Sementara itu di Capitol Hill kemarin ……..

Ada 1 hal yang membuatku surprised waktu lihat Upacara Inaugurasinya Presiden Barrack Obama kemarin malam via TV. Alunan melodi dan senandung nyanyian dari Paduan Suara Brooklyn Tabernacle Choir benar-benar membuatku merinding! Mereka mendapatkan kehormatan untuk menyanyikan lagu Battle Hymn of the Republic, dan mereka berhasil menyanyikannya dengan sangat apik! Mereka berhasil membuatku terpesona dengan gaya khas mereka dalam menyanyi, ditambah suara soloist nya yang mengingatkan aku akan suara vokalnya Whitney. Berikut ini videonya. Enjoy! =)

Dan selamat untuk Presiden Barrack Husein Obama dan Wapres Joe Biden yang secara resmi memimpin Amerika Serikat kembali mulai Minggu kemarin. Semoga Tuhan selalu membimbing Anda sekalian sehingga Anda dapat melayani bangsa dan negara dengan semaksimal mungkin! God bless America 🙂

The Power of Forgiving – Tips dan Cara Penyembuhan Luka Batin

Empat hari bergelut dengan luka batin benar-benar membuat dada sesak, tapi pada akhirnya, lega dan ploong ……

Yaa, selama 4 hari aku mengikuti Retret Penyembuhan Luka Batin di Pertapaan Karmel, Ngadireso, Tumpang. Di sana memang sudah terkenal dengan retret-retret nya yang “ampuh” untuk mengatasi persoalan hidup, salah satunya luka batin. Topik satu ini selalu membuat setiap orang galau, aku pun termasuk. Beruntung berkat pertolongan Tuhan dan para suster yang mendoakan ku, kini aku sudah sembuh, sampai sekarang. Hehehe 😀

Ternyata kunci dalam penyembuhan luka batin itu cuma 1. Pengampunan.

Ya, hanya dengan memaafkan, diri kita mulai bisa mengikhlaskan dan menerima apa yang pernah melukai hati kita di waktu lampau. Mengampuni/memaafkan di sini BUKANLAH sebuah perasaan, melainkan merupakan keputusan. Keputusan untuk sembuh, meskipun mungkin terasa sulit, tapi bayangkan ketika kita memutuskan untuk memaafkan, hati ini akan mulai terasa ringan dan lega. That’s FACT!!

Aku berikan link yang bagus soal penyembuhan luka batin => http://www.carmelia.net/index.php/artikel/karismatik/262-penyembuhan-luka-batin

Well, apapun penyebabnya, luka batin itu jelas menganggu perkembangan dan pertumbuhan hidup seseorang. Aku sempat mencatat apa saja ciri-ciri luka batin itu. Tidak semua sih, tapi satu gejala saja sudah bisa berarti tanda bahwa kalian mengalami luka batin.

  1. Mudah tersinggung.
  2. Ketakutan tanpa alasan.
  3. Mudah marah.
  4. Khawatir akan masa depan.
  5. Emosi yang tidak terkendali.
  6. Sulit bergaul, mudah menyakiti orang lain.
  7. Homoseksual, lesbian.
  8. Punya rasa bersalah yang berlebihan.
  9. Merasa tidak diperhatikan, jadinya overacting alias cari perhatian secara berlebihan.
  10. Suka membual, muka “topeng” (penuh rekayasa dan kepalsuan).
  11. Sulit mengampuni, dendam.
  12. Kadang-kadang sedih tanpa alasan.
  13. Cepat iri hati.
  14. Suka memberontak.
  15. Agresif.
  16. Sering sakit kepala/migrain.
  17. Sakit maag/tukak lambung.
  18. Gatal-gatal.
  19. Diare.
  20. Jantung berdebar-debar.
  21. Tegang pada tengkuk leher.

Pernah merasakan sakit di bagian tubuh, lalu anehnya ketika diperiksakan ke dokter tidak ditemukan penyakit/gejala apapun? Itu bisa jadi Anda mengalami luka batin, sakit karena kondisi psikis Anda tidak sehat. Nama ilmiahnya psikosomatis.

Lalu, bagaimana cara menyembuhkannya?

MENGAMPUNI. Kita mohon rahmat Tuhan agar kita dapat mengampuni siapa saja yang sudah melukai kita. Seperti dilihat di link di atas, setiap luka batin itu ada akar-akar penyebabnya, baik di masa kandungan, di masa kelahiran, masa kecil, masa remaja, maupun masa dewasa. Mengingat kembali luka-luka itu perlu dilakukan, sebab satu-satunya cara menyembuhkan luka batin itu dimulai dari mengingat luka-luka itu (analoginya sama seperti bedah/operasi memperbaiki organ dalam. Menyakitkan memang, tapi ini satu-satunya cara agar sembuh kan?). Kemudian mohon pada Tuhan rahmat pengampunan untuk dapat mengampuni mereka satu demi satu.

Kadang dalam proses penyembuhan batin, kita dapat menggunakan metode “imaginasi iman”, dengan membayangkan bahwa Tuhan hadir dalam peristiwa yang membuat kita terluka itu. Tujuannya agar kita sadar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian, serta untuk mendamaikan kita dengan peristiwa itu sendiri. Well, di link tersebut sudah dijelaskan secara lengkap, silahkan baca 😀

Bagiku sendiri, retret ini merupakan berkah buatku. Menyembuhkan masa-masa kecilku, terutama masa-masa sewaktu aku konflik dengan “mantan” sahabatku. Stress berkepanjangan karena masih belum bisa menerima peristiwa tersebut, akhirnya terlepas juga kemarin. Lega, sekaligus pasrah atas semua yang telah terjadi. Semoga apa yang aku alami ini tidak lagi terjadi pada ku untuk kedua kalinya dan kalian yang membacanya.

Kalau mau tahu bagaimana rasanya penyembuhan luka batin yang aku rasakan sendiri, SAKIT!! Seperti dioperasi, tapi ini yang dioperasi adalah hatiku, batinku, tanpa obat bius apapun. Sakit banget ketika masalah-masalah itu diangkat kembali ke permukaan, sampai-sampai aku harus menangis, tidak kuat. Namun air mata itu justru bagus dalam penyembuhan luka batin, karena dapat menghapus penolakan untuk mengampuni diri sendiri, menghapus luka-luka, menghapus halangan-halangan untuk bertobat dan ingatan-ingatan yang menyakitkan. Pada akhirnya, aku sembuh berkat rahmat pengampunan dari Tuhan sendiri. Aku sembuh karena aku dengan ikhlas memutuskan untuk memaafkan semuanya, terutama masa lalu ku, juga “mantan” sahabatku.

Terima kasih Bapa, terima kasih Yesus, terima kasih Roh Kudus, Engkau sudah berkenan menyembuhkanku. Ajarilah aku lebih lagi untuk hidup dalam rahmat kerendahan hati dan pengampunan, sehingga bila aku terluka lagi, aku tak perlu lagi bingung untuk menyembuhkannya. Amiin 🙂

R.M.T.B.D.J

 

Percakapan Murid-Professor tentang Tuhan

Mungkin banyak dari kita sudah mengetahui kisah ini. Belum diketahui pasti kisah ini benar-benar terjadi atau tidak, namun yang penting adalah hikmahnya. Semoga kisah ini semakin meneguhkan iman kita padaNya!

“Mari kujelaskan tentang masalah Yesus Kristus dari segi ilmu alam.” Seorang profesor filosofi ateis berhenti sejenak di depan kelasnya dan kemudian meminta salah seorang muridnya untuk berdiri.

“Bukankah kau seorang Kristen, Nak?”

“Ya, Pak,” jawab murid itu.

“Jadi kau percaya akan adanya Tuhan?”

“Tentu saja.”

“Apakah Tuhan itu baik?”

“Tentu! Allah itu baik.”

“Apakah Tuhan berkuasa? Mampukah Ia melakukan segala hal?”

“Ya.”

“Apakah kau baik atau jahat?”

“Firman Tuhan berkata aku seorang yang jahat.”

Professor itu tersenyum lebar dengan penuh arti. “Aha! Firman Tuhan!” Kemudian dia merenung sejenak.

“Mari kuberikan satu contoh untukmu. Katakan ada seseorang yang sedang sakit saat ini dan engkau dapat menyembuhkan dia. Kau dapat melakukannya. Apakah kau akan menolongnya? Apakah kau akan mencoba?”

“Ya, Pak, saya akan mencobanya.”

“Jadi kau adalah orang baik…!”

“Saya tidak akan mengatakannya seperti itu.”

“Tetapi mengapa tidak? Kau akan mencoba menolong seorang yang sakit dan menyembuhkannya jika kau mampu. Kebanyakan dari kita akan berbuat hal yang sama. Tetapi Tuhan tidak.”

Murid tersebut tidak menjawab, sehingga professor itu melanjutkan, “Bukankah begitu? Saudara lelaki saya adalah seorang Kristen yang mati karena kanker, walau pun ia berdoa kepada Yesus dan memintaNya untuk menyembuhkan penyakitnya. Bagaimana mungkin Yesus itu baik? Bisakah kau menjawab pertanyaan ini?”

Murid itu tetap diam.

“Tidak, kau tidak bisa menjawabnya, kan?” tanya si professor. Ia menenggak minumannya sembari memberikan muridnya sejenak waktu.

“Mari kita mulai lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?”

“Ehhmm…ya,” jawab murid itu.

“Apakah iblis itu baik?”

Tanpa keraguan, murid tersebut menjawab “Tidak.”

“Jadi, dari mana iblis berasal?”

Murid itu tertegun sejenak. “Dari..Tuhan…”

“Benar. Tuhan menciptakan iblis, bukan? Katakan kepadaku, Nak, adakah iblis di dunia ini?”

“Ada, Pak.”

“Iblis ada dimana-mana, bukankah begitu? Dan Tuhan menciptakan segalanya, benar?”

“Ya.”

“Jadi, siapa yang menciptakan iblis?”

Sekali lagi, murid itu tidak menjawab.

“Adakah sakit penyakit? Immoralitas? Kebencian? Keburukan? Semua hal yang jelek, apakah semua hal itu nyata di dunia?”

Murid itu mulai menggeliat gelisah. “Ya.”

“Jadi, siapa yang menciptakan semua hal tersebut?”

Si murid tidak menjawab lagi, sehingga professor mengulangi pertanyaannya.

“Siapa yang menciptakan semua hal itu?”

Tetap tidak ada jawaban

Tiba-tiba, professor itu berdiri berjalan di depan kelas. Seluruh kelasnya terdiam.

“Katakan padaku,” ia melanjutkan kepada murid yang lain. “Apakah kau percaya pada Yesus Kristus, Nak?”

Jawaban muridnya mengejutkan dia, “Ya Professor, saya percaya.”

Professor itu berhenti berjalan. “Ilmu alam mengatakan bahwa kau mempunya lima indra untuk mengidentifikasi serta mengobservasi dunia di sekitarmu. Apakah kau pernah melihat Yesus?”

“Tidak, Pak. Saya belum pernah melihat Yesus.”

“Lalu katakanlah kepada kami semua, apakah kau pernah mendengar Yesus berbicara?”

“Tidak, Pak. Belum pernah.”

“Apakah kau pernah merasakan Yesus, mencicipi Yesus, mencium bau Yesus? Apakah kau pernah menggunakan indramu untuk Yesus Kristus, atau Tuhan?”

“Tidak Pak. Saya khawatir tidak pernah.”

“Namun, kau masih percaya kepadaNya?”

“Ya.”

“Menurut aturan empiris, pengujian dan pendemonstrasian ilmu alam, Tuhan itu tidak ada. Apakah argumentasimu mengenai hal ini, nak?”

“Tidak ada,” jawab murid itu. “Saya hanya berpegang pada iman.”

“Ya, iman,” professor itu mengulangi. “Dan itulah masalah antara ilmu alam dengan Tuhan. Tidak ada bukti, hanya iman.”

Murid tersebut berdiri diam sejenak, sebelum melontarkan suatu pertanyaan kepada professor.

“Professor, apakah ada sesuatu yang disebut panas?”

“Ya,” jawab sang professor. “Ada sesuatu yang disebut panas.”

“Dan adakah sesuatu yang disebut dingin?”

“Ya, Nak. Dingin itu juga ada.”

“Tidak, Pak.. tidak ada.”

Professor tersebut berpaling untuk memandang wajah muridnya, tiba-tiba tertarik dengan pendapatnya. Ruangan menjadi hening seketika. Si murid pun mulai menjelaskan.

“Anda bisa memiliki berbagai macam panas, lebih panas, super panas, sangat panas, sedikit panas, atau tidak panas sama sekali, tetapi kita tidak memiliki apa yang disebut ‘dingin’. Kita bisa mengucapkan 458 derajat di bawah nol, yang bukan panas, tetapi kita tidak bisa pergi lebih jauh dari itu. Tidak ada hal yang disebut dingin; kalau tidak, kita bisa mencapai suhu dingin lebih dari -458 derajat. Anda lihat, Pak, dingin hanyalah suatu kata yang kita gunakan untuk menjelaskan absensi dari panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas bisa diukur dalam unit thermal karena panas itu adalah energi. Dingin bukan panas, hanya absensi dari panas.”

Keheningan melingkupi seluruh ruangan. Pena yang jatuh pun terdengar seperti dentuman palu.

“Bagaimana dengan kegelapan, professor. Apakah kegelapan itu ada?”

“Ya,” professor menjawab tanpa keraguan. “Apakah malam jika tidak gelap?”

“Anda salah lagi, Pak. Kegelapan bukanlah suatu hal, itu adalah absensi dari suatu hal. Anda bisa memiliki sedikit cahaya, cahaya normal, cahaya terang, cahaya yang menyilaukan…tetapi jika Anda tidak mempunyai cahaya secara konstan, Anda tidak memiliki apa-apa dan itulah yang disebut gelap, bukankah begitu? Itulah artinya ketika kita menggunakan kata gelap. Pada kenyataannya, gelap tidak ada. Jika ada, Anda mungkin untuk membuat gelap menjadi lebih gelap lagi, bukan?”

Professor itu tersenyum kepada muridnya. Semester ini akan menjadi semester yang menyenangkan.

“Jadi, apa yang kau maksudkan sebenarnya, anak muda?”

“Ya, professor. Maksud saya adalah, pandangan filosofis Anda salah dari mulanya, sehingga kesimpulan Anda pun salah.”

Sang professor tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya, “Salah? Bisakah kau menjelaskannya mengapa itu salah?”

“Prinsip pandangan Anda berbasis pada dua hal, dualisme,” lanjut murid tersebut. “Anda berargumentasi bahwa ada kehidupan, dan kemudian ada kematian; Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Pandangan Anda berdasarkan bahwa Tuhan itu sesuatu yang bisa diukur. Ilmu alam pun tidak mampu mengukur atau menjelaskan suatu pikiran. Ilmu alam menggunakan elektrik dan magnet, tetapi masing-masing pun tidak dapat sepenuhnya dimengerti, bahkan salah satu. Untuk melihat kematian adalah lawan dari kehidupan merupakan keacuhan pada fakta bahwa kematian itu tidak dapat dikatakan nyata secara substansial. Kematian hanyalah absensi dari kehidupan.”

“Sekarang, katakan padaku, professor. Apakah Anda mengajarkan semua murid-murid Anda bahwa mereka berevolusi dari kera?”

“Jika kau mengacu pada proses evolusi alamiah, anak muda, ya, tentu saja.”

“Pernahkah Anda melihat dengan mata kepala sendiri proses evolusi tersebut, pak?”

Professor menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum, mulai mengerti arah pembicaraan muridnya.

Sungguh, semester yang menyenangkan.

“Bukankah Anda mengajarkan pendapat Anda, pak, ketika tidak seorang pun pernah melihat sendiri ketika proses evolusi itu berjalan dan tidak dapat membuktikannya bahwa proses itu masih berjalan? Jika demikian, bukankah Anda adalah seorang pengkhotbah dan bukan ilmuwan?”

Seluruh kelas mulai bergemuruh. Si murid di depan tetap diam sampai seluruh kebisingan itu hilang.

“Untuk melanjutkan pandangan Anda sebelumnya terhadap murid yang lain, perkenankan saya memberikan contoh dari apa yang saya maksudkan.”

Murid itu melihat sekeliling ruangan kelas. “Apakah ada di antara kalian yang pernah melihat otak professor?” Seluruh kelas tertawa. “Apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar otak professor, menyentuh, mencium bau otak professor? Tampaknya tidak ada yang pernah melakukan hal itu. Maka, berdasarkan aturan protokol secara empiris dan demonstrative, ilmu alam berkata Anda tidak mempunyai otak, dengan segala hormat, pak. Jadi, jika ilmu alam mengatakan Anda tidak mempunyai otak, bagaimana kami dapat meyakini ajaran Anda?”

Seluruh kelas pun hening. Professor tersebut hanya memandang wajah muridnya, dengan mimik yang tidak terbaca.

Akhirnya, setelah beberapa lama terdiam, professor itu menjawab, “Saya kira, kau hanya memerlukan iman untuk itu.”

Kuasa Tuhan Dibalik Air Sendang dan Ombak Pantai

Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh kemarin aku rayakan bersama teman-teman 1 sekolahku di Malang Selatan. Sebut saja Sendang Purwaningsih, Donomulyo. Berbeda dengan Gua Maria yang sudah dikenal khalayak banyak seperti Puhsarang dan Sendangsono, tempat ini seperti sepi akan pamor. Terbenam dengan rimbunnya pepohonan lebat dan bebatuan yang kami setapaki sejauh 1 kilo dari lokasi pemberhentian bis. Namun itulah istimewanya. Kesenyapan dan kerimbunan yang menyergap Sendang ini serasa mendamaikan hati dan batin. Angin yang semilir merayap berhasil mengunci mulut ratusan teman-temanku dan mengarahkannya pada apa yang sedang dikenang dan dikurbankan di Altar Suci, yakni Kristus sendiri. Hanya saja apa yang aku rasakan ini terusik oleh teriknya matahari yang berusaha menyambar sejuknya udara di sini, sehingga berkali-kali aku dan beberapa temanku harus pindah ke tempat yang lebih sejuk dan rindang. Seperti biasa, berbekal kamera digital dan sepasang mata serta hati, aku tangkap memori-memori yang tak akan dapat dilupakan, bahkan saat berjumpa dengan perpisahan, andaikan.

Aku masih ingat beberapa kalimat yang diucapkan romo sewaktu khotbah. Kata-kata tentang peristiwa kenaikan yang dapat dilihat dari mata fisik dan sebuah misteri iman yang teramat besar di mata batin kita, seperti seakan membuktikan bahwa Yesus memang berkuasa atas langit dan Bumi, dibuktikan dengan perutusan para murid-muridNya untuk menyebarkan kabar gembira ke seluruh dunia, membaptis mereka semua Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dengan didahului kiriman paket istimewa dari Yesus sendiri, yakni Roh Kudus kepada para murid-muridNya. Jujur memang aku akui, konsentrasiku lebih tertuju pada apa yang diomongin teman-teman di sebelah kananku, sehingga aku tidak begitu mengikuti misa dengan baik. Hehehe =D

Seselesainya misa, kami diberi kesempatan untuk berdoa di depan Gua Maria dan berfoto-foto ria. Entah kenapa aku tidak begitu tertarik untuk berdoa, namun karena dari dalam hati muncul rasa sungkan pada yang punya rumah, maka akupun memutuskan untuk berdiri di depan gua. Tidak berdoa, hanya berdiri dan mengkoneksikan hatiku pada Bunda. Aku berbicara pada beliau. Walaupun hanya komunikasi 1 arah, tapi bagiku berbicara sudah lebih dari cukup karena tidak ada keinginan dari hatiku sendiri untuk berdoa. Setelah rampung, aku menyempatkan diri memfoto gua dari dekat, selagi pengumuman tentang aturan-aturan di pantai yang akan kami kunjungi sedang berkumandang. Entah kenapa aku tidak begitu cemas dengan apa yang diumumkan, soal aturan-aturan, pantangan, dan sebagainya yang bersoal mistis. Aku lebih memilih memasrahkan segalanya pada Yang Di Atas dan BundaNya yang sudah menolong dan membimbingku dalam segala situasi.

Selagi menunggu temanku yang lagi berdoa dan membakar ujud pribadi, aku mampir ke sebuah sumur yang berada sedikit di bawah lokasi gua. Sumur, yang katanya dulu merupakan sendang, kemudian diberkati oleh romo setempat menjadi “air berkat” dan dibuatkan sumur sebagai wujud syukur mereka. Biar berkat mengalir dalam cairan tubuh, pikirku, aku ambil botol air mineral yang aku bawa, aku buang isinya yang masih separuh, dan aku isi dengan air sumur itu. Aku juga sempat membasuh muka dan tanganku dengan air tersebut, dan rasanya, wow, segar!! Tak heran alam yang begitu asri seperti itu akan menyajikan hasil dan berkat yang melimpah. Apa yang tersedia dari alam semata-mata merupakan pemberian dari Tuhan untuk digunakan sebaik-baiknya oleh penghuninya. Itu menurutku.

Temanku tadi sudah selesai berdoa. Datang kepada aku dengan mengeluh bahwa tangannya baru saja terkena api saat membakar kertas intensi. Aku hanya mengkapokkan dia sambil menawarkan air yang tersedia di sumur. Dia pun mengambilnya, sambil bercanda guyon tentang kandungan dalam air itu. Maklum, pikiran orang Biologi yang sudah makan ribuan halaman buku-buku berat. Tapi pandangannya tersebut berubah dalam waktu sekitar seperempat jam saat kita dalam perjalanan menuju lokasi pemberhentian bis. Dia bilang bahwa rasa sakit yang mendera tangannya gara-gara “kesumet” api tadi, hilang, setelah membasuh tangannya dengan air sumur tadi. Aku gak tahu apakah dia hanya bersugesti, atau memang mujizatnya datang sedikit terlambat, tapi aku hanya bilang bahwa itu hanyalah sekian dari karunia Tuhan yang tidak akan bisa dipecahkan oleh ilmu Biologi. Tuhan seperti semacam menunjukkan, bahwa DiriNya memang ada dan selalu hadir di sekitar kita, bahkan dari hal paling kecil yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dalam hal ini, Tuhan berkarya melalui air sumur yang kami minum tadi. Syukurlah kalau begitu, ya kan?

Rekreasi kami pun dilanjutkan ke Pantai Ngliyep, sekitar 13 kilo dari lokasi gua. Dalam perjalanan, sekali lagi, antara mata hatiku dan mata kamera bekerja sama menangkap karya agung Tuhan sendiri dalam rupa keindahan alam yang tiada taranya. Tak seperti biasanya aku tidak begitu takut saat bis yang kami lalui melewati jurang. Dari situlah, manusia bekerja sama dengan alam untuk membuat jalan raya, yang menghubungkan antara 1 tempat ke tempat yang lain, menuju ciptaan Tuhan yang tak kalah indahnya. Rasa capek yang mendera tubuhku membuatku tertidur pulas, sampai tak menyadari bahwa kami sudah sampai di pantai. Di sana kami menghabiskan waktu dengan bersantai, berfoto ria sambil menikmati deburan ombak pantai Selatan yang terkenal ganas. Dari bibir pantai aku melihat gulungan ombak yang pasti tingginya lebih dari semeter, bermain-main dengan gulungan ombak yang lain sampai akhirnya celanaku basah karena terkena ombak. Hahaha seru memang. Menikmati karya Tuhan yang lainnya. Jika tadi di sendang aku merasakan sisi damainya alam, kini aku melihat kegananasan dan pemberontakkan yang dilakukan alam melalui ombak yang begitu besar menerjang apa saja yang dilalui. Aku sempat membayangkan bila ada kejadian tsunami, pasti tempat yang aku injak ini akan rata tak bersisa. Untung tak sampai jauh aku membayang, teman-temanku mengajakku menuju sisi lain pantai, yang ternyata jauh dari deburan keganasan ombak. Ternyata sebuah gunungan besar telah menghambat lagu ombak sehingga lokasi tersebut sangatlah tenang, cocok untuk berenang dan berendam di dalam air. Tapi karena aku tidak membawa baju ganti dalam, aku mengurungkan niatku untuk berendam. Sebagai gantinya, aku memfoto banyak hal di sana. Sayang waktu sudah semakin senja, dan kami pun harus kembali ke Malang. Aku lho padahal ngrasa di pantai ini baru sebentar, tapi kenapa sudah disuruh pulang? Hmmm itu mungkin sisi lainnya alam yang memberikan kenyamanan bagi kita sampai waktu pun kita lupakan.

Pulang ke rumah, aku memutuskan untuk diam dan kembali merenung akan besarnya kuasa Tuhan di semesta ini. Terlebih melihat sendang yang penuh kedamaian dan pantai yang penuh ambisi. Di balik itu semua, rasanya betul, Tuhan sedang bekerja untuk memulihkan hati manusia yang terluka karena hidup, memberikan kelegaan bagi mereka yang rindu akan kedamaian, serta kesadaran bagi mereka yang telah meninggalkanNya, dengan sedikit mujizat di alam yang kita tinggali ini. Seganas apapun yang terjadi, itulah kuasa Tuhan, yang menyadarkan kita akan betapa dahsyat kuasaNya. Sudah layak kita sujud menyembahNya, karena Dialah Raja Segala Raja, kini dan sepanjang masa. Amin.

 

R.M.T.B.D.J.

TITANIC: Kefatalan Sebuah Kesempurnaan

Well, hari ini genap seabad tenggelamnya kapal pesiar yang paling fenomenal, Titanic. Tenggelam dalam dinginnya malam bulan April pada tanggal 15 tahun 1912. Membayangkan betapa fenomenalnya kapal itu, sampai-sampai dikatakan bahwa Titanic tak akan pernah bisa ditenggelemkan, bahkan oleh Tuhan sekalipun, pada nyatanya Titanic K.O. gara-gara bertabrakan dengan bongkahan es besar yang berada di tengah Samudera Atlantik. Yang membuat semakin ironis bahwa Titanic tenggelam pada pelayaran perdananya, menjadikan kapal ini, yah, semakin “legenda”, bukan hanya popularitasnya, tapi juga, tragedinya yang memilukan.

Titanic dan Menara Babel: Mungkin Ada Hubungannya

Aku jadi teringat akan kisah Tuhan yang menghancurkan menara Babel dalam Kitab Kejadian akibat keinginan dan kesombongan manusia dalam menggunakan teknologi, sehingga ingin membangun menara setinggi-tingginya untuk melihat seperti apa Tuhan itu. Yaa mungkin sedikit berbeda konteks dengan Titanic. Namun, ada 1 hal yang mirip yang bisa aku dapat. Dua peristiwa ini sama-sama bersumber tentang kesombongan. Ya, kesombongan untuk mengalahkan alam. Kesombongan untuk “menantang” Tuhan. Ambisi yang tidak benar tersebut pada akhirnya mengakibatkan kehancuran yang mengerikan. Di cerita menara Babel, bahasa-bahasa dikacau balaukan sehingga pembangunan menara Babel terhambat yang mempercepat proses kehancurannya (kalau aku pikir Menara Babel hancur akibat ketimpangan dan ketidakseimbangan yang sangat besar antara tinggi menara yang terlalu tinggi dengan dalamnya pondasi menara yang terlalu dangkal). Sementara di Titanic sendiri, kemegahan dan kilauan emas serta berlian pada kapal yang katanya tidak dapat tenggelam, hancur dan larut dalam dinginnya laut akibat tubrukan es (menurut info yang aku dapat, Titanic tenggelam bukan hanya tubrukan es, tapi juga kecacatan produksi yang fatal, terutama pada bagian paku dan lempengan baja). Tuhan menghancurkan apa yang disombongkan melalui apa yang menjadi titik terlemahnya, membuat manusia mestinya sadar bahwa tidak ada di dunia, bahkan alam semesta ini yang dapat menandingi Tuhan.

Kemartiran para pelayan Tuhan

Tadi aku melihat situs Indonesian Papist yang menceritakan tentang kemartiran 3 imam Katolik yang terus berada di atas kapal untuk menerimakan Sakramen Tobat dan memberikan pelayanan pada para penumpang yang, rasanya tentu sudah tahu bahwa mereka akan meninggal di kapal itu. Dari hasil sermon/kesaksian para korban yang melihat, bahkan mengenal romo-romo tersebut, mereka terus berada di atas kapal selagi kapal tenggelam, bahkan menolak menerima kursi-kursi yang disediakan pada sekoci. Mereka malah tak segan menawarkan kursi mereka pada penumpang lainnya, terutama para wanita dan anak-anak. Sungguh kalau boleh aku pikir, ini adalah aksi pelayan Tuhan yang heroik, rela mengorbankan nyawanya demi orang lain. Selengkapnya baca di http://indonesian-papist.blogspot.com/2012/04/kisah-para-imam-katolik-di-kapal.html

Titanic: Kesempurnaan yang Penuh Cacat Cela

Betapa banyak orang yang ingin mencoba naik kapal ini. Aku yakin hal itu. Dengan segala promosi yang gencar dilakukan, mengatakan bahwa Titanic adalah kapal terbaik sepanjang masa, yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas terbaik dan elegan, menjadikannya primadona di Inggris waktu itu. Mungkin hal itulah yang menyebabkan pihak manajemen kapal, White Star Line, mengurangi jumlah sekoci hingga hanya berjumlah 20 buah saja, dengan alasan bahwa sekoci mengurangi keindahan kapal. Apakah ini sebuah alasan yang bisa diterima? Aku mau bilang, TIDAK. Sepertinya mereka lebih menonjolkan keestetikaan kapal ketimbang sistem keamanan dan keselamatannya. Yang lebih tololnya lagi, begitu banyak penumpang yang ingin mencoba menaiki kapal ini. Promosi tentang kenyamanan dan keindahan kapal ini seperti hendak mengaburkan sisi keamanan kapal ini sendiri. Pada akhirnya dengan tenggelamnya kapal ini menyadarkan semua orang bahwa apa yang dibuat manusia pada akhirnya akan hancur pula.

Aku pernah menonton sebuah acara di televisi, mungkin National Geographic, yang menyelidiki tentang alasan tenggelamnya kapal Titanic yang dikatakan begitu megah dan dibangun dengan bahan-bahan berkualitas kakap. Pada akhirnya diketahui bahwa material yang digunakan, sangatlah jauh, jauh, dari layak. Dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi yang melanda White Star Line, dan sikap untuk berhemat, menyebabkan mereka membeli material yang kualitasnya tidak dapat terjamin. Hal itulah yang menyebabkan Titanic begitu rapuh dan tenggelam “hanya” menubruk gunung es. Memprihatinkan memang.

Akhirnya, dengan segala peristiwa yang ada, kita hanya dapat mengambil hikmah untuk selalu bersikap rendah hati dan menerima apa yang ada dengan hati bersyukur, terlebih selalu berserah diri pada Tuhan, bukan menantangnya seperti peristiwa di atas. Semoga kejadian yang sama tidak terulang kembali di masa mendatang. Marilah kita doakan mereka yang telah menjadi korban kebiadaban kapal ini. Semoga jiwa mereka tidak ikut terseret dalam dosa kapal ini. Amin.

 

R.M.T.B.D.J