Malam ini 50 Tahun yang Lalu….

Bila kita mengenangkan malam 10 Oktober 1962, ketika Konsili Vatikan II akan dibuka keesokan paginya, dengan hampir 3000 Uskup dari seluruh penjuru dunia, maka kita teringat bahwa pada sore itu, beberapa komunitas Katolik berkumpul secara khusus di Lapangan St. Petrus sambil membawa lilin-lilin dan lampu bernyala, mendoakan kelancaran Konsili. Mgr. Capovilla yang saat itu bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Sri Paus mengenang bahwa tidak ada yang direncanakan untuk dilakukan sore itu dan Sri Paus berkata kepadanya, ‘aku akan menuju ke jendela, aku tidak akan mengatakan apa-apa, aku hanya akan memberikan berkat.” Tetapi sejarah mencatat bahwa pada sore hari itu, Beato Yohanes XXIII memberikan sebuah pidato terkenal yang disebut “Pidato Di Bawah Rembulan“. Apa yang tidak dipersiapkan itu, ternyata muncul dari lubuk hati terdalam Sri Paus dan menjadi salah satu pidatonya yang paling terkenal. Berikut terjemahan bebas Pidato beliau itu.

“Putra-putriku yang terkasih,

Aku mendengar suara kalian! Suaraku hanyalah sebuah suara insan, tetapi suaraku itu merangkum semua suara di seluruh dunia.

Dan sungguh, di sini, seluruh dunia diwakilkan di tempat ini malam ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa bulan datang lebih cepat malam ini, bahwa dari atas sana, bulan mungkin sedang menyaksikan suatu pemandangan yang bahkan Basilika St. Petrus, dengan sejarahnya yang berusia lebih dari empat abad, tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini.

Kita memohon sebuah hari besar untuk perdamaian. Ya, untuk perdamaian! ‘Kemuliaan kepada Tuhan, dan damai di bumi bagi mereka yang berkenan pada-Nya.’ Jika aku bertanya kepadamu, jika aku dapat bertanya kepada setiap dari kalian: darimanakah asalmu? Putra-putri Roma, yang secara khusus diwakilkan di sini, dapat menjawab: ah, kami adalah anak-anakmu yang terdekat, dan engkau adalah Uskup kami. Maka, putra dan putri Roma, ingatlah selalu bahwa kalian mewakili ‘Roma, caput mundi’ (Roma, ibukota dunia) yang melalui rencana Ilahi, demikianlah ia telah disebut sepanjang abad.

Diriku sendiri tidak berarti apa-apa – ini adalah saudaramu yang berbincang denganmu, saudara yang menjadi seorang bapa karena kehendak Ilahi, tetapi kesemuanya: kebapaan dan persaudaraan dan rahmat Ilahi, memberikan penghormatan pada pemandangan malam ini, yang akan selalu terpatri dalam perasaan kita semua, yang kini kita nyatakan di hadapan langit dan bumi: iman, harapan, cinta, cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, semuanya membantu kita melangkah di jalan menuju damai Tuhan yang kudus guna karya yang baik. Maka, marilah kita selalu mencintai satu sama lain, memberikan perhatian kepada satu sama lain dalam perjalanan kita: untuk menyambut siapapun yang mendekati kita, dan menyingkirkan segala kesulitan yang dibawanya.

Ketika kalian pulang ke rumah, carilah anak-anak kalian. Peluklah dan cium anak-anak kalian dan katakanlah pada mereka: ‘Ini adalah peluk dan cium dari Sri Paus.’ Dan ketika kalian melihat mereka meneteskan air mata, berikanlah kata-kata yang indah pada mereka. Berikanlah kepada semua yang menderita kata-kata yang menyenangkan. Katakanlah pada mereka ‘Sri Paus hadir bersama kalian terutama pada saat-saat sedih dan pahit.’ Dan lalu, bersama-sama semoga kita menjadi hidup – baik dengan bernyanyi, dengan bernafas, atau dengan menangis, tetapi selalu penuh percaya pada Kristus, yang membantu kita dan mendengar kita, marilah kita melanjutkan perjalanan kita ini.”

– Sri Paus Yohanes XXIIII, Jendela Istana Apostolik 10 Oktober 1962 –

Maka malam ini, sambil mengenangkan apa yang terjadi di Lapangan St. Petrus 50 tahun yang lalu, dengan semangat yang sama, kita berdoa sehati dan sesuara memohon agar Tahun Iman yang akan kita alami membawa buah-buah berlimpah bagi keselamatan jiwa kita dan kemuliaan Tuhan.

 

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?v=538138102868507

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: