Grazie Santo Padre! =’)

Siapa yang gak kaget dengan keputusan Bapa Suci Benediktus XVI yang ingin “pensiun” di akhir bulan Februari?

11-POPE-LEAVING

Pernyataan Bapa Suci yang tersebar secara luas pada 11 Februari lalu itu, kontan saja membuat semua orang, gak hanya umat Katolik saja, shock mendengarnya. Gimana nggak coba? Selama ini kita tahu bahwa paus memiliki jabatan seumur hidup dan berakhir ketika paus tersebut meninggal. Gak ada ceritanya paus yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya. Kalau pun ada, itu sudah terjadi lebih dari 600 tahun yang lalu, sehingga kita gak akan pernah menyangka bahwa akan ada seorang paus yang melakukan hal yang serupa, terutama di zaman semodern ini.

url

Paus Gregorius XII

Tapi itulah Bapa Suci Benediktus XVI. Bukti bahwa siapa saja, bahkan termasuk paus sekalipun, bisa merubah tradisi yang sudah ada secara turun-temurun. Bapa Suci Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya, setelah sebelumnya lebih dari 600 tahun lalu, Paus Gregorius XII melakukan hal yang serupa (cuma aku lupa beliau mengundurkan diri secara sukarela apa tidak).

 

 

Aku masih ingat pertama kali aku mendengar berita ini melalui Facebook, aku langsung kaget dan nyaris teriak. Jelas lah, aku tidak akan pernah menyangka Bapa Suci akan melakukan hal ini, meskipun aku tahu persis bahwa paus memang bisa mengundurkan diri dengan syarat pengunduran diri beliau harus dengan sukarela, tanpa paksaan dari siapapun. Tak lama setelah berita pertama itu muncul, berita-berita lainnya dan postingan berisi tanggapan media dan masyarakat mulai bermunculan, tidak hanya di FB maupun Twitter, tapi juga di blog dan forum.

Pope Benedict XVI visits the Blue Mosque in IstanbulSatu postingan yang terasa sangat konyol bagiku adalah postingan yang menyatakan bahwa paus mengundurkan diri dari jabatannya karena mau menjadi mualaf, dilatarbelakangi dari kunjungan paus ke sebuah mesjid di Turki di tahun 2006 dan posisi doa beliau yang seperti melakukan sholat. Yang memprihatinkan, tidak sedikit orang yang percaya dengan postingan ini dan menyebarkannya ke mana-mana dengan maksud dan tujuan yang negatif dan sarat akan potensi konflik SARA. Padahal, jika dilihat secara seksama, terutama dari video yang beredar di Youtube, Bapa Suci samasekali tidak melakukan sholat. Beliau hanya berdoa. Lagipula, saudara-saudara kita yang Muslim pasti jeli dengan posisi tubuhnya Bapa Suci yang jelas-jelas tidak mirip dengan orang yang sedang sholat. Jadi, kenapa mesti dipersoalkan lagi, teman-teman? 🙂

Berikut ini salah satu video kunjungan beliau ke mesjid yang kudapat dari internet. Benar tidaknya postingan tersebut, bisa teman-teman simpulkan dari video ini.

Nah, lepas dari postingan di atas, banyak hal yang patut kita teladani dari Bapa Suci. Salah satunya, adalah kerendahan hatinya. Kenapa? Coba kita perhatikan bersama.

26934_1421677308256_4888776_nSejak awal, Kardinal Ratzinger – nama asli Bapa Suci – amat disegani karena pemikiran-pemikirannya yang konservatif dan radikal. Hal itulah yang membuat Bapa Suci Yohanes Paulus II mengangkat Kardinal Ratzinger di tahun 1981 sebagai prefek Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman, yang bertanggungjawab penuh dalam menjaga ajaran-ajaran Gereja Katolik. Popularitas kardinal asal Jerman ini semakin meningkat setelah konklaf tahun 2005 mengangkat dirinya sebagai Penerus Tahta St. Petrus. Dengan segala hal yang beliau capai itu, harusnya beliau bisa melakukan apapun yang beliau suka sebagai sosok pemimpin. Hanya saja, nampaknya Bapa Suci tidak berambisi untuk melakukannya. Prinsip beliau adalah apa yang dia dapat adalah pemberian Tuhan sebagai bentuk pelayanannya pada Gereja Universal, pada umatNya, dan pada dunia. Bapa Suci sudah merasa lelah dan terlalu tua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanannya tersebut, seperti tertuang dalam pernyataan pengunduran dirinya. Bapa Suci ingin supaya Gereja dipimpin oleh seorang paus yang jauh lebih baik dari dirinya, yang bisa membawa Gereja pada Sang Cahaya Illahi, yakni Kristus sendiri. Yang lebih hebatnya lagi, semasa pensiun nanti, Bapa Suci akan mendedikasikan hidupnya dalam doa dan silih demi Gereja dan umat-umatNya, juga komitmen beliau untuk taat pada penerusnya nanti, tanpa syarat apapun. Hebat kan beliau? 😀

Pada akhirnya, mari kita sekarang berdoa pada Allah di surga, untuk memohonkan Roh KudusNya agar semakin berkarya dalam diri Gereja, terutama para kardinal yang dalam waktu dekat akan mengadakan konklaf untuk memilih penerus Tahta St. Petrus. Kita serahkan Bapa Suci Emeritus Benediktus XVI dan penerusnya nanti, serta seluruh umat beriman di manapun mereka berada. 🙂

 

Grazie Santo Padre Benedetto XVI. Arrivederci. Perga per noi!
(Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI. Sampai jumpa lagi. Doakan kami!)

 

R.M.T.B.D.J

12984_10200748066410332_629566313_n

Helikopter yang mengangkut Bapa Suci pergi meninggalkan Vatikan, disaksikan ribuan peziarah yang berada di lapangan St. Petrus dan di atas kubah basilika. Helikopter akan membawa Bapa Suci ke peristirahatan paus di Castel Gandolfo, tempat di mana Bapa Suci akan menghabiskan masa pensiunnya selama 2 bulan dan selanjutnya di sebuah biara kecil di dalam Vatikan.

525192_10200750371707963_114700142_n

Bapa Suci memberikan berkatnya yang terakhir kepada para peziarah yang berkumpul di Castel Gandolfo.

522514_10151322127448061_1684809596_n

Iklan

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan :)

Bagi teman-teman yang merindukan adanya mukjizat Tuhan, aku menyarankan artikel di bawah ini. Sangat menyejukkan. Artikel yang ditulis seorang admin FB Gereja Katolik ini menyajikan sesuatu yang pastinya menjawab pertanyaan kita, dan yang paling penting, menyejukkan jiwa kita dengan firman Tuhan yang dibawakan hari ini. Enjoy 😉

——————————————————————————————————–

Saudara-saudara, saya yakin semua kita pernah mengalami mukjizat Tuhan, misalnya peristiwa yang dianggap spektakuler seperti selamat dari kecelakaan, lulus dalam ujian dengan persaingan ketat, sembuh dari penyakit kronis, mendapat surpise yang tidak diduga. Mungkin juga ada keluarga yang sudah lama menikah tidak punya anak, tetapi suatu saat dokter mengatakan bahwa si istri positif hamil. Apakah itu mujizat? Ya, itu adalah mukjizat, tentunya.

Mukjizat adalah peristiwa yang kita anggap luar biasa dalam hidup kita. Tetapi kita tidak boleh meredukti mukjizat hanya berupa hal-hal yang terjadi secara spektakuler. Jika kita sadar, sebenarnya begitu banyak mukjizat yang kita alami. Perkawinan suami-istri yang bisa bertahan sampai maut menjemput keduanya, sementara banyak perkawinan kandas di tengah jalan, adalah sebuah mukjizat. Bagi saya, orang-orang yang bertahan dalam panggilan membiara sampai mati, sementara banyak yang akhirnya gagal mempertahankannya, adalah merupakan mukjizat.

Singkatnya, mukjizat itu terjadi dalam seluruh hidup kita. Allah menyelenggarakan hidup kita dengan secara spektakuler. Tiap hari Ia menunjukkan mukjizatNya bagi kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti untuk bekerja. Ia tetap hadir dan memberikan yang terbaik bagi manusia, walaupun manusia sering merasa putus asa, sering merasa bahwa doanya tidak dikabulkan, atau merasa bahwa Allah tidak peduli. Nyatanya, orang tua yang sudah mandul pun bisa punya anak.

Hari ini kita telah mendengarkan kisah kelahiran Simson dari pasangan tua Manoah dan istrinya. Pasangan itu sudah tua, dan harapan sudah putus bahwa mereka tidak akan berketurunan lagi. Tetapi doa-doa dan permohonan mereka tidak pernah surut. Malaikat Tuhan mendengarkan doa dan ratapan wanita yang mengharapkan kehadiran seorang anak. Manoah juga demikian, ia ingin statusnya sebagai pria tidak hilang oleh karena tidak berketurunan. Ternyata doa mereka dikabulkan, walaupun menurut pandangan manusia hal itu sudah terlambat namun bagi Tuhan tidak. Simson lahir dan berkembang menjadi anak ajaib. Ia menjadi alat bagi Tuhan.

Hal yang sama terjadi dengan Zakaria dan Elisabeth. Mereka sudah tua dan dalam perhitungan siklus wanita, pintu kehamilan bagi Elisabeth sudah tertutup. Tetapi apa yang dianggap manusia tidak mungkin, bagi Allah selalu mungkin. Bertahun-tahun lamanya Zakaria dan Elisabeth bertekun dalam doa untuk kehadiran seorang anak. Sikap pasrah semakin tumbuh ketika umur makin panjang. Ada rasa putus asa tidak mungkin lagi berketurunan. Karena itu ketika malaikat Gabriel menemui Zakaria dalam mimpi dan mengatakan bahwa ia akan mendapatkan seorang anak, Zakaria menganggap itu hanya sebagai halusinasi. Dia tidak percaya karena pikirannya masih lekat dengan pengetahuan manusia: tidak mungkin.

Elisabeth ternyata lebih peka akan sapaan Allah, walaupun ia ragu akan berita mimpi itu namun ia tetap berdoa dan berharap. Janji Allah pun terpenuhi. Ia tidak pernah membohongi umatNya. Sekali Ia berjanji, janji itu akan ditepatiNya. Terbukti, Elisabeth melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka nambai Yohanes. Ia juga menjadi alat Tuhan untuk melanjutkan rencanaNya. Inilah yang kita sebut surprise, mukjizat, sesuatu yang tidak sanggup diterima nalar manusia tetapi sanggup diperbuat Allah. Allah tidak main judi dalam hal ini, seolah-olah serba kebetulan. Semua itu direncanakanNya dengan matang. Lewat cara ini Allah mau mengatakan bahwa Ia sanggup berbuat di luar kemampuan manusia. Bila orang mati bisa dihidupkan, apakah mustahil bagi nenek-nenek untuk melahirkan?

Sabda Allah hari ini mengingatkan kita bahwa jalan Allah bukanlah jalan manusia, dan pikiran Allah bukan pikiran manusia. Ketika Ia belum menjawab doa kita, itu bukan berarti Ia lupa, tetapi Ia menanti waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Ketika kita telah mengubur mimpi kita dalam-dalam, Ia akhirnya datang menggulingkan batu itu dan membangkitkan mimpi itu kembali menjadi nyata. Ini adalah bukti kemahakuasaanNya. Karena itulah kita harus selalu percaya bahwa Allah sanggup membuat segalanya baru, entah itu mimpi lama dan sudah terlupakan Ia bisa membuatnya kembali menjadi baru. Karena itu, doa-doa yang kita panjatkan tidak akan pernah dilupakanNya, Ia hanya menunggu waktu yang tepat menurut kehendakNya. Manoah dan Zakaria sudah menuai hasil doanya, pada akhir-akhir hidupnya mereka memperoleh keturunan seperti yang mereka dambakan. Percayalah, Tuhan tidak tidur. Ia selalu mendengarkan kita. Amen.

PrayingAutoIndustryMiracle2-thumb-468x311

Sumber: Postingan FB Gereja Katolik

Malam ini 50 Tahun yang Lalu….

Bila kita mengenangkan malam 10 Oktober 1962, ketika Konsili Vatikan II akan dibuka keesokan paginya, dengan hampir 3000 Uskup dari seluruh penjuru dunia, maka kita teringat bahwa pada sore itu, beberapa komunitas Katolik berkumpul secara khusus di Lapangan St. Petrus sambil membawa lilin-lilin dan lampu bernyala, mendoakan kelancaran Konsili. Mgr. Capovilla yang saat itu bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Sri Paus mengenang bahwa tidak ada yang direncanakan untuk dilakukan sore itu dan Sri Paus berkata kepadanya, ‘aku akan menuju ke jendela, aku tidak akan mengatakan apa-apa, aku hanya akan memberikan berkat.” Tetapi sejarah mencatat bahwa pada sore hari itu, Beato Yohanes XXIII memberikan sebuah pidato terkenal yang disebut “Pidato Di Bawah Rembulan“. Apa yang tidak dipersiapkan itu, ternyata muncul dari lubuk hati terdalam Sri Paus dan menjadi salah satu pidatonya yang paling terkenal. Berikut terjemahan bebas Pidato beliau itu.

“Putra-putriku yang terkasih,

Aku mendengar suara kalian! Suaraku hanyalah sebuah suara insan, tetapi suaraku itu merangkum semua suara di seluruh dunia.

Dan sungguh, di sini, seluruh dunia diwakilkan di tempat ini malam ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa bulan datang lebih cepat malam ini, bahwa dari atas sana, bulan mungkin sedang menyaksikan suatu pemandangan yang bahkan Basilika St. Petrus, dengan sejarahnya yang berusia lebih dari empat abad, tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti ini.

Kita memohon sebuah hari besar untuk perdamaian. Ya, untuk perdamaian! ‘Kemuliaan kepada Tuhan, dan damai di bumi bagi mereka yang berkenan pada-Nya.’ Jika aku bertanya kepadamu, jika aku dapat bertanya kepada setiap dari kalian: darimanakah asalmu? Putra-putri Roma, yang secara khusus diwakilkan di sini, dapat menjawab: ah, kami adalah anak-anakmu yang terdekat, dan engkau adalah Uskup kami. Maka, putra dan putri Roma, ingatlah selalu bahwa kalian mewakili ‘Roma, caput mundi’ (Roma, ibukota dunia) yang melalui rencana Ilahi, demikianlah ia telah disebut sepanjang abad.

Diriku sendiri tidak berarti apa-apa – ini adalah saudaramu yang berbincang denganmu, saudara yang menjadi seorang bapa karena kehendak Ilahi, tetapi kesemuanya: kebapaan dan persaudaraan dan rahmat Ilahi, memberikan penghormatan pada pemandangan malam ini, yang akan selalu terpatri dalam perasaan kita semua, yang kini kita nyatakan di hadapan langit dan bumi: iman, harapan, cinta, cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, semuanya membantu kita melangkah di jalan menuju damai Tuhan yang kudus guna karya yang baik. Maka, marilah kita selalu mencintai satu sama lain, memberikan perhatian kepada satu sama lain dalam perjalanan kita: untuk menyambut siapapun yang mendekati kita, dan menyingkirkan segala kesulitan yang dibawanya.

Ketika kalian pulang ke rumah, carilah anak-anak kalian. Peluklah dan cium anak-anak kalian dan katakanlah pada mereka: ‘Ini adalah peluk dan cium dari Sri Paus.’ Dan ketika kalian melihat mereka meneteskan air mata, berikanlah kata-kata yang indah pada mereka. Berikanlah kepada semua yang menderita kata-kata yang menyenangkan. Katakanlah pada mereka ‘Sri Paus hadir bersama kalian terutama pada saat-saat sedih dan pahit.’ Dan lalu, bersama-sama semoga kita menjadi hidup – baik dengan bernyanyi, dengan bernafas, atau dengan menangis, tetapi selalu penuh percaya pada Kristus, yang membantu kita dan mendengar kita, marilah kita melanjutkan perjalanan kita ini.”

– Sri Paus Yohanes XXIIII, Jendela Istana Apostolik 10 Oktober 1962 –

Maka malam ini, sambil mengenangkan apa yang terjadi di Lapangan St. Petrus 50 tahun yang lalu, dengan semangat yang sama, kita berdoa sehati dan sesuara memohon agar Tahun Iman yang akan kita alami membawa buah-buah berlimpah bagi keselamatan jiwa kita dan kemuliaan Tuhan.

 

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?v=538138102868507

PESAN DAN UCAPAN IDUL FITRI DARI VATIKAN

DEWAN KEPAUSAN UNTUK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

 

“Mendidik Kaum Muda Kristiani dan Muslim Untuk Keadilan dan Perdamaian”

 

Sahabat-sahabat Muslim yang terkasih,

Hari Raya Idul Fitri yang mengakhiri bulan suci Ramadhan, memberikan kegembiraan kepada kami di Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat Beragama (DKDAB), untuk menyampaikan salam hangat kami kepada Anda. Kami bersukacita bersama Anda oleh karena waktu yang istimewa ini yang memberikan kesempatan kepada Anda untuk memperdalam ketaatan kepada Allah melalui puasa dan berbagai amal bakti lainnya, yang juga adalah nilai yang kami junjung tinggi. Inilah sebabnya, tahun ini, kami merasa tepat untuk memfokuskan refleksi kita bersama pada pendidikan kaum muda Kristiani dan Muslim untuk keadilan dan perdamaian, yang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari kebenaran dan kebebasan.

Jika tugas pendidikan itu dipercayakan kepada masyarakat seluruhnya, maka pertama dan utama, serta secara khusus merupakan tugas orangtua, dan sekaligus bersama mereka, merupakan tugas keluarga-keluarga, sekolah-sekolah, dan universitas-universitas, dengan tidak melupakan mereka yang bertanggung jawab untuk kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi, dan dunia komunikasi. Ini merupakan sebuah upaya yang indah sekaligus sulit, yakni membantu anak-anak dan kaum muda untuk menemukan dan menumbuhkembangkan berbagai sumber daya yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, dan untuk membangun relasi-relasi kemanusiaan yang bertanggung jawab. Dengan merujuk pada tugas-tugas para pendidik, Bapa Suci Paus Benediktus XVI, belum lama ini, menegaskan sebagai berikut: “Oleh karena itu, dewasa ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan saksi-saksi yang otentik dan bukan sekadar orang-orang yang mengkotak-kotakkan aturan-aturan dan fakta-fakta.Seorang saksi adalah dia yang pertama-tama hidup sesuai dengan apa yang dia anjurkan kepada orang lain” (Pesan Hari Perdamaian Sedunia, 2012). Di samping itu, hendaknya kita juga ingat bahwa anak-anak muda sendiri pun bertanggung jawab terhadap pendidikan dan pembentukan mereka sendiri untuk keadilan dan perdamaian.

Keadilan ditentukan pertama-tama oleh identitas pribadi manusia, yakni keseluruhan dirinya; artinya tidak hanya direduksi ke dalam dimensi komutatif dan distributifnya. Kita tidak boleh lupa bahwa kebaikan bersama tidak bisa dicapai tanpa solidaritas dan kasih persaudaraan! Bagi orang-orang beriman, keadilan sejati yang dihidupkan di dalam persahabatan dengan Allah, memperdalam segala persahabatan lainnya: persahabatan dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan segenap ciptaan. Lebih dari itu, mereka mengakui bahwa keadilan memiliki asal-muasal di dalam kenyataan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi satu, satu keluarga saja. Pemahaman yang demikian, dengan tetap menaruh rasa hormat terhadap akal budi dan keterbukaan kepada yang transenden, mendesak semua manusia yang berkehendak baik, sekaligus mengundang mereka untuk menyelaraskan hak-hak dan kewajiban mereka.

Di dalam dunia kita yang tengah menderita ini, tugas mendidik kaum muda demi perdamaian dan keadilan menjadi semakin mendesak. Untuk melibatkan diri kita secara layak, butuh pemahaman akan hakikat perdamaian yang benar: Perdamaian tidak hanya terbatas pada situasi tanpa perang, atau keseimbangan kekuatan dari dua kubu yang bertikai, tetapi perdamaian adalah sekaligus anugerah dari Allah dan upaya keras manusia yang harus dikejar tanpa henti. Perdamaian adalah buah dari keadilan dan pengaruh dari kasih. Merupakan hal yang penting bahwa umat beriman selalu aktif di dalam komunitas-komunitas mereka, di mana melalui praktik belarasa, solidaritas, kerjasama, dan persaudaraan, mereka mampu memberikan sumbangan terhadap identifikasi tantangan-tantangan besar masa kini: pertumbuhan yang harmonis, perkembangan yang integral, pencegahan, dan pemecahan konflik-konflik. Inilah beberapa dari sekian banyak contoh tantangan lainnya.

Pada akhirnya, kami ingin mendorong para pembaca Pesan dan Ucapan Selamat ini dari kalangan kaum muda Muslim dan Kristiani untuk terus mengembangkan kebenaran dan kebebasan, supaya menjadi pewarta-pewarta keadilan dan perdamaian yang sejati, dan pembangun-pembangun budaya yang menghormati martabat serta hak setiap warga. Kami mengajak mereka untuk memiliki kesabaran dan keuletan yang perlu untuk merealisasi cita-cita ini, tidak pernah mengambil jalan menuju kompromi-kompromi penuh kebimbangan, jalan pintas yang memperdaya atau menuju cara-cara yang menunjukkan kurang respek terhadap pribadi manusia. Hanya orang-orang yang secara tulus ikhlas diyakinkan oleh pentingnya hal-hal ini, akan mampu membangun masyarakat, di mana keadilan dan perdamaian menjadi kenyataan.

Semoga Allah memenuhi hati, keluarga-keluarga, dan komunitas-komunitas mereka yang memelihara hasrat untuk menjadi ‘alat-alat perdamaian’, dengan sukacita dan harapan.

“Selamat berbahagia kepada Anda semua!”

 

Dari Vatikan, 3 Agustus 2012


Jean-Louis Cardinal Tauran
Presiden


Mgr. Pier Luigi Celata
Sekretaris

Gerakan Doa Imamat Kekal

RE-POSTING UNDANGAN BERDOA BERSAMA untuk PARA IMAM
Setiap hari Kamis pukul 20.00 WIB mulai tanggal 12/07/2012
(GARDA IMAMAT KEKAL – Gerakan Doa Imamat Kekal)

 

Berawal dari perbincangan di grup BB, dirasakan adanya godaan dan gangguan yang makin intens terhadap para Imam Gereja Kristus yg Satu, Kudus, Katholik, dan Apostolik.
Beberapa Imam yang amat potensial telah nyata2 menjadi sasaran dan dijatuhkan oleh iblis.
Atas dasar keprihatinan itu, beberapa orang secara spontan mendeklarasikan Gerakan Doa Imamat Kekal (GarDa Imamat Kekal)

Apa itu Garda Imamat Kekal? Tak lain adalah sebentuk kepedulian kita (umat maupun klerus) utk berdoa bagi keselamatan jiwa dan keselamatan panggilan para Imam Gereja agar dijauhkan dari godaan, dianugerahi kemampuan dan kemauan utk melangkah bersama Kristus utk menggembalakan domba2Nya dengan setia.

 

Komitmen Garda Imamat Kekal adalah:

  1. Berdoa setiap KAMIS pukul 20.00 dengan perantaraan St. Yoannes Maria Vianney utk kesetiaan panggilan Imamat dan keselamatan jiwa para Imam Gereja Kristus.
  2. Menumbuhkan kepedulian umat utk mengingatkan para Imam yg dirasa mengalami krisis dan godaan panggilan.
  3. Menumbuhkan kepedulian dan kesadaran umat akan “imamat umum” yg telah diterima melalui Sakramen Baptis. Dengan begitu, diharapkan umat memiliki kesadaran untuk TIDAK HANYA meminta Berkat dari tangan Imam tapi juga memohonkan Berkat Allah bagi para Imam.

 

Bagi saudara-saudari seiman yg peduli dengan apa yang dirasakan dlm posting ini, diharap mau meneruskan posting ini. Saran dan usul amat dihargai.

Salam Kasih dalam Kristus Yesus;
Gerakan Doa Imamat Kekal

Sumber: Komunitas Doa Online Katolik

Hal Tentang Berpuasa

Oleh:
Mgr. H. J. S. Pandoyoputro, O. Carm
Uskup Diosesan Malang

“Kalau kita berpuasa atau berkorban hendaknya tidak dilepaskan dari keadilan. Menyakiti diri sendiri tidaklah akan lebih baik daripada mengingat orang lapar dan memberi makanan kepadanya. Demikian juga sebagai orang yang percaya kepada Allah, kita harus mampu membebaskan orang tertindas, memberi makan kepada orang yang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tidak mempunyai rumah, memberi pakaian bagi orang telanjang. Karena kurangnya keadilan sosial terjadilah kekurangmakmuran dan kelesuan dalam hidup. Dalam kehidupan ini perlu kita mempunyai pengalaman iman sebagai orang yang percaya kepada Allah. Kalau kita pernah mengalami belaskasih Allah dalam hidup kita, maka kitapun akan dimampukan untuk menaruh belaskasih kepada sesama manusia sebagai ciptaanNya.”

St. Benediktus: Pelindung Benua Eropa

Seperti biasa Gereja Katolik selalu punya hari-hari untuk menghormati para orang kudus atau teladan hidup umat, yang biasa disebut santo(untuk laki-laki) dan santa(untuk wanita). Nah hari ini Gereja merayakan Pesta St. Benediktus, yang secara kebetulan merupakan nama baptisku hehehehe 😀

 

RIWAYAT HIDUP (dikutip dari situs Yesaya Indocell)

Santo Benediktus dilahirkan pada tahun 480. Ia berasal dari keluarga Italia yang kaya. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma. Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Ia menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun lamanya. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya dengan bayangan seorang perempuan cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari perempuan itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh dengan goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.

Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Benediktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.

Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah St. Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam ketrampilan dalam berbagai lapangan pekerjaan.

St. Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

 

Oh ya, aku mau menambahkan beberapa hal di sini. St. Benediktus itu juga merupakan saudara kembar dari St. Skolastika. Kematiannya pun terjadi hampir bersamaan, didahului oleh kematian St. Skolastika. Mereka berdua kemudian dikuburkan di biara Benediktin di Monte Kasino. Semasa PD II, biara ini hancur hingga bersisa puing-puing saja. Kemudian rekonstruksi dilakukan dan di tahun 1960-an, biara ini dikonsekrasikan ulang oleh Paulus VI.

Semoga teladan dan doa-doa dari santo Benediktus ini dapat membawa kita ke jalan hidup yang benar, yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin.

 

St. Benedictus, pray for us …………..

St. Benedetto, ora pro nobis …………..

St. Benediktus, doakanlah kami ……………….

St. Benediktus dan piala beracun

Pembangunan biara yang dikomandoi St. Benediktus

Biara Benediktin di Monte Kasino setelah direnovasi akibat Perang Dunia II

Puing-puing biara setelah Perang Dunia II

 

Medali/salib St. Benediktus telah lama dipercaya untuk menangkal kekuatan gelap dan roh jahat. Untuk mengetahui singkatan-singkatan di medali tersebut, klik  http://belajarliturgi.blogspot.com/2011/09/medali-st-benedictus.html

St. Benediktus bersama St. Skolastika

“Tempatkan Kristus di atas segala-galanya.”
“Bisakah kamu melihat nyala api Kasih yang membara hanya dalam dirimu? haruslah kamu ungkapkan itu dan jangan merasa malu.”

 

Previous Older Entries