Grazie Santo Padre! =’)

Siapa yang gak kaget dengan keputusan Bapa Suci Benediktus XVI yang ingin “pensiun” di akhir bulan Februari?

11-POPE-LEAVING

Pernyataan Bapa Suci yang tersebar secara luas pada 11 Februari lalu itu, kontan saja membuat semua orang, gak hanya umat Katolik saja, shock mendengarnya. Gimana nggak coba? Selama ini kita tahu bahwa paus memiliki jabatan seumur hidup dan berakhir ketika paus tersebut meninggal. Gak ada ceritanya paus yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya. Kalau pun ada, itu sudah terjadi lebih dari 600 tahun yang lalu, sehingga kita gak akan pernah menyangka bahwa akan ada seorang paus yang melakukan hal yang serupa, terutama di zaman semodern ini.

url

Paus Gregorius XII

Tapi itulah Bapa Suci Benediktus XVI. Bukti bahwa siapa saja, bahkan termasuk paus sekalipun, bisa merubah tradisi yang sudah ada secara turun-temurun. Bapa Suci Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya, setelah sebelumnya lebih dari 600 tahun lalu, Paus Gregorius XII melakukan hal yang serupa (cuma aku lupa beliau mengundurkan diri secara sukarela apa tidak).

 

 

Aku masih ingat pertama kali aku mendengar berita ini melalui Facebook, aku langsung kaget dan nyaris teriak. Jelas lah, aku tidak akan pernah menyangka Bapa Suci akan melakukan hal ini, meskipun aku tahu persis bahwa paus memang bisa mengundurkan diri dengan syarat pengunduran diri beliau harus dengan sukarela, tanpa paksaan dari siapapun. Tak lama setelah berita pertama itu muncul, berita-berita lainnya dan postingan berisi tanggapan media dan masyarakat mulai bermunculan, tidak hanya di FB maupun Twitter, tapi juga di blog dan forum.

Pope Benedict XVI visits the Blue Mosque in IstanbulSatu postingan yang terasa sangat konyol bagiku adalah postingan yang menyatakan bahwa paus mengundurkan diri dari jabatannya karena mau menjadi mualaf, dilatarbelakangi dari kunjungan paus ke sebuah mesjid di Turki di tahun 2006 dan posisi doa beliau yang seperti melakukan sholat. Yang memprihatinkan, tidak sedikit orang yang percaya dengan postingan ini dan menyebarkannya ke mana-mana dengan maksud dan tujuan yang negatif dan sarat akan potensi konflik SARA. Padahal, jika dilihat secara seksama, terutama dari video yang beredar di Youtube, Bapa Suci samasekali tidak melakukan sholat. Beliau hanya berdoa. Lagipula, saudara-saudara kita yang Muslim pasti jeli dengan posisi tubuhnya Bapa Suci yang jelas-jelas tidak mirip dengan orang yang sedang sholat. Jadi, kenapa mesti dipersoalkan lagi, teman-teman? 🙂

Berikut ini salah satu video kunjungan beliau ke mesjid yang kudapat dari internet. Benar tidaknya postingan tersebut, bisa teman-teman simpulkan dari video ini.

Nah, lepas dari postingan di atas, banyak hal yang patut kita teladani dari Bapa Suci. Salah satunya, adalah kerendahan hatinya. Kenapa? Coba kita perhatikan bersama.

26934_1421677308256_4888776_nSejak awal, Kardinal Ratzinger – nama asli Bapa Suci – amat disegani karena pemikiran-pemikirannya yang konservatif dan radikal. Hal itulah yang membuat Bapa Suci Yohanes Paulus II mengangkat Kardinal Ratzinger di tahun 1981 sebagai prefek Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman, yang bertanggungjawab penuh dalam menjaga ajaran-ajaran Gereja Katolik. Popularitas kardinal asal Jerman ini semakin meningkat setelah konklaf tahun 2005 mengangkat dirinya sebagai Penerus Tahta St. Petrus. Dengan segala hal yang beliau capai itu, harusnya beliau bisa melakukan apapun yang beliau suka sebagai sosok pemimpin. Hanya saja, nampaknya Bapa Suci tidak berambisi untuk melakukannya. Prinsip beliau adalah apa yang dia dapat adalah pemberian Tuhan sebagai bentuk pelayanannya pada Gereja Universal, pada umatNya, dan pada dunia. Bapa Suci sudah merasa lelah dan terlalu tua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanannya tersebut, seperti tertuang dalam pernyataan pengunduran dirinya. Bapa Suci ingin supaya Gereja dipimpin oleh seorang paus yang jauh lebih baik dari dirinya, yang bisa membawa Gereja pada Sang Cahaya Illahi, yakni Kristus sendiri. Yang lebih hebatnya lagi, semasa pensiun nanti, Bapa Suci akan mendedikasikan hidupnya dalam doa dan silih demi Gereja dan umat-umatNya, juga komitmen beliau untuk taat pada penerusnya nanti, tanpa syarat apapun. Hebat kan beliau? 😀

Pada akhirnya, mari kita sekarang berdoa pada Allah di surga, untuk memohonkan Roh KudusNya agar semakin berkarya dalam diri Gereja, terutama para kardinal yang dalam waktu dekat akan mengadakan konklaf untuk memilih penerus Tahta St. Petrus. Kita serahkan Bapa Suci Emeritus Benediktus XVI dan penerusnya nanti, serta seluruh umat beriman di manapun mereka berada. 🙂

 

Grazie Santo Padre Benedetto XVI. Arrivederci. Perga per noi!
(Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI. Sampai jumpa lagi. Doakan kami!)

 

R.M.T.B.D.J

12984_10200748066410332_629566313_n

Helikopter yang mengangkut Bapa Suci pergi meninggalkan Vatikan, disaksikan ribuan peziarah yang berada di lapangan St. Petrus dan di atas kubah basilika. Helikopter akan membawa Bapa Suci ke peristirahatan paus di Castel Gandolfo, tempat di mana Bapa Suci akan menghabiskan masa pensiunnya selama 2 bulan dan selanjutnya di sebuah biara kecil di dalam Vatikan.

525192_10200750371707963_114700142_n

Bapa Suci memberikan berkatnya yang terakhir kepada para peziarah yang berkumpul di Castel Gandolfo.

522514_10151322127448061_1684809596_n

Percakapan Yesus Dengan Seorang Pendiri Gereja #justforfun

Yesus: “Gereja-Ku Kudirikan di atas Petrus, rasul-Ku, dikuatkan dan dikembangkan oleh Paulus, sahabat-Ku ……”

Pendiri gereja: “Hai, Yesus!! Aku telah mendirikan sebuah gereja atas nama-Mu!”

Yesus: Wow, kamu hebat!”

Pendiri gereja: “Kenapa?”

Yesus: “Karena engkau bisa mendirikan gereja seperti-Ku. Engkau sama seperti Aku. Kita berdua disebut pendiri Gereja.”

Pendiri gereja: “Iya, aku hebat, Yesus, tapi tolong berikanlah kekuatan-Mu kepada gerejaku karena kudirikan atas nama-Mu.”

Yesus: “Masa begitu sih? Kalau engkau mendirikan gereja maka engkau juga harus bertanggung jawab atasnya. Engkau kan sang pendirinya.”

Pendiri gereja: “Tapi …….”

Yesus: “Saudara, Aku telah bersabda kepada Petrus, ‘…di atas batu karang ini Aku akan dirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan pernah menguasainya sampai akhir zaman.'”

 

 

 

 

 

Sumber: ————————-

Ketika Sang Tuan Melayani Para Hamba …………..

Pernah terpikir tidak seorang pemimpin melakukan hal ini pada hambanya?

Mungkin kita berpikir bahwa apa yang dilakukan Bapa Suci ini hanyalah sebatas upacara dan tradisi belaka. Namun sadarlah, upacara dan tradisi ini meneruskan apa yang dulu pernah dilakukan Yesus saat membasuh kaki murid-muridNya. Pembasuhan kaki menjadi sebuah awal dan peringatan untuk hidup saling melayani dan rendah hati kepada sesama. Peringatan ini berlaku sangat keras kepada para pemimpin yang maunya dilayani ketimbang melayani, serta terlalu memanjakan diri sendiri ketimbang memperdulikan bawahannya yang mati kelaparan.

Jadi, sudahkah kita belajar hidup saling melayani dan rendah hati? 🙂

Ajaran Gereja Katolik Mengenai Indulgensi

Ajaran Gereja Katolik mengenai Dosa

Setiap dosa mempunyai dua unsur, yakni : kesalahan dan hukuman dosa. Setiap dosa yang dilakukan manusia tidak hanya “melukai” hati Allah, tetapi juga meninggalkan luka-luka rohani pada jiwanya (kecenderungan pada dosa-dosa tertentu). Bagi orang yang melakukan dosa (berat maupun ringan) dan kemudian orang itu bertobat dan mohon ampun, maka Allah akan mengampuni kesalahannya. Tetapi untuk membersihkan jiwanya dari luka-luka rohani itu, Allah memberikan apa yang disebut hukuman sementara. Sedangkan bagi orang yang melakukan dosa berat tetapi ia tidak mau bertobat, maka Allah menyediakan bagi dia hukuman kekal di neraka (terpisah secara definitif dari Allah). Kesimpulannya : jika orang mendapat pengampunan dosa, yang diampuni adalah kesalahannya, sedangkan hukuman sementaranya tidak hilang.

Cara Menghilangkan Hukuman Sementara

Ada dua cara menghilangkan hukuman sementara, yaitu :

  • Dalam konteks Sakramen Tobat : Hukuman sementara bisa dijalani lewat penitensi (laku-tobat) yang ditentukan oleh imam. Penitensi tersebut bisa berupa matiraga, doa, ziarah, amal baik, memberi dana kepada Gereja, dan lainnya. Penitensi bisa berlangsung lama (bertahun-tahun) dan cukup berat. Sedangkan jika orang tidak sempat menjalani hukuman sementara tersebut semasa ia masih hidup, ia dapat menjalani/menyelesaikannya di api penyucian. 
  • Di luar konteks Sakramen Tobat : Pembebasan dari hukuman sementara dapat diterima orang berkat doa Gereja. Pemberian keringanan dari hukuman sementara inilah yang disebut indulgensi (= “kemurahan hati”).

Teologi Katolik mengenai Indulgensi

Dalam menjalani hukuman sementara, orang Kristen tidaklah sendirian. Yesus Kristus beserta seluruh Gereja-Nya bersedia membantu orang itu, asalkan orang itu mempunyai niat dan usaha yang baik juga. Atas doa Gereja, maka Yesus dan para kudus-Nya dapat meringankan bahkan menghapuskan seluruh hukuman sementara yang harus dijalani orang tersebut. Indulgensi diberikan berkat doa Gereja dan doa itu sungguh efektif karena Gereja mendapat kuasa untuk melepas dan mengikat dosa (bdk. Mat18:18; Yoh 20:22-23). Akan tetapi saja dalam hal penerimaan indulgensi dituntut sikap yang pantas dari si penerima. Sikap ini diungkapkan dalam perbuatan-perbuatan tertentu (misal : memberi sedekah, berdoa, dan sebagainya).

Ajaran mengenai indulgensi tertuang dalam ajaran Paus Paulus VI, Indulgentiarum Doctrina (1 Januari 1967), yang menjadi dasar Kitab Hukum Kanonik/Codex luris Canonici 1983 dan juga ajaran Katekismus Gereja Katolik yang terbaru. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) dikatakan bahwa “indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah dari hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi syarat-syarat tertentu, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para kudus” (Kanon 992).

Dalam memberi indulgensi, Gereja bermaksud bukan saja menolong umat beriman untuk menyilih hukuman sementara atas dosa yang telah diampuni kesalahannya, tetapi juga untuk mendorong kaum beriman agar melakukan perbuatan-perbuatan saleh, tobat dan cinta kasih, terutama perbuatan-perbuatan yang semakin mengembangkan iman dan kebaikan bersama (Indulgentiarum Doctrina no. 8,4). Barangsiapa rajin memperoleh indulgensi, orang itu harus berusaha berkembang dalam cinta kasih yang satu-satunya memberi nilai kepada perbuatan kita dan mengembangkan kemampuan kita untuk semakin mencintai Allah. Paus Paulus VI menegaskan bahwa indulgensi, bagi mereka yang menggunakannya secara tepat, membawa keuntungan sebagai berikut :

  • Orang didorong untuk menjadi rendah hati, sebab orang beriman itu mengerti bahwa dengan kekuatannya sendiri ia tidak dapat memulihkan kejahatan yang dilakukannya karena dosa.
  • Orang didorong juga untuk melakukan perbuatan cinta kasih, sebab indulgensi itu memberi pengertian tentang betapa eratnya hubungan seseorang dengan yang lain dalam Kristus, dan juga betapa besar pengaruh yang berasal dari kehidupan yang baik dari seseorang bagi orang lain, supaya mereka ini juga dapat bersatu secara lebih mudah dan lebih erat dengan Allah Bapa.

Norma-norma yang Berlaku untuk Memperoleh Indulgensi

Berdasarkan KHK kanon 993, indulgensi terdiri atas indulgensi sebagian (partial indulgence) kalau menghapus sebagian dari hukuman sementara, dan indulgensi penuh {plenary indulgence) kalau membebaskan manusia dari seluruh hukuman sementara.

Untuk memperoleh indulgensi, orang harus memiliki kehendak untuk memperolehnya dan mematuhi perbuatan-perbuatan lainnya yang tercantum dalam peraturan-peraturan Gereja. Indulgensi sebagian dapat diperoleh lebih dari satu kali sehari, kecuali ada ketentuan lain. Indulgensi penuh yang berkaitan dengan sebuah gereja atau “tempat ibadat” (oratorio), perbuatan yang harus dikerjakan adalah : mengunjungi tempat suci itu dan mengucapkan doa Bapa Kami satu kali dan Aku Percaya satu kali. Sedangkan untuk memperoleh indulgensi penuh, harus memenuhi persyaratan :

  1. menerima sakramen tobat : dapat dilaksanakan beberapa hari sebelum atau sesudah melaksanakan perbuatan yang ditentukan Gereja dengan satu Sakramen Tobat dapat diperoleh lebih dari satu indulgensi penuh.
  2. menerima komuni kudus : sangat diharapkan diterima pada hari yang sama dengan pelaksanaan perbuatan yang ditentukan Gereja. Satu komuni kudus hanya dapat diperoleh satu indulgensi penuh.
  3. mendoakan intensi Sri Paus : mendoakan satu kali Bapa Kami dan satu kali Salam Maria, dan diberi kebebasan mengucapkan doa lain menurut kesalehan dan devosi masing-masing sangat diharapkan diterima pada hari yang sama dengan pelaksanaan perbuatan yang ditentukan Gereja, satu intensi Sri Paus hanya dapat diperoleh satu indulgensi penuh.
  4. tidak lekat pada dosa apapun

Indulgensi bisa diberikan Gereja kepada jiwa-jiwa di api pencucian sehingga jiwa itu segera masuk surga dan indulgensi juga dapat diterima oleh orang yang masih hidup di dunia (KHK kanon 994). Otoritas Gereja menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan orang untuk mendapatkan indulgensi (KHK kanon 996 § 2). Menurut Indulgentiarum Doctrina, perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan untuk memperoleh indulgensi adalah :

  • Menyembah Sakramen Mahakudus (no. 3) : Orang beriman yang mengunjungi Sakramen Mahakudus diberikan indulgensi penuh jika kunjungan itu diperpanjang selama 30 menit; berkurang dari waktu itu memperoleh indulgensi sebagian. Doa meditasi selama 30 menit di hadapan Sakramen Mahakudus dalam tabernakel mendatangkan indulgensi penuh.
  • Pemberkatan apostolik (no. 12) : Diberikan indulgensi penuh kepada orang beriman yang menerima berkat apostolik langsung atau lewat radio/TV yang diberikan paus secara urbi et orbi atau berkat apostolik yang diberikan uskup (3 kali setahun) dalam kesempatan yang ditentukannya sendiri.
  • Kunjungan ke pemakaman (no. 13) : Orang beriman yang mengunjungi pemakaman dari tanggal 1 sampai dengan 8 November diberikan indulgensi penuh. Dalam kunjungan itu sekurang-kurangnya harus berdoa di dalam hati bagi yang sudah meninggal. Indulgensi ini diperoleh hanya untuk orang-orang yang sudah meninggal. Di hari lain, diperoleh indulgensi sebagian.
  • Menyembah salib (no. 17) : Orang beriman yang ikut dalam perayaan liturgi pada Jumat Agung untuk menyembah salib mulia dapat memperoleh indulgensi penuh.
  • Retret (no. 25) : Orang beriman yang mengadakan retret, minimum selama 3 hari penuh, dapat memperoleh indulgensi penuh.
  • Di saat kematian (no. 28) : Dengan berkat apostolik yang diberi oleh seorang imam di saat kematian, si sakit dapat memperoleh indulgensi penuh. Juga bila tidak ada imam, Gereja memberikan indulgensi penuh kepada orang yang sedang menghadapi sakrat maut asal orang itu selama hidupnya pernah mengucapkan doa-doa.
  • Alat-alat suci yang telah diberkati oleh paus atau uskup (no. 35) : Orang beriman yang menggunakan secara saleh pada Hari Raya Santo etrus dan Paulus (29 Juni), alat-alat suci yang telah diberkati paus atau uskup dapat memperoleh indulgensi penuh.
  • Komuni pertama (no. 42) : Orang beriman yang untuk pertama kali menyambut Sakramen Mahakudus, dan mereka yang ikut perayaan itu, dapat memperoleh indulgensi penuh.
  • Perayaan misa perdana seorang imam (no. 43 dan 49) : Diberikan indulgensi penuh kepada imam yang merayakan untuk pertama kali Perayaan Ekaristi; indulgensi ini diperoleh juga oleh kaum beriman yang ikut perayaan itu. Hal yang sama terjadi dalam perayaan 25, 50 dan 60 tahun imamat.
  • Doa rosario (no. 48) : Orang beriman yang berdoa rosario dapat memperoleh indulgensi penuh jika doa rosario diadakan di gereja, “tempat ibadat umum”, komunitas religius, serikat-serikat pribadi, dan dalam keluarga. Indulgensi sebagian dalam kesempatan lain, dengan syarat : cukup mengucapkan 1/3 dari 15 misteri dan didoakan tanpa henti, sambil berdoa harus juga direnungkan misteri-misteri itu.
  • Membaca Kitab Suci (no. 50) : Diberikan indulgensi sebagian kepada orang beriman yang membaca Kitab Suci sebagai bacaan rohani sambil menghormatinya sebagai Sabda Allah. Jika bacaan Kitab Suci diperpanjang selama 30 menit diberikan indulgensi penuh.
  • Sinode para uskup (no. 58) : Diberikan sekali selama pertemuan itu indulgensi penuh kepada orang beriman yang mengunjungi gereja yang telah ditentukan untuk pertemuan sinode. Di gereja itu harus berdoa satu kali Aku Percaya dan satu kali Bapa Kami.
  • Jalan salib (no. 63) : Orang beriman yang berdoa jalan salib dapat memperoleh indulgensi penuh.
  • Kunjungan ke Gereja Paroki (no. 65) : Orang beriman dapat memperoleh indulgensi penuh kalau mengunjungi gereja paroki pada pesta pelindung paroki itu.
  • Pembaharuan janji baptis (no. 70) : Orang  beriman  yang  dalam  Perayaan  Malam  Paskah  ikut memperbaharui janji baptis dapat memperoleh indulgensi penuh. Begitu juga kalau diperbaharui pada hari ulang tahun pembaptisan sendiri.

Penutup

Yang perlu ditekankan di sini, indulgensi tidak boleh diukur secara matematika. Penyelewengan dalam praktek indulgensi menjadi salah satu faktor yang menyulut munculnya Gereja Reformasi (Protestan). Pada waktu itu orang bisa menerima indulgensi setelah memberi sejumlah uang kepada Gereja sebagai ungkapan tobatnya. Orang mendapat kesan seakan-akan indulgensi itu bisa dibeli dengan uang. Padahal, pemberian uang itu sekadar ungkapan dari sikap hati yang bertobat dan bukan pembelian indulgensi, apalagi pembelian pengampunan dosa. Pemberian indulgensi harus menghidupkan dalam diri orang beriman, kerinduan untuk semakin bertobat dan berkembang dalam cinta kasih adikodrati.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150343108417286

Urbi et Orbi – Berkat Bagi Roma dan Dunia – Minggu Paskah, 9 April 2012 dari Vatikan

Seperti biasa, Paus dalam Natal dan Paskah selalu memberikan berkat Urbi et Orbi nya dari balkon Basilika St. Petrus, Vatikan. Berkat ini ditujukan bukan hanya untuk seluruh umat yang hadir di sana, melainkan juga umat yang mengikuti misa Paskah di Vatikan melalui radio, televisi, dan berbagai macam alat teknologi seperti live-stream. Dalam berkat ini diberikan pula indulgensi/peringanan hukuman dosa secara penuh. Selengkapnya lihat link saya di sini.
Selain berkat, Paus pada kemarin (8/4) juga memberikan renungan Paskah. Berikut saya ambil dari situs resmi Vatikan dalam bahasa Inggris.

 
Dear Brothers and Sisters in Rome and throughout the world!

“Surrexit Christus, spes mea” – “Christ, my hope, has risen” (Easter Sequence).

May the jubilant voice of the Church reach all of you with the words which the ancient hymn puts on the lips of Mary Magdalene, the first to encounter the risen Jesus on Easter morning. She ran to the other disciples and breathlessly announced: “I have seen the Lord!” (Jn 20:18). We too, who have journeyed through the desert of Lent and the sorrowful days of the Passion, today raise the cry of victory: “He has risen! He has truly risen!”

Every Christian relives the experience of Mary Magdalene. It involves an encounter which changes our lives: the encounter with a unique Man who lets us experience all God’s goodness and truth, who frees us from evil not in a superficial and fleeting way, but sets us free radically, heals us completely and restores our dignity. This is why Mary Magdalene calls Jesus “my hope”: he was the one who allowed her to be reborn, who gave her a new future, a life of goodness and freedom from evil. “Christ my hope” means that all my yearnings for goodness find in him a real possibility of fulfilment: with him I can hope for a life that is good, full and eternal, for God himself has drawn near to us, even sharing our humanity.

But Mary Magdalene, like the other disciples, was to see Jesus rejected by the leaders of the people, arrested, scourged, condemned to death and crucified. It must have been unbearable to see Goodness in person subjected to human malice, truth derided by falsehood, mercy abused by vengeance. With Jesus’ death, the hope of all those who had put their trust in him seemed doomed. But that faith never completely failed: especially in the heart of the Virgin Mary, Jesus’ Mother, its flame burned even in the dark of night. In this world, hope can not avoid confronting the harshness of evil. It is not thwarted by the wall of death alone, but even more by the barbs of envy and pride, falsehood and violence. Jesus passed through this mortal mesh in order to open a path to the kingdom of life. For a moment Jesus seemed vanquished: darkness had invaded the land, the silence of God was complete, hope a seemingly empty word.

And lo, on the dawn of the day after the Sabbath, the tomb is found empty. Jesus then shows himself to Mary Magdalene, to the other women, to his disciples. Faith is born anew, more alive and strong than ever, now invincible since it is based on a decisive experience: “Death with life contended: combat strangely ended! Life’s own champion, slain, now lives to reign”. The signs of the resurrection testify to the victory of life over death, love over hatred, mercy over vengeance: “The tomb the living did enclose, I saw Christ’s glory as he rose! The angels there attesting, shroud with grave-clothes resting”.

Dear brothers and sisters! If Jesus is risen, then – and only then – has something truly new happened, something that changes the state of humanity and the world. Then he, Jesus, is someone in whom we can put absolute trust; we can put our trust not only in his message but in Jesus himself, for the Risen One does not belong to the past, but is present today, alive. Christ is hope and comfort in a particular way for those Christian communities suffering most for their faith on account of discrimination and persecution. And he is present as a force of hope through his Church, which is close to all human situations of suffering and injustice.

May the risen Christ grant hope to the Middle East and enable all the ethnic, cultural and religious groups in that region to work together to advance the common good and respect for human rights. Particularly in Syria, may there be an end to bloodshed and an immediate commitment to the path of respect, dialogue and reconciliation, as called for by the international community. May the many refugees from that country who are in need of humanitarian assistance find the acceptance and solidarity capable of relieving their dreadful sufferings. May the paschal victory encourage the Iraqi people to spare no effort in pursuing the path of stability and development. In the Holy Land, may Israelis and Palestinians courageously take up anew the peace process.

May the Lord, the victor over evil and death, sustain the Christian communities of the African continent; may he grant them hope in facing their difficulties, and make them peacemakers and agents of development in the societies to which they belong.

May the risen Jesus comfort the suffering populations of the Horn of Africa and favour their reconciliation; may he help the Great Lakes Region, Sudan and South Sudan, and grant their inhabitants the power of forgiveness. In Mali, now experiencing delicate political developments, may the glorious Christ grant peace and stability. To Nigeria, which in recent times has experienced savage terrorist attacks, may the joy of Easter grant the strength needed to take up anew the building of a society which is peaceful and respectful of the religious freedom of all its citizens.

Happy Easter to all!

 

 

Berikut video Urbi et Orbi dari Vatikan pada Misa Paskah 2012 kemarin (8/4).

Video

Kebenaran Tentang Indulgensi

Salah satu skandal terkenal Gereja Katolik di abad pertengahan adalah “penjualan indulgensi” yang digunakan untuk pembangunan Basilika St. Petrus di Vatikan. Hal inilah yang menimbulkan perpecahan dan reformasi Protestan di masa itu. Apakah memang benar waktu itu indulgensi “dijual”?

Sebelumnya, akan saya jelaskan dulu apa yang dimaksud dengan indulgensi. Saya mengambil dari http://yesaya.indocell.net/id228.htm untuk membahas soal indulgensi.

Pertanyaan 1: Apa itu Indulgensi?

Indulgensi adalah harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.

Tuhan memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi atas perbuatan-perbuatan atau doa-doa tertentu, sehingga ketika kita melakukan perbuatan atau doa tersebut, kita boleh memperoleh indulgensi.

Meskipun indulgensi tidak dapat dipergunakan untuk orang lain yang masih hidup (mereka harus memperoleh indulgensinya sendiri!), kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di surga dengan mempergunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.

2. Kenapa kita memerlukan Indulgensi?

Kamu mungkin berpikir, “Tetapi, bukankah saya sudah menerima Sakramen Tobat dan Tuhan sudah mengampuni dosa-dosa saya! Mengapa saya masih memiliki “hutang” kepada Tuhan?”

Frank Sheed, seorang pengkhotbah Katolik dari Inggris yang terkenal, menjawabnya demikian: Dosa adalah seperti menancapkan sebuah paku pada sepotong kayu. Ketika kamu mengakukan dosa-dosamu pada imam, dan Tuhan mengampunimu, sama halnya seperti mencabut paku dari kayu tersebut. Paku sudah tidak ada lagi, tetapi lubang yang ditimbulkannya tetap ada dan harus diperbaiki. Dengan berdosa kita telah melukai jiwa kita dan sekarang kita harus memulihkan kembali luka-luka itu.

Karena Dosa Asal (dosa ketidaktaatan Adam dan Hawa di taman Eden), manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik. Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang. Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan penitensi. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali; mereka seringkali melakukan matiraga atau silih agar dapat lebih menguasai keinginan-keinginan mereka.

Namun demikian, karena kita tidak dapat melihat luka yang diakibatkan oleh dosa pada jiwa kita, kita seringkali tidak cukup menyesali dosa-dosa kita itu; kita lupa untuk berdoa serta lupa melakukan silih. Karenanya, jiwa kita harus dibersihkan, baik dalam masa kita hidup di dunia melalui berbagai pencobaan, atau kelak – sesudah kita meninggal – di api penyucian. Tuhan, melalui gereja-Nya, menyediakan bagi kita suatu “bonus” bagi doa dan silih yang kita lakukan, yaitu indulgensi. Jika kita melakukan suatu perbuatan atau mendaraskan suatu doa yang dinyatakan oleh Gereja dapat mendatangkan indulgensi (misalnya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, mendaraskan doa Rosario dll), Gereja mempergunakan harta pusaka-Nya berupa jasa-jasa Kristus untuk “menebus” sebagian atau seluruh hutang dosa kita kepada Tuhan serta menyucikan jiwa kita bagi kita, selama kita mempunyai niat untuk memperoleh indulgensi.

Seorang biarawati dalam biara St. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya indulgensi dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. Ketika biarawati itu meninggal, St. Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung naik menuju surga tanpa melalui api penyucian! Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju surga. Yesus menjawab bahwa itu semua karena semua indulgensi yang dengan setia diperolehnya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya!

3. HARTA PUSAKA GEREJA

Gereja Katolik mempunyai wewenang untuk memberikan indulgensi karena gereja memperolehnya dari kekayaan tak terhingga jasa-jasa Kristus, Bunda Maria dan semua orang kudus. Beata Maria dari Quito, seorang biarawati Spanyol, melihat dalam suatu penglihatan suatu harta pusaka yang berlimpah, yang – diterangkan kepadanya oleh Tuhan – melambangkan segala rahmat dan jasa-jasa Yesus (harta pusaka Gereja!) dari mana indulgensi diperoleh. Segala rahmat dan jasa-jasa ini dapat diperoleh siapa saja yang memenuhi persyaratan, yang biasanya amat mudah, untuk memperoleh indulgensi. Umat beriman yang tidak peduli untuk mendapatkan keuntungan dari indulgensi ini dapat diumpamakan seperti seorang pengembara yang melewati suatu padang penuh dengan perhiasan berharga, yang tidak mau merepotkan diri untuk memungut dan mengisi kantungnya dengan harta pusaka itu, meskipun ia tahu bahwa ia akan memerlukan harta tersebut setibanya di tempat tujuan.

Gereja menerima wewenang untuk memberikan indulgensi dari Yesus, yaitu ketika Ia memberikan kunci kerajaan Surga kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Dalam bahasa modern, mungkin Yesus akan mengatakan, “Aku memberimu PIN untuk rekening bank surgawi-Ku.”

Pada abad kelimabelas dan keenambelas, Gereja memberikan indulgensi kepada mereka yang memberikan sumbangan untuk pembangunan katedral-katedral indah yang sedang dibangun pada saat itu. Sayang sekali, hal tersebut menimbulkan salah tafsir bahwa Gereja menjual indulgensi untuk mendapatkan uang. Sebagai akibatnya, kaum reformasi Protestan masa itu menolak mentah-mentah ajaran tentang indulgensi karena menganggapnya sebagai penyalahgunaan kuasa Gereja. Tentu saja mereka salah; meski pun mungkin ada beberapa penyalahgunaan, tetapi kuasa Gereja untuk memberikan indulgensi diberikan oleh Tuhan sendiri. Kaum Protestan itu ada benarnya juga ketika mengatakan bahwa kita tidak dapat sekedar membeli indulgensi seperti obat “mujarab” bagi jiwa kita! Kita harus mempunyai semangat penyesalan atas dosa-dosa kita agar dapat memperoleh manfaat indulgensi.

Dari rujukan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa terjadi kesalahpahaman tentang penggunaan indulgensi, walau memang harus diakui praktek penggunaan indulgensi pada waktu itu sedikit menyimpang dari kebijakan Gereja pada waktu itu. Namun yang perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa pada waktu itu indulgensi tidak bisa dengan mudah didapat para donatur! Kenapa? Karena selain menyumbang, mereka harus melakukan berbagai macam persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan indulgensi, seperti melakukan amal pada orang-orang tidak mampu, menerima sakramen Tobat, serta menyambut Komuni Kudus. Jadi Gereja tidak pernah mempermudah seseorang untuk mendapatkan indulgensi. Harus ada usaha, terutama niat untuk bertobat dan berbuat baik pada sesama.

Lalu kemudian, bagaimana cara mendapatkan indulgensi? Silahkan baca di http://yesaya.indocell.net/id228.htm dan/atau http://katolisitas.org/2193/indulgensi-harta-kekayaan-gereja.

Jika Anda mau tahu lebih banyak soal “penyalahgunaan” indulgensi pada abad Pertengahan, silahkan baca http://katolisitas.org/1665/katolik-menyalahgunakan-indulgensi-atau-surat-pengampunan-dosa

Semoga dengan tulisan dan saduran saya ini dapat membuka mata Anda mengenai Gereja Katolik yang sebenarnya. Sungguh menyedihkan bahwa banyak orang yang berusaha menghancurkan Gereja Katolik, terutama media pers, karena ketidaktahuan dan kesalahpahaman masyarakat tentang Gereja Katolik.

“Tuhan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Iesu Homine Salvatore

R.M.T.B.D.J