Era Ujian, Era “Eljeka”, dan Era Parno “Eljeka”

400_F_30430316_NiExvZye0073HwdAoJUlyJMxdp1CJIrW“Eljeka” – ejaan buat LJK (Lembar Jawab Komputer) – sudah jadi barang wajib yang hampir selalu ada pas ujian. Gak perlu polpen atau tip-ex, tapi hanya bermodal pensil dan penghapus, kita sudah bisa mengerjakan soal-soal ujian yang disediakan. Tak perlu nulis identitas panjang-panjang atau menulis rumus yang njlimet, tapi hanya dengan mbunder-mbunderi abjad yang ada di LJK, kemudian dengan sedikit kecanggihan teknologi, tadaaa, nilai ujian langsung keluar berdasarkan LJK yang kita isi tadi. Ajaiiib, ajaiiib πŸ˜†

Tak pelak, metode ujian dengan menggunakan LJK ini semakin marak di instansi pendidikan. Mau ulangan harian, mau ulangan semester, sampai ujian Nasional pun, semuanya pake LJK. Alasannya simple, gak ribet, hasil bisa langsung diketahui, dan gak butuh “tenaga manusia” untuk ngoreksi hasil pekerjaan murid. Yaaah alasan bisa diterima lah, lebih-lebih kalau murid-murid yang ikut ujian banyak banget sampai ratusan ribu, kayak Ujian Nasional contohnya, siapa yang mau meriksa hasil pekerjaannya murid sampai sebejibun itu? πŸ˜•

Hanya saja LJK punya beberapa kelemahan. Salah satunya adalah tidak bisa dibaca kalau kertasnya lecek, sobek, atau kotor sedikitpun. Pokoknya kertas harus dalam keadaan rapi, bersih, dan perfect gitu deh. Alhasil, kebanyakan murid-murid yang baru pertama kali menggunakan LJK (seperti anak-anak SD) bakal ngrasa stress dan khawatir sama kondisi kertasnya, bukan sama jawabannya. Pengalaman pribadi sih ini. Aku pertama kali mengenal LJK sewaktu kelas VI, zaman-zamannya Try Out buat persiapan Unas nya SD (dulu namanya UPM). Berhadapan dengan LJK sendiri itu sudah parno setengah mati. Bukan karena gak bisa ngerjain soal, tapi takut kalau kertasnya lecek dan kotor sehingga gak bisa dibaca di scanner. Apalagi waktu itu guru-guru SD ku dengan tegas memperingatkan supaya LJK jangan sampai lecek atau kotor, karena bisa fatal akibatnya kalau sampai gak kebaca di scanner. Aku masih inget pertama kali aku ngerjain soal di LJK, badanku sampai basah kena keringat, saking takutnya terjadi sesuatu pada LJK. Whahaha sumpah gua parno abis waktu itu! πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

Keparnoanku ini bahkan berlanjut sampai SMP. Di SMP ku,Β  LJK malah diperlakukan layaknya benda keramat. Kalau mau ngerjain soal di LJK, setiap murid bakal dikasih alas yang terbuat dari kertas karton. Fungsinya untuk melindungi LJK dari “gronjalan-gronjalan” meja yang berlubang, biar kalau pas mbunderi itu gak nyosor ke lubangnya itu. Terus juga, seperti di waktu SD, kami juga diwanti-wanti supaya kertas jangan sampai lecek dan kotor, karena scanner yang dimiliki sekolah sangat sensitif. Sekali ada coretan di luar bunderan sedikit, atau ada sedikit lecek di kertasnya, scanner bakal memuntahkannya mentah-mentah. Huek ……. πŸ‘Ώ

Nah, keparnoanku ini mulai sirna saat aku masuk SMA. Di sini, LJK diperlakukan dengan jauh lebih wajar. Meskipun aturan “No Lecek and Kotor” itu tetap berlaku, tapi gak seketat di SMP maupun SD. Murid-murid mengerjakannya tanpa alas karton, dan tak ada yang mewanti-wanti lagi seperti dulu. Hehehe lega deehΒ  πŸ˜€

Oh ya, di samping kelemahan “No Lecek and Kotor” di atas, kelemahan lainnya adalah membuat tangan pegel, karena banyak sekali bunderan yang harus di-blok. Syukur-syukur kalau soal yang harus kita kerjakan cuma 20 atau 30 nomor. Tapi kalau sampai 50, 60, bahkan 100 nomor, yaah siap-siap aja tempat pijat refleksi bakal penuh sama murid-murid sekolah yang tangannya mati rasa kebanyakan mbunderi LJK ……… 😈

Tapi tak apa lah. Lepas dari segala macam kelemahan dan keuntungan LJK di atas, persiapan fisik dan mental lah yang paling penting buat kalian yang mau menghadapi ujian. Belajar yang rajin, kurangi main dan internetan (terutama jejaring sosial), perbanyak doa, plus yang penting juga, latihan mbunder-mbunderi yang banyak, biar pas ujian tanganmu gak cekit-cekit dan kaku karena uda “pemanasan” dahulu hehehe πŸ˜€

Finally, sukses buat semua yang akan menghadapi ujian tahun ini! Keep SPIRIT, God will always be with you πŸ˜€

 

R.M.T.B.D.J

GANBATTE!! :D

Hanya dalam 1 hari, semua jadwal dan rencana-rencana harianku berubah 180 derajat.

Kemarin, 7 Januari 2013, hari pertama semester II. Begitu masuk sekolah, aku langsung dibikin panik dengan pemberitahuan dari guru-guru seputar jadwal pelaksanaan ujian-ujian kelas XII. Belum selesai paniknya, udah ditambah panik lagi gara-gara dibagiin revisi kalender pendidikan. Di sana, jelas-jelas tertulis tentang jadwal try out dan ujian praktik yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi.

WHAT!!?? SEBULAN LAGI???
Membayangkan bahwa waktu yang tersisa tidak banyak, sementara persiapanku masih sangat jauh dari angka 100 persen, membuatku harus membuat skala prioritas. Benar-benar dengan sangat terpaksa, aku harus mendelay dan mengcancel hampir semua tawaran untuk pelayanan di komunitas dan di Gereja ku, meskipun tidak semua pelayananku aku delay atau cancel. Aku juga mengcancel semua aktivitas rekreasi dan keluar kota sampai bulan Mei awal nanti. Aku sadar bahwa waktu yang ada sangat minim. Prioritasku adalah ujian praktik, karena nilainya juga amat berpengaruh untuk kelulusan, selain nilai di Ujian Teori. Kalau Try Out sih, hahaha, itu prioritas ke sekian. Yang penting aku bisa tahu jenis-jenis soal yang bakal keluar kayak apa, strategi-strategi apa yang aku harus tempuh, dan sebagainya. Demi kelulusanku dan demi diterimanya aku di universitas negeri, aku harus berjuang semaksimal mungkin! Ganbatte!! πŸ˜€

Teman-teman, aku juga berdoa untuk kalian yang bernasib sama denganku. Semoga hasil yang kita peroleh benar-benar sebanding dengan usaha dan jerih payah kita selama ini. AMIIN!! Ganbatte!! God bless you πŸ˜€ :mrgreen:

Doakan aku juga yah! πŸ˜‰

ganbatte_kudasai_by_hanekyu

R.M.T.B.D.J