Percakapan Yesus Dengan Seorang Pendiri Gereja #justforfun

Yesus: “Gereja-Ku Kudirikan di atas Petrus, rasul-Ku, dikuatkan dan dikembangkan oleh Paulus, sahabat-Ku ……”

Pendiri gereja: “Hai, Yesus!! Aku telah mendirikan sebuah gereja atas nama-Mu!”

Yesus: Wow, kamu hebat!”

Pendiri gereja: “Kenapa?”

Yesus: “Karena engkau bisa mendirikan gereja seperti-Ku. Engkau sama seperti Aku. Kita berdua disebut pendiri Gereja.”

Pendiri gereja: “Iya, aku hebat, Yesus, tapi tolong berikanlah kekuatan-Mu kepada gerejaku karena kudirikan atas nama-Mu.”

Yesus: “Masa begitu sih? Kalau engkau mendirikan gereja maka engkau juga harus bertanggung jawab atasnya. Engkau kan sang pendirinya.”

Pendiri gereja: “Tapi …….”

Yesus: “Saudara, Aku telah bersabda kepada Petrus, ‘…di atas batu karang ini Aku akan dirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan pernah menguasainya sampai akhir zaman.'”

 

 

 

 

 

Sumber: ————————-

Iklan

Sang Penghibur Telah Tiba – Renungan Hari Raya Pentakosta 2012

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.– Yoh 16:13 –

Hari ini, 2000 tahun yang lalu, Tuhan menepati janjiNya untuk memberikan Sang Penghibur kepada para muridNya dengan menurunkan Roh Kudus, Sang Roh Kebenaran, kepada diri masing-masing para murid. Buhan hal yang mudah bagi para murid untuk menanti datangnya Sang Penghibur dalam kedamaian dan kenyamanan batin.

Sembilan hari mereka berada dalam ketakutan yang besar. Peluang dan ancaman para ahli Taurat dan orang Farisi untuk menangkap mereka sangatlah besar. Tak heran pintu masuk di ruangan yang  mereka tempati dikunci dan ditutup rapat-rapat. Pikiran mereka hanya terarah pada Sang Penghibur yang dijanjikan Tuhan. Mereka berdoa dan menanti doa penuh harap, meskipun mereka berada dalam bayang-bayang penangkapan dan penggerebekkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Virgin Mary with Jesus' apostles received Holy Spirit

Virgin Mary with Jesus’ apostles received Holy Spirit

Pada akhirnya, Yesus pun datang dan menyapa mereka dalam rupa lidah-lidah api yang hinggap di kepala masing-masing dari para murid. Tak akan ada yang menyangka, peristiwa ini secara dramatis mengubah paradigma para murid. Api yang menyala di atas kepala mereka serasa menyalakan suatu semangat yang besar untuk mewartakan kabar Kristus ke penjuru dunia. Kini para murid telah diliputi perasaan bahagia, sukacita, dan semangat pewartaan yang berkobar-kobar, jauh berbeda dengan kondisi para murid sebelum Roh Kudus datang. Mereka tidak merasa takut lagi dengan ancaman orang-orang Yahudi, bahkan dengan berani siap menghadapinya bersama-sama sebagai murid Kristus. Perbedaan bahasa, golongan, dan status sosial terasa tidak ada artinya, karena Roh Kudus sendiri telah membuatnya sama dan sejajar dalam cinta kasih Kristus.

“Roh Kudus datang bukan untuk memecah persatuan, bukan untuk membuat bingung, bukan untuk mempertajam perbedaan tetapi Ia datang untuk merekatkan kesatuan, memperbaiki yang sudah rusak agar kembali baik, merehabilitasi chaos (kekacauan) menjadi kosmos (keteraturan) harmoni. Ia datang memberi harapan hidup bagi yang putus asa dan menggerakkan yang malas agar kembali menemukan semangat hidup. Roh Kudus bukan ciptaan manusia sehingga bisa disetir sesuka hati. Maka tidak ada satu kelompok pun yang bisa secara eksklusif mengklaim-Nya sebagai miliknya sendiri, sementara orang lain tidak. Ia adalah Allah sendiri yang bergerak dan bertiup ke mana Ia kehendaki.”– Facebook Gereja Katolik –

Hari Raya Pentakosta adalah sebuah tonggak sejarah bagi karya pewartaan keselamatan dari Allah sendiri melalui GerejaNya yang didirikan oleh Yesus sendiri. Tak heran, hari ini dinyatakan menjadi hari ulang tahun Gereja Universal. Dua ribu tahun berlalu, dengan segala jenis badai dan angin semilir yang berlalu, berkat darah para martir yang semakin menyuburkan iman dan karya kerasulan, Gereja tetaplah kokoh berdiri. Tidak mungkin Gereja akan terus berdiri tanpa bimbingan dan dorongan Roh Kudus yang selalu menghembusi Gereja dan umat-umatNya sekalian.

Maka di hari ini, setelah 9 hari kita bersama berdoa dan menantikan datangnya Roh Kudus, bersyukurlah dan bergembiralah sebab Sang Penghibur telah tiba! Mari kita sambut Roh Kudus yang datang hari ini dengan iman yang bersih dan matang agar Roh Kudus mampu berkarya dalam hati kita, sehingga kita dapat menjadikan hidup kita ini sebagai berkat, baik untuk kita sendiri maupun orang-orang yang ada di sekitar kita.

UTUSLAH ROH-MU YA TUHAN

Reff:

Utuslah RohMu ya Tuhan
Dan jadi baru seluruh muka bumi

Bait:

1. Allahku, NamaMu hendak kupuji. Engkau amat agung. Berdandan sinar kebenaran.
2. Ya Tuhan berselubungkan cahaya. Bagai jubah raja, Langit Kau pasang. Bagai kemah.
3. Firmanmu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar, tunduk padaMu. Bagai hamba.

Semoga karunia dan buah-buah roh mampu menguatkan dan menyuburkan hati kita untuk berani mewartakan Injil Kristus melalui perbuatan kita sehari-hari kepada sesama.

Demi kemuliaan Tuhan, dalam perantaraan PutraNya Yesus Kristus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Di bawah ini adalah cuplikan Misa Penerimaan Sakramen Krisma di Basilika St. Petrus, Vatikan. Dalam Sakramen Krisma, peran Roh Kudus menjadi semakin dihidupkan dan diaktifkan, setelah sebelumnya Roh Kudus diterimakan dalam diri seseorang melalui Sakramen Baptis. Harapannya semoga Roh Kudus mampu membangkitkan semangat seseorang yang telah menerimanya untuk ambil bagian dalam Tritugas Kristus, yakni sebagai imam, raja, dan nabi, guna pewartaan dan perutusan Injil Tuhan.

(ditulis oleh R.M.T.B.D.J)

Kebenaran Tentang Indulgensi

Salah satu skandal terkenal Gereja Katolik di abad pertengahan adalah “penjualan indulgensi” yang digunakan untuk pembangunan Basilika St. Petrus di Vatikan. Hal inilah yang menimbulkan perpecahan dan reformasi Protestan di masa itu. Apakah memang benar waktu itu indulgensi “dijual”?

Sebelumnya, akan saya jelaskan dulu apa yang dimaksud dengan indulgensi. Saya mengambil dari http://yesaya.indocell.net/id228.htm untuk membahas soal indulgensi.

Pertanyaan 1: Apa itu Indulgensi?

Indulgensi adalah harta pusaka surgawi yang istimewa yang dianugerahkan Gereja kepada kita untuk melunasi hutang dosa kita kepada Tuhan serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.

Tuhan memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi atas perbuatan-perbuatan atau doa-doa tertentu, sehingga ketika kita melakukan perbuatan atau doa tersebut, kita boleh memperoleh indulgensi.

Meskipun indulgensi tidak dapat dipergunakan untuk orang lain yang masih hidup (mereka harus memperoleh indulgensinya sendiri!), kita dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian agar lebih cepat tiba di surga dengan mempergunakan indulgensi yang kita terima untuk membantu mereka melunasi hutang dosa mereka kepada Tuhan.

2. Kenapa kita memerlukan Indulgensi?

Kamu mungkin berpikir, “Tetapi, bukankah saya sudah menerima Sakramen Tobat dan Tuhan sudah mengampuni dosa-dosa saya! Mengapa saya masih memiliki “hutang” kepada Tuhan?”

Frank Sheed, seorang pengkhotbah Katolik dari Inggris yang terkenal, menjawabnya demikian: Dosa adalah seperti menancapkan sebuah paku pada sepotong kayu. Ketika kamu mengakukan dosa-dosamu pada imam, dan Tuhan mengampunimu, sama halnya seperti mencabut paku dari kayu tersebut. Paku sudah tidak ada lagi, tetapi lubang yang ditimbulkannya tetap ada dan harus diperbaiki. Dengan berdosa kita telah melukai jiwa kita dan sekarang kita harus memulihkan kembali luka-luka itu.

Karena Dosa Asal (dosa ketidaktaatan Adam dan Hawa di taman Eden), manusia cenderung berbuat dosa daripada melakukan yang baik. Setiap dosa melukai jiwa kita dengan membuatnya lebih sulit untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa yang sama di waktu mendatang. Bahkan setelah kita bertobat, kita masih harus mengatasi kecenderungan ini dengan penitensi. Para kudus memahami hal ini dengan baik sekali; mereka seringkali melakukan matiraga atau silih agar dapat lebih menguasai keinginan-keinginan mereka.

Namun demikian, karena kita tidak dapat melihat luka yang diakibatkan oleh dosa pada jiwa kita, kita seringkali tidak cukup menyesali dosa-dosa kita itu; kita lupa untuk berdoa serta lupa melakukan silih. Karenanya, jiwa kita harus dibersihkan, baik dalam masa kita hidup di dunia melalui berbagai pencobaan, atau kelak – sesudah kita meninggal – di api penyucian. Tuhan, melalui gereja-Nya, menyediakan bagi kita suatu “bonus” bagi doa dan silih yang kita lakukan, yaitu indulgensi. Jika kita melakukan suatu perbuatan atau mendaraskan suatu doa yang dinyatakan oleh Gereja dapat mendatangkan indulgensi (misalnya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, mendaraskan doa Rosario dll), Gereja mempergunakan harta pusaka-Nya berupa jasa-jasa Kristus untuk “menebus” sebagian atau seluruh hutang dosa kita kepada Tuhan serta menyucikan jiwa kita bagi kita, selama kita mempunyai niat untuk memperoleh indulgensi.

Seorang biarawati dalam biara St. Theresia dari Avila, menyadari pentingnya indulgensi dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk memperolehnya. Ketika biarawati itu meninggal, St. Theresia sangat terkejut melihat jiwa biarawati tersebut langsung naik menuju surga tanpa melalui api penyucian! Karena biarawati tersebut tampaknya biasa-biasa saja, St. Theresia bertanya kepada Yesus apa sebabnya jiwa biarawati tersebut dapat langsung menuju surga. Yesus menjawab bahwa itu semua karena semua indulgensi yang dengan setia diperolehnya, sang biarawati telah membayar lunas semua hutang dosanya kepada Tuhan, sehingga jiwanya bersih dan tak bernoda pada saat kematiannya!

3. HARTA PUSAKA GEREJA

Gereja Katolik mempunyai wewenang untuk memberikan indulgensi karena gereja memperolehnya dari kekayaan tak terhingga jasa-jasa Kristus, Bunda Maria dan semua orang kudus. Beata Maria dari Quito, seorang biarawati Spanyol, melihat dalam suatu penglihatan suatu harta pusaka yang berlimpah, yang – diterangkan kepadanya oleh Tuhan – melambangkan segala rahmat dan jasa-jasa Yesus (harta pusaka Gereja!) dari mana indulgensi diperoleh. Segala rahmat dan jasa-jasa ini dapat diperoleh siapa saja yang memenuhi persyaratan, yang biasanya amat mudah, untuk memperoleh indulgensi. Umat beriman yang tidak peduli untuk mendapatkan keuntungan dari indulgensi ini dapat diumpamakan seperti seorang pengembara yang melewati suatu padang penuh dengan perhiasan berharga, yang tidak mau merepotkan diri untuk memungut dan mengisi kantungnya dengan harta pusaka itu, meskipun ia tahu bahwa ia akan memerlukan harta tersebut setibanya di tempat tujuan.

Gereja menerima wewenang untuk memberikan indulgensi dari Yesus, yaitu ketika Ia memberikan kunci kerajaan Surga kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Dalam bahasa modern, mungkin Yesus akan mengatakan, “Aku memberimu PIN untuk rekening bank surgawi-Ku.”

Pada abad kelimabelas dan keenambelas, Gereja memberikan indulgensi kepada mereka yang memberikan sumbangan untuk pembangunan katedral-katedral indah yang sedang dibangun pada saat itu. Sayang sekali, hal tersebut menimbulkan salah tafsir bahwa Gereja menjual indulgensi untuk mendapatkan uang. Sebagai akibatnya, kaum reformasi Protestan masa itu menolak mentah-mentah ajaran tentang indulgensi karena menganggapnya sebagai penyalahgunaan kuasa Gereja. Tentu saja mereka salah; meski pun mungkin ada beberapa penyalahgunaan, tetapi kuasa Gereja untuk memberikan indulgensi diberikan oleh Tuhan sendiri. Kaum Protestan itu ada benarnya juga ketika mengatakan bahwa kita tidak dapat sekedar membeli indulgensi seperti obat “mujarab” bagi jiwa kita! Kita harus mempunyai semangat penyesalan atas dosa-dosa kita agar dapat memperoleh manfaat indulgensi.

Dari rujukan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa terjadi kesalahpahaman tentang penggunaan indulgensi, walau memang harus diakui praktek penggunaan indulgensi pada waktu itu sedikit menyimpang dari kebijakan Gereja pada waktu itu. Namun yang perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa pada waktu itu indulgensi tidak bisa dengan mudah didapat para donatur! Kenapa? Karena selain menyumbang, mereka harus melakukan berbagai macam persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan indulgensi, seperti melakukan amal pada orang-orang tidak mampu, menerima sakramen Tobat, serta menyambut Komuni Kudus. Jadi Gereja tidak pernah mempermudah seseorang untuk mendapatkan indulgensi. Harus ada usaha, terutama niat untuk bertobat dan berbuat baik pada sesama.

Lalu kemudian, bagaimana cara mendapatkan indulgensi? Silahkan baca di http://yesaya.indocell.net/id228.htm dan/atau http://katolisitas.org/2193/indulgensi-harta-kekayaan-gereja.

Jika Anda mau tahu lebih banyak soal “penyalahgunaan” indulgensi pada abad Pertengahan, silahkan baca http://katolisitas.org/1665/katolik-menyalahgunakan-indulgensi-atau-surat-pengampunan-dosa

Semoga dengan tulisan dan saduran saya ini dapat membuka mata Anda mengenai Gereja Katolik yang sebenarnya. Sungguh menyedihkan bahwa banyak orang yang berusaha menghancurkan Gereja Katolik, terutama media pers, karena ketidaktahuan dan kesalahpahaman masyarakat tentang Gereja Katolik.

“Tuhan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Iesu Homine Salvatore

R.M.T.B.D.J