baik saja. Tapi, di mana Hatta?”
Fatmawati : “Kalau masalah itu, aku tidak tahu.”

Jam hampir menunjukkan pk. 10.00 dan banyak masyarakat sudah memenuhi halaman rumahnya.

Masyarakat : “Bung, nyatakan sekarang! Nyatakan sekarang!”
Pemuda 1 : “Bung, sudah saatnya! Ayo, rakyat sudah menunggu.”
Soekarno : “Tapi di mana Hatta? Aku tidak mau memulai kalau tidak ada Hatta.”
Moh. Hatta : “Maaf, saya terlambat!”
Soekarno : “Baiklah. Ahhh………….”(bangun dari tempat tidurnya) “Lalu, siapa yang akan mengibarkan benderanya?”
Pemuda 2 : “Kalau tidak salah Latief. Dan bambu untuk tiang juga sudah kami siapkan.”
Soekarno : “Baiklah. Ayo, ini saatnya!”

Pk. 10.00 WIB. Ir. Soekarno keluar dari dalam rumah menuju serambi rumahnya, diikuti oleh Drs. Moh. Hatta, lalu Fatmawati, dan tokoh-tokoh pemuda maupun tokoh-tokoh PPKI, juga beberapa pemuda serta golongan tua. Ir. Soekarno memulainya dengan sebuah pidato.

Soekarno : “Saudara-saudara sekalian! Saya telah meminta anda hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun bangsa kita telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beatus-ratus tahun. Gelombang aksi untuk mencapai kemerdekaan kita itu, ada naik san ada pula turunnya, tetapi jiwa kita untuk menuju ke arah cita-cita kemerdekaan tidak pernah terhenti. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Akan tetapi pada hakikatnya tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan kita sendiri. Sekarang tiba saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri dan akan berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Pertemuan berpendapat sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami! Proklamasi. Kami, bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta. Semikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu pun ikatan yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai hari ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka, kekal, dan abadi! Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!”

Seluruh masyarakat yang berada di situ berteriak, “Merdeka !” selama berulang kali. Acara dilanjutkan dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih yang diiringi oleh Lagu Indonesia Raya yang diikuti seluruh peserta secara serentak.

Sumber : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dengan berbagai perubahan dan penambahan oleh penulis naskah (R.M.T.B.D.J)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: