Grazie Santo Padre! =’)

Siapa yang gak kaget dengan keputusan Bapa Suci Benediktus XVI yang ingin “pensiun” di akhir bulan Februari?

11-POPE-LEAVING

Pernyataan Bapa Suci yang tersebar secara luas pada 11 Februari lalu itu, kontan saja membuat semua orang, gak hanya umat Katolik saja, shock mendengarnya. Gimana nggak coba? Selama ini kita tahu bahwa paus memiliki jabatan seumur hidup dan berakhir ketika paus tersebut meninggal. Gak ada ceritanya paus yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya. Kalau pun ada, itu sudah terjadi lebih dari 600 tahun yang lalu, sehingga kita gak akan pernah menyangka bahwa akan ada seorang paus yang melakukan hal yang serupa, terutama di zaman semodern ini.

url

Paus Gregorius XII

Tapi itulah Bapa Suci Benediktus XVI. Bukti bahwa siapa saja, bahkan termasuk paus sekalipun, bisa merubah tradisi yang sudah ada secara turun-temurun. Bapa Suci Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya, setelah sebelumnya lebih dari 600 tahun lalu, Paus Gregorius XII melakukan hal yang serupa (cuma aku lupa beliau mengundurkan diri secara sukarela apa tidak).

 

 

Aku masih ingat pertama kali aku mendengar berita ini melalui Facebook, aku langsung kaget dan nyaris teriak. Jelas lah, aku tidak akan pernah menyangka Bapa Suci akan melakukan hal ini, meskipun aku tahu persis bahwa paus memang bisa mengundurkan diri dengan syarat pengunduran diri beliau harus dengan sukarela, tanpa paksaan dari siapapun. Tak lama setelah berita pertama itu muncul, berita-berita lainnya dan postingan berisi tanggapan media dan masyarakat mulai bermunculan, tidak hanya di FB maupun Twitter, tapi juga di blog dan forum.

Pope Benedict XVI visits the Blue Mosque in IstanbulSatu postingan yang terasa sangat konyol bagiku adalah postingan yang menyatakan bahwa paus mengundurkan diri dari jabatannya karena mau menjadi mualaf, dilatarbelakangi dari kunjungan paus ke sebuah mesjid di Turki di tahun 2006 dan posisi doa beliau yang seperti melakukan sholat. Yang memprihatinkan, tidak sedikit orang yang percaya dengan postingan ini dan menyebarkannya ke mana-mana dengan maksud dan tujuan yang negatif dan sarat akan potensi konflik SARA. Padahal, jika dilihat secara seksama, terutama dari video yang beredar di Youtube, Bapa Suci samasekali tidak melakukan sholat. Beliau hanya berdoa. Lagipula, saudara-saudara kita yang Muslim pasti jeli dengan posisi tubuhnya Bapa Suci yang jelas-jelas tidak mirip dengan orang yang sedang sholat. Jadi, kenapa mesti dipersoalkan lagi, teman-teman? 🙂

Berikut ini salah satu video kunjungan beliau ke mesjid yang kudapat dari internet. Benar tidaknya postingan tersebut, bisa teman-teman simpulkan dari video ini.

Nah, lepas dari postingan di atas, banyak hal yang patut kita teladani dari Bapa Suci. Salah satunya, adalah kerendahan hatinya. Kenapa? Coba kita perhatikan bersama.

26934_1421677308256_4888776_nSejak awal, Kardinal Ratzinger – nama asli Bapa Suci – amat disegani karena pemikiran-pemikirannya yang konservatif dan radikal. Hal itulah yang membuat Bapa Suci Yohanes Paulus II mengangkat Kardinal Ratzinger di tahun 1981 sebagai prefek Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman, yang bertanggungjawab penuh dalam menjaga ajaran-ajaran Gereja Katolik. Popularitas kardinal asal Jerman ini semakin meningkat setelah konklaf tahun 2005 mengangkat dirinya sebagai Penerus Tahta St. Petrus. Dengan segala hal yang beliau capai itu, harusnya beliau bisa melakukan apapun yang beliau suka sebagai sosok pemimpin. Hanya saja, nampaknya Bapa Suci tidak berambisi untuk melakukannya. Prinsip beliau adalah apa yang dia dapat adalah pemberian Tuhan sebagai bentuk pelayanannya pada Gereja Universal, pada umatNya, dan pada dunia. Bapa Suci sudah merasa lelah dan terlalu tua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanannya tersebut, seperti tertuang dalam pernyataan pengunduran dirinya. Bapa Suci ingin supaya Gereja dipimpin oleh seorang paus yang jauh lebih baik dari dirinya, yang bisa membawa Gereja pada Sang Cahaya Illahi, yakni Kristus sendiri. Yang lebih hebatnya lagi, semasa pensiun nanti, Bapa Suci akan mendedikasikan hidupnya dalam doa dan silih demi Gereja dan umat-umatNya, juga komitmen beliau untuk taat pada penerusnya nanti, tanpa syarat apapun. Hebat kan beliau? 😀

Pada akhirnya, mari kita sekarang berdoa pada Allah di surga, untuk memohonkan Roh KudusNya agar semakin berkarya dalam diri Gereja, terutama para kardinal yang dalam waktu dekat akan mengadakan konklaf untuk memilih penerus Tahta St. Petrus. Kita serahkan Bapa Suci Emeritus Benediktus XVI dan penerusnya nanti, serta seluruh umat beriman di manapun mereka berada. 🙂

 

Grazie Santo Padre Benedetto XVI. Arrivederci. Perga per noi!
(Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI. Sampai jumpa lagi. Doakan kami!)

 

R.M.T.B.D.J

12984_10200748066410332_629566313_n

Helikopter yang mengangkut Bapa Suci pergi meninggalkan Vatikan, disaksikan ribuan peziarah yang berada di lapangan St. Petrus dan di atas kubah basilika. Helikopter akan membawa Bapa Suci ke peristirahatan paus di Castel Gandolfo, tempat di mana Bapa Suci akan menghabiskan masa pensiunnya selama 2 bulan dan selanjutnya di sebuah biara kecil di dalam Vatikan.

525192_10200750371707963_114700142_n

Bapa Suci memberikan berkatnya yang terakhir kepada para peziarah yang berkumpul di Castel Gandolfo.

522514_10151322127448061_1684809596_n

Reformasi “Abal-Abal” ala Indonesia

21 Mei 1998 ….

Aku masih berusia 3 tahun waktu itu. Masih polos dan manis, masih terpaku akan kenyamanan dan kedamaian dunia anak-anak yang aku alami.

 

Tanpa aku sadari, di tempat lain, di waktu yang sama, sebuah peristiwa monumental terjadi atas bangsa ini. Pak Harto bersama rezim “Orde Baru”nya dipaksa lengser setelah 31 tahun lebih berkuasa atas bumi pertiwi. Disaksikan oleh para pejabat negara yang hadir di Istana Negara waktu itu, tampuk kekuasaan seolah-olah dipindah tangankankan dengan mudahnya begitu sang presiden menyatakan “mundur dari jabatannya”. Pak Habibie, seorang senior dan ahli teknik, otak dibalik pesawat kebanggaan Indonesia “Gatotkaca”, mendapatkan “hadiah” istimewa dari Pak Harto, yaitu jabatan presiden, terkait bahwa Pak Habibie saat itu menjabat sebagai wakil presiden. Mungkin sebuah aturan yang sengaja dibuat oleh penguasa waktu itu, tampuk kekuasaan dari presiden pindah ke wakil presiden.

21 Mei 1998 pukul 10.00 WIB. Serentak jutaan mata di luar Istana bersorak sorai menyambut peristiwa tersebut sebagai akhir dari sebuah rezim. Cita-cita mereka untuk melepaskan diri dari jeratan demokrasi semu dan keterkekangan HAM akhirnya menjadi kenyataan. Mungkin yang tak mereka sadari, bahwa apa yang dilakukan pemerintah semata-mata hanya ingin menyelematkan bangsa Indonesia dari kehancuran yang lebih fatal. Kerusuhan di berbagai kota di seluruh Indonesia, ditambah penjarahan dan pembakaran gedung-gedung mall dan perkantoran yang sampai menewaskan ratusan orang. Kemudian perusahaan-perusahaan yang tercekik akibat krisis ekonomi 1997 sehingga harus gulung tikar dan menambah jumlah pengangguran dan gelandangan. Parahnya lagi juga ditambah ketidakmampuan dan kegagapan polisi menghadapi arus demonstrasi sehingga peluru karet dan timah panas menjadi jalan satu-satunya menyelesaikan revolusi. Pada akhirnya, penguasa harus mengakui, bahwa rakyat sudah menang. Dirinya bersama antek-anteknya harus pergi dari tahta kekuasaan secepat mungkin ………

Mujur bahwa kotaku tercinta tidak mau mengikuti arus hancur-hancuran massal seperti kota lain. Biarpun reformasi bergulir, aktivitas kota berlangsung seperti biasa tanpa ada halangan sekalipun. Itulah yang diceritakan orang tuaku. Aku tidak begitu mengingat banyak hal soal apa yang terjadi di hari itu, hanya ingat bahwa selama beberapa hari aku tidak berani menonton TV karena acara-acara televisi begitu penuh dengan berita kebakaran dan pengrusakan massal, lengkap dengan mayat-mayat manusia yang sudah gosong tak berbentuk.

 

14 tahun berlalu sejak reformasi itu bergulir ……..

Dengan umur dan pemikiran yang lebih dewasa, kini aku mulai merenung dan merefleksikan kejadian tersebut dengan kacamata seorang remaja. Koran yang aku baca barusan semakin meneguhkan pemikiranku akan betapa sia-sianya reformasi yang dulu pernah tergulir. Praktik KKN tetap saja merajalela bahkan hingga di kalangan bawah pun hal itu terjadi. Ironis, mereka yang melakukan KKN mayoritas adalah aktivis reformasi 1998, yang bersama dengan gelombang massa waktu itu menentang perbuatan haram tersebut.Biarpun kebebasan dan demokrasi sudah diraih, tapi bangsa ini tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana menggunakannya. Akibatnya, ya, kebablasan.

Atas nama kebebasan dan demokrasi, ormas-ormas berdiri dengan alasan menegakkan ajaran agama yang benar, walau berbuntut pada kekacauan dan kebencian semata di kalangan masyarakat.

Atas nama kebebasan dan demokrasi pula, pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin dilaksanakan, walau pada akhirnya keluhan dan hujatan kecurangan terus bergaung.

Seperti atas nama kebebasan dan demokrasi, reformasi itu dijalankan. Namun, apa yang didapat bangsa setelah 14 tahun berlalu? Hampir tak ada yang berubah.

Bahkan teman-temanku berniat meninggalkan Indonesia sehabis lulus sekolah dengan alasan bahwa negara ini tidak pernah memfasilitasi pendidikan yang berkualitas. Biaya yang melambung tinggi, pada akhirnya lulus menjadi buruhnya orang dengan gaji asal-asalan. Bukti bahwa reformasi tidak pernah menjamin kesejahteraan calon pakar-pakar bangsa.

 

Kini tak dapat disangkal, bahwa reformasi ini hanyalah kemunafikan semata. Tak ada yang bisa didapat, karena tidak ada yang mau berusaha mewujudkan apa yang dicita-citakan reformasi. Semua sibuk dengan pundi masing-masing, meninggalkan rakyat yang berteriak-teriak minta makan dan hidup yang layak. Jadi, apakah Indonesia akan berlanjut seperti ini sampai kiamat nanti?

Atau, akan ada “reformasi” selanjutnya?

 

R.M.T.B.D.J