Grazie Santo Padre! =’)

Siapa yang gak kaget dengan keputusan Bapa Suci Benediktus XVI yang ingin “pensiun” di akhir bulan Februari?

11-POPE-LEAVING

Pernyataan Bapa Suci yang tersebar secara luas pada 11 Februari lalu itu, kontan saja membuat semua orang, gak hanya umat Katolik saja, shock mendengarnya. Gimana nggak coba? Selama ini kita tahu bahwa paus memiliki jabatan seumur hidup dan berakhir ketika paus tersebut meninggal. Gak ada ceritanya paus yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya. Kalau pun ada, itu sudah terjadi lebih dari 600 tahun yang lalu, sehingga kita gak akan pernah menyangka bahwa akan ada seorang paus yang melakukan hal yang serupa, terutama di zaman semodern ini.

url

Paus Gregorius XII

Tapi itulah Bapa Suci Benediktus XVI. Bukti bahwa siapa saja, bahkan termasuk paus sekalipun, bisa merubah tradisi yang sudah ada secara turun-temurun. Bapa Suci Benediktus XVI menjadi paus pertama yang mengundurkan diri di tengah masa jabatannya, setelah sebelumnya lebih dari 600 tahun lalu, Paus Gregorius XII melakukan hal yang serupa (cuma aku lupa beliau mengundurkan diri secara sukarela apa tidak).

 

 

Aku masih ingat pertama kali aku mendengar berita ini melalui Facebook, aku langsung kaget dan nyaris teriak. Jelas lah, aku tidak akan pernah menyangka Bapa Suci akan melakukan hal ini, meskipun aku tahu persis bahwa paus memang bisa mengundurkan diri dengan syarat pengunduran diri beliau harus dengan sukarela, tanpa paksaan dari siapapun. Tak lama setelah berita pertama itu muncul, berita-berita lainnya dan postingan berisi tanggapan media dan masyarakat mulai bermunculan, tidak hanya di FB maupun Twitter, tapi juga di blog dan forum.

Pope Benedict XVI visits the Blue Mosque in IstanbulSatu postingan yang terasa sangat konyol bagiku adalah postingan yang menyatakan bahwa paus mengundurkan diri dari jabatannya karena mau menjadi mualaf, dilatarbelakangi dari kunjungan paus ke sebuah mesjid di Turki di tahun 2006 dan posisi doa beliau yang seperti melakukan sholat. Yang memprihatinkan, tidak sedikit orang yang percaya dengan postingan ini dan menyebarkannya ke mana-mana dengan maksud dan tujuan yang negatif dan sarat akan potensi konflik SARA. Padahal, jika dilihat secara seksama, terutama dari video yang beredar di Youtube, Bapa Suci samasekali tidak melakukan sholat. Beliau hanya berdoa. Lagipula, saudara-saudara kita yang Muslim pasti jeli dengan posisi tubuhnya Bapa Suci yang jelas-jelas tidak mirip dengan orang yang sedang sholat. Jadi, kenapa mesti dipersoalkan lagi, teman-teman? 🙂

Berikut ini salah satu video kunjungan beliau ke mesjid yang kudapat dari internet. Benar tidaknya postingan tersebut, bisa teman-teman simpulkan dari video ini.

Nah, lepas dari postingan di atas, banyak hal yang patut kita teladani dari Bapa Suci. Salah satunya, adalah kerendahan hatinya. Kenapa? Coba kita perhatikan bersama.

26934_1421677308256_4888776_nSejak awal, Kardinal Ratzinger – nama asli Bapa Suci – amat disegani karena pemikiran-pemikirannya yang konservatif dan radikal. Hal itulah yang membuat Bapa Suci Yohanes Paulus II mengangkat Kardinal Ratzinger di tahun 1981 sebagai prefek Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman, yang bertanggungjawab penuh dalam menjaga ajaran-ajaran Gereja Katolik. Popularitas kardinal asal Jerman ini semakin meningkat setelah konklaf tahun 2005 mengangkat dirinya sebagai Penerus Tahta St. Petrus. Dengan segala hal yang beliau capai itu, harusnya beliau bisa melakukan apapun yang beliau suka sebagai sosok pemimpin. Hanya saja, nampaknya Bapa Suci tidak berambisi untuk melakukannya. Prinsip beliau adalah apa yang dia dapat adalah pemberian Tuhan sebagai bentuk pelayanannya pada Gereja Universal, pada umatNya, dan pada dunia. Bapa Suci sudah merasa lelah dan terlalu tua untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanannya tersebut, seperti tertuang dalam pernyataan pengunduran dirinya. Bapa Suci ingin supaya Gereja dipimpin oleh seorang paus yang jauh lebih baik dari dirinya, yang bisa membawa Gereja pada Sang Cahaya Illahi, yakni Kristus sendiri. Yang lebih hebatnya lagi, semasa pensiun nanti, Bapa Suci akan mendedikasikan hidupnya dalam doa dan silih demi Gereja dan umat-umatNya, juga komitmen beliau untuk taat pada penerusnya nanti, tanpa syarat apapun. Hebat kan beliau? 😀

Pada akhirnya, mari kita sekarang berdoa pada Allah di surga, untuk memohonkan Roh KudusNya agar semakin berkarya dalam diri Gereja, terutama para kardinal yang dalam waktu dekat akan mengadakan konklaf untuk memilih penerus Tahta St. Petrus. Kita serahkan Bapa Suci Emeritus Benediktus XVI dan penerusnya nanti, serta seluruh umat beriman di manapun mereka berada. 🙂

 

Grazie Santo Padre Benedetto XVI. Arrivederci. Perga per noi!
(Terima kasih Bapa Suci Benediktus XVI. Sampai jumpa lagi. Doakan kami!)

 

R.M.T.B.D.J

12984_10200748066410332_629566313_n

Helikopter yang mengangkut Bapa Suci pergi meninggalkan Vatikan, disaksikan ribuan peziarah yang berada di lapangan St. Petrus dan di atas kubah basilika. Helikopter akan membawa Bapa Suci ke peristirahatan paus di Castel Gandolfo, tempat di mana Bapa Suci akan menghabiskan masa pensiunnya selama 2 bulan dan selanjutnya di sebuah biara kecil di dalam Vatikan.

525192_10200750371707963_114700142_n

Bapa Suci memberikan berkatnya yang terakhir kepada para peziarah yang berkumpul di Castel Gandolfo.

522514_10151322127448061_1684809596_n

Iklan

PESAN DAN UCAPAN IDUL FITRI DARI VATIKAN

DEWAN KEPAUSAN UNTUK KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

 

“Mendidik Kaum Muda Kristiani dan Muslim Untuk Keadilan dan Perdamaian”

 

Sahabat-sahabat Muslim yang terkasih,

Hari Raya Idul Fitri yang mengakhiri bulan suci Ramadhan, memberikan kegembiraan kepada kami di Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat Beragama (DKDAB), untuk menyampaikan salam hangat kami kepada Anda. Kami bersukacita bersama Anda oleh karena waktu yang istimewa ini yang memberikan kesempatan kepada Anda untuk memperdalam ketaatan kepada Allah melalui puasa dan berbagai amal bakti lainnya, yang juga adalah nilai yang kami junjung tinggi. Inilah sebabnya, tahun ini, kami merasa tepat untuk memfokuskan refleksi kita bersama pada pendidikan kaum muda Kristiani dan Muslim untuk keadilan dan perdamaian, yang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari kebenaran dan kebebasan.

Jika tugas pendidikan itu dipercayakan kepada masyarakat seluruhnya, maka pertama dan utama, serta secara khusus merupakan tugas orangtua, dan sekaligus bersama mereka, merupakan tugas keluarga-keluarga, sekolah-sekolah, dan universitas-universitas, dengan tidak melupakan mereka yang bertanggung jawab untuk kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi, dan dunia komunikasi. Ini merupakan sebuah upaya yang indah sekaligus sulit, yakni membantu anak-anak dan kaum muda untuk menemukan dan menumbuhkembangkan berbagai sumber daya yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, dan untuk membangun relasi-relasi kemanusiaan yang bertanggung jawab. Dengan merujuk pada tugas-tugas para pendidik, Bapa Suci Paus Benediktus XVI, belum lama ini, menegaskan sebagai berikut: “Oleh karena itu, dewasa ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan saksi-saksi yang otentik dan bukan sekadar orang-orang yang mengkotak-kotakkan aturan-aturan dan fakta-fakta.Seorang saksi adalah dia yang pertama-tama hidup sesuai dengan apa yang dia anjurkan kepada orang lain” (Pesan Hari Perdamaian Sedunia, 2012). Di samping itu, hendaknya kita juga ingat bahwa anak-anak muda sendiri pun bertanggung jawab terhadap pendidikan dan pembentukan mereka sendiri untuk keadilan dan perdamaian.

Keadilan ditentukan pertama-tama oleh identitas pribadi manusia, yakni keseluruhan dirinya; artinya tidak hanya direduksi ke dalam dimensi komutatif dan distributifnya. Kita tidak boleh lupa bahwa kebaikan bersama tidak bisa dicapai tanpa solidaritas dan kasih persaudaraan! Bagi orang-orang beriman, keadilan sejati yang dihidupkan di dalam persahabatan dengan Allah, memperdalam segala persahabatan lainnya: persahabatan dengan diri sendiri, dengan sesama, maupun dengan segenap ciptaan. Lebih dari itu, mereka mengakui bahwa keadilan memiliki asal-muasal di dalam kenyataan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi satu, satu keluarga saja. Pemahaman yang demikian, dengan tetap menaruh rasa hormat terhadap akal budi dan keterbukaan kepada yang transenden, mendesak semua manusia yang berkehendak baik, sekaligus mengundang mereka untuk menyelaraskan hak-hak dan kewajiban mereka.

Di dalam dunia kita yang tengah menderita ini, tugas mendidik kaum muda demi perdamaian dan keadilan menjadi semakin mendesak. Untuk melibatkan diri kita secara layak, butuh pemahaman akan hakikat perdamaian yang benar: Perdamaian tidak hanya terbatas pada situasi tanpa perang, atau keseimbangan kekuatan dari dua kubu yang bertikai, tetapi perdamaian adalah sekaligus anugerah dari Allah dan upaya keras manusia yang harus dikejar tanpa henti. Perdamaian adalah buah dari keadilan dan pengaruh dari kasih. Merupakan hal yang penting bahwa umat beriman selalu aktif di dalam komunitas-komunitas mereka, di mana melalui praktik belarasa, solidaritas, kerjasama, dan persaudaraan, mereka mampu memberikan sumbangan terhadap identifikasi tantangan-tantangan besar masa kini: pertumbuhan yang harmonis, perkembangan yang integral, pencegahan, dan pemecahan konflik-konflik. Inilah beberapa dari sekian banyak contoh tantangan lainnya.

Pada akhirnya, kami ingin mendorong para pembaca Pesan dan Ucapan Selamat ini dari kalangan kaum muda Muslim dan Kristiani untuk terus mengembangkan kebenaran dan kebebasan, supaya menjadi pewarta-pewarta keadilan dan perdamaian yang sejati, dan pembangun-pembangun budaya yang menghormati martabat serta hak setiap warga. Kami mengajak mereka untuk memiliki kesabaran dan keuletan yang perlu untuk merealisasi cita-cita ini, tidak pernah mengambil jalan menuju kompromi-kompromi penuh kebimbangan, jalan pintas yang memperdaya atau menuju cara-cara yang menunjukkan kurang respek terhadap pribadi manusia. Hanya orang-orang yang secara tulus ikhlas diyakinkan oleh pentingnya hal-hal ini, akan mampu membangun masyarakat, di mana keadilan dan perdamaian menjadi kenyataan.

Semoga Allah memenuhi hati, keluarga-keluarga, dan komunitas-komunitas mereka yang memelihara hasrat untuk menjadi ‘alat-alat perdamaian’, dengan sukacita dan harapan.

“Selamat berbahagia kepada Anda semua!”

 

Dari Vatikan, 3 Agustus 2012


Jean-Louis Cardinal Tauran
Presiden


Mgr. Pier Luigi Celata
Sekretaris

Gereja Katolik dengan Berbagai Ritus di Dalamnya

Kristus, yang telah ditinggikan dari bumi ini telah menarik semua orang untuk mengikuti diriNya. Beliau bangkit dari antara orang mati Dia mengutus Roh yang memberi hidup kepada murid-murid-Nya dan melalui Dia telah tercipta Tubuh-Nya yang adalah Gereja sendiri sebagai sakramen universal keselamatan. Duduk di sebelah kanan Bapa, Ia terus aktif di dunia dan Dia akan menuntun manusia kepada Gereja untuk bergabung bersama diri-Nya dan bahwa Dia akan membuat mereka mendapat bagian kehidupan dalam kemuliaan-Nya oleh santapan Tubuh dan darahNya sendiri. [Konsili Vatikan II, Konstitusi dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium 48]

 

Ritus

Sebuah Ritus sebagai wujud gerejawi, atau gereja, tradisi tentang bagaimana sakramen harus dirayakan. Masing-masing sakramen-sakramen yang pada intinya memiliki makna penting yang harus dipenuhi untuk untuk dirayakan atau dimengerti. Hakikat ini – dari materi, bentuk dan niat – berasal dari sifat diwahyukannya beberapa sakramen tertentu, sehigga tidak dapat diubah oleh Gereja. Kitab Suci dan Tradisi Suci, sebagaimana ditafsirkan oleh Magisterium, mereka menjelaskan kepada kita tentang apa yang penting dalam setiap sakramen (2 Tes. 2:15).

Ketika rasul-rasul membawa Injil ke pusat-pusat kebudayaan utama pada hari hari kehidupan mereka, unsur penting dalam beribadah mengalami inkulturasi dengan budaya lokal / setempat. Ini berarti bahwa unsur-unsur penting dalam Liturgi telah disandangkan busana dengan simbol-simbol budaya setempat kemudian tinggal menetap dengan masyarakat setempat, sehingga ritual menghantar makna hasrat rohani bagi budaya setempat. Dengan cara ini Gereja menjadi segalanya bagi semua orang yang rindu untuk diselamatkan (1 Kor. 9:22).

Ada tiga kelompok ritus utama berdasarkan dari Ritus awal ini yang merupakan transmisi iman, Romawi, Antiokhia (Suriah) dan Aleksandria (Mesir). Byzantium kemudian diturunkan sebagai Ritus besar dari Antiokhia, di bawah pengaruh St Basil dan St Yohanes Krisostomus. Dari keempat menurunkan lebih dari 20 Ritus liturgi yang dirayakan di Gereja Gereja hari ini.

 

Gereja-gereja

Sebuah Gereja adalah perkumpulan Umat yang setia, dalam tatanan hierarkis, baik di seluruh dunia – sebagai Gereja Katolik, atau di wilayah tertentu – sebagai Gereja Partikulir. Untuk menjadikan sakramen (tanda) dari Tubuh Mistik Kristus di dunia, Gereja harus memiliki kedua bagian, yaitu kepala dan anggota (Kolose 1:18). Tanda sakramental Kristus adalah Kepala hierarki suci – para uskup, imam dan diakon (Ef. 2:19-22). Lebih khusus lagi, adalah uskup lokal, dengan imam dan diakon berkumpul dan membantu dia pada aktivitas mengajar, menguduskan dan mengatur (Matius 28:19-20; Titus 1:4-9). Tanda sakramental Tubuh Mistik adalah Para Umat setia Kristiani. Dengan demikian Gereja Kristus sepenuhnya hadir secara sakramental (dengan wujud tanda) di mana pun terdapat tanda-tanda Kristus Kepala, seorang uskup dan orang-orang yang membantu dia, dan tanda Tubuh Kristus, Umat Kristiani yang setia. Oleh karena itu setiap keuskupan disebut Gereja Partikulir.

Wujud Rupa Kristus juga hadir dalam ritual sakramentali Gereja-gereja yang mewakili tradisi gerejawi saat merayakan sakramen-sakramen. Mereka umumnya diselenggarakan di bawah Patriark, yang bersama-sama dengan para uskup dan ulama lainnya untuk mewakili ritual Kristus sebagai kepala Gereja bagi orang-orang dari tradisi setempat. Dalam beberapa kasus, beberapa ritus memiliki nama yang sama dengan Gerejanya. Misalnya, Gereja Maronit dengan Patriark memiliki Ritus Maronit yang tidak ditemukan dalam Gereja lainnya. Tetapi dalam kasus lain, seperti Ritus Byzantium, beberapa gereja menggunakan ritus yang sama atau yang sangat mirip Ritus liturgis-nya. Sebagai contoh, Gereja Katolik Ukraina menggunakan Ritus Byzantium, tapi Ritus ini juga ditemukan dalam Gereja-Gereja Katolik lainnya, serta Gereja-Gereja Ortodoks Timur tidak dalam persatuan dengan Tahta Suci Roma.

Akhirnya, Gereja Kristus hadir secara sakramentali yang Universal atau berarti Gereja Katolik tersebar di seluruh dunia. Hal ini diidentifikasi oleh tanda Kristus sendiri mengenai batu karang kami yaitu, Uskup Roma, Pengganti Santo Petrus (Matius 16:18). Untuk menjadi Katolik dan Gereja-Gereja partikulir Ritual Gereja-Gereja tersebut harus dalam persekutuan penuh dengan Kepala Kristus ini, sama seperti para rasul yang lain, dan Gereja yang mereka dirikan, berada dalam persekutuan penuh dengan Petrus (Galatia 1:18). Melalui persekutuan dengan Petrus dan para penerusnya Gereja menjadi sakramen universal keselamatan dalam segala waktu dan tempat, bahkan sampai akhir zaman (Mat 28:20).

 

Ritus Barat dan Gereja

Sesegera mungkin telah tunduk kepada Uskup Roma, Paus Agung, yang menunjukkan kewibawaan-Nya atas liturgi melalui Kongregasi Ibadah Ilahi dan Tata-tertib Sakramen.

Keluarga ritus-ritus Liturgis Latin / Romawi

Gereja Roma adalah Tahta Primat dunia dan salah satu dari lima tahta patriarkal dari Gereja awal (Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem). Didirikan oleh Santo Petrus di 42 AD itu dikuduskan oleh darah St Petrus dan St Paulus pada masa penganiayaan Nero (63-67 M). Ini telah mempertahankan keberadaannya terus-menerus sampai hari ini dan merupakan sumber Keluarga Ritus di Barat. Berdasarkan penelitian para ahli (seperti yang Romo. Louis Boyer dalam Ekaristi) menunjukkan kedekatan erat Ritus Romawi yang mirip dengan doa Umat Yahudi di sinagoga, yang juga menghantarkan korban-korban pada Bait Suci. Sementara asal Ritus saat ini, bahkan dalam reformasi Konsili Vatikan II, dapat dilacak secara langsung hingga pada abad ke-4, hubungan ini menunjuk pada tradisi apostolik kuno yang dibawa ke kota kota yang jelas milik bangsai Yahudi.

Setelah Konsili Trente itu diadakan untuk mengkonsolidasikan doktrin dan praktek liturgi dalam menghadapi Reformasi. Dengan demikian, Paus St Pius V memutuskan perihal penggunaan Ritus Romawi di Gereja Latin (yang tunduk kepadanya dalam kapasitasnya sebagai Patriark Barat), sehingga hanya sedikit Ritus Barat yang berusia ratusan tahun tetap digunakan, sementara Ritus Ritus muda usia pada keuskupan atau daerah tertentu tidak lagi digunakan.

Sebagai konsekuensi dari Konsili Vatikan II Konstitusi dogmatis tentang Liturgi Suci, Paus Paulus VI melakukan reformasi Misa Ritus Romawi, yang direvisi dan di promulgasi dengan Misal Romanum tahun 1970. Ritus Misa ini sejak saat itu telah diubah dua kali (1975 dan 2002). Ritus Misa dirayakan sesuai dengan tata perayaan misa saat ini dalam Format Biasa Ritus Romawi. (Ordinarium Misale Romanum)

Pada saat Misale Romanum yang telah direvisi itu diundangkan pada tahun 1970 hampir semua umat Katolik berasumsi bahwa ritus sebelumnya yaitu Misale Romanum tahun 1962, telah dihapuskan. Dengan keputusan Paus Benediktus XVI Agung, asumsi umum tersebut telah dinyatakan SALAH dan hak para imam Ritus Latin untuk merayakan Misa menurut missal lama tersebut telah dikukuhkan (Surat Apostolik Summorum Pontificum, 7 Juli 2007). Misa dirayakan sesuai dengan Misale Romanum tahun 1962 merupakan Format Luar Biasa Ritus Romawi. (Extra Ordinarium Misale Romanum)

• Roma – Mayoritas umat Katolik Latin dan Katolik pada umumnya.

– Format Biasa Bentuk Ritus Romawi. Misa dirayakan sesuai dengan Missale Romanum tahun 1970, diresmikan oleh Paus Paulus VI, saat ini dalam edisi ketiga (2002). Edisi bahasa setempat Misale Romanum ini, serta upacara sakramen lain, yang diterjemahkan dari bahasa Latin edisi tipikal revisi sesudah Konsili Vatikan II.

– Format Luar Biasa Ritus Romawi. Misa dirayakan sesuai dengan Missale Romanum tahun 1962, diresmikan oleh Paus Yohanes XXIII. Sakramen yang lain dirayakan menurut Ritual Romawi yang berlaku pada waktu Konsili Vatikan II. Format Luar Biasa yang paling menonjol karena hampir seluruhnya dalam bahasa Latin. Selain lembaga-lembaga yang memiliki kemampuan untuk merayakan Format Luar Biasa secara rutin, seperti Persaudaraan para imam Santo Petrus dan Institut Sovereign Kristus Raja Imam, setiap imam Ritus Latin dapat sekarang diperkenankan menawarkan Misa dan sakramen-sakramen lainnya sesuai dengan norma-norma dari Summorum Pontificum.

– Format Gereja Anglikan. Sejak tahun 1980-an Tahta Suci telah menganugerahkan kepada beberapa bekas rohaniwan Episkopal Anglikan dan paroki-paroki mereka yang sudah mengkonversi kedalam Gereja Katolik dalam aktifitasnya untuk merayakan upacara sakramental Anglikan menurut bentuk Ritus mereka hanya doktrin-nya diperbaiki.

• Mozarabic – Ritus dari semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang dikenal dari sekurang-kurangnya abad ke-6, dan mungkin dengan akar bentuk penginjilan asli. terhitung mulai pada abad ke-11 sudah digantikan dengan Ritus Romawi, meskipun demikian Katedral Keuskupan Agung Toledo, Spanyol, dan enam paroki-paroki yang telah meminta izin untuk merayakan Ritus Lama milik mereka. Perayaan tersebut saat ini umumnya dirayakan setengah terbuka.

• Ambrosiana – Ritus dari Keuskupan Agung Milan, Italia, diperkirakan mungkin berasal dari awal kekristenan barat dan hasil konsolidasi, tetapi bukan berasal dari Santo Ambrosius. Paus Paulus VI berasal dari Ritus Romawi ini. Ritus ini sekarang masih terus dirayakan di Milan, meskipun tidak oleh semua paroki.

• Bragan – Ritus dari Keuskupan Agung Braga, pada Tahta Primat Portugal, berasal dari abad ke-12 atau sebelumnya. Masih terus dirayakan walau hanya sekali sekali digunakan.

• Dominikan – Ritus biarawan Ordo Preacher/Pengkhotbah (OP), didirikan oleh St Dominikus pada tahun 1215.

• Karmelit – Ritus Ordo Karmel, yayasan yang modern oleh St Berthold c.1154.

• Carthusian – Ritus dari Orde Carthusian didirikan oleh St Bruno di 1084.

 

Ritus Timur dan Gereja

Gereja Katolik Timur mempunyai hierarki, sistem pemerintahan (sinode) dan hukum umum, Kitab Hukum Kanonik untuk Gereja-Gereja Timur tersendiri. Paus memiliki kekuasaan tertinggi atas mereka melalui Kongregasi untuk Gereja-Gereja Timur.

 

Keluarga ritus-ritus liturgis Antiokhia

Gereja Antiokhia di Syria (Provinsi Romawi kuno Suriah) dianggap sebagai Tahta Apostolik berdasarkan apa yang telah didirikan oleh Santo Petrus. mereka adalah salah satu pusat Gereja Purba, seperti yang tertera pada Perjanjian Baru, dan merupakan sumber keluarga Ritus serupa yang menggunakan bahasa Suryani kuno (dialek Semit digunakan dalam masa kehidupan Yesus dan lebih dikenal sebagai bahasa Aram). Liturgi tersebut dipersembahkan untuk St James dan Gereja Yerusalem.

1. SYRIA BARAT

• Maronit – Tidak pernah terpisah dari Roma. Patriark Maronit Antiokhia. Bahasa liturgi Aram. 3 juta Maronit yang ditemukan di Lebanon (asal), Siprus, Mesir, Suriah, Israel, Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Brazil, Argentina dan Australia.

• Suryani – Suryani Katolik yang kembali ke Roma pada tahun 1781 dari bidaah Monofisit. Patriark Syria Antiokhia. 110.000 Katolik Suryani yang ditemukan di Suriah, Libanon, Irak, Mesir, Kanada dan Amerika Serikat.

• Malankara – Katolik dari India Selatan diinjili oleh St Thomas, menggunakan liturgi Syria Barat. Berkumpul kembali dengan Roma pada tahun 1930. Bahasa liturgis Barat hari ini adalah syria dan Malayalam. 350.000 Malankara Katolik yang ditemukan di India dan Amerika Utara.

2. SYRIA TIMUR

• Kasdim / Khaldea – Babel Katolik kembali ke Roma pada 1692 dari bidaah Nestorian. Patriark Babel dari Kasdim. Liturgi bahasa Syria dan bahasa Arab. 310.000 Katolik Khaldea yang ditemukan di Irak, Iran, Suriah, Libanon, Mesir, Turki dan Amerika Serikat.

• Siro-Malabar – Katolik dari India Selatan menggunakan liturgi Syria Timur. Kembali ke Roma pada abad ke-16 dari bidaah Nestorian. Liturgi bahasa syria dan Malayalam. Lebih dari 3 juta umat Katolik Siro-Malabar dapat ditemukan di negara bagian Kerela, dalam Barat Daya India.

 

Keluarga ritus-ritus liturgis Bizantium 

Gereja Konstantinopel menjadi pusat politik dan agama timur Kekaisaran Romawi setelah Kaisar Konstantin membangun sebuah ibukota baru di sana (324-330) di situs kota kuno Byzantium. Konstantinopel mengembangkan sendiri ritus liturgis dari Liturgi Santo Yakobus, dalam satu bentuk yang dimodifikasi oleh St Basil, dan dalam bentuk yang lebih umum digunakan, sebagaimana telah diubah oleh St Yohanes Krisostomus. Setelah 1054, kecuali untuk periode singkat persatan penuh dengan Roma, kebanyakan orang Kristen Byzantium belum dalam persekutuan dengan Roma. Mereka membentuk Gereja-gereja Ortodoks Timur, yang kepala titulernya adalah Patriark Konstantinopel. Gereja Ortodoks kebanyakan auto-cephalous, yang berarti berkepala mandiri, bersatu untuk satu sama lain dengan persekutuan dengan Konstantinopel, yang dalam pelaksanaannya tidak punya otoritas atas mereka. Mereka biasanya dibagi ke dalam Gereja-gereja menurut garis bangsa atau negara. Mereka yang telah kembali ke dalam persekutuan dengan Tahta Suci diwakili di antara Gereja-Gereja Timur dan sebagian menggunakan Ritus dari Gereja Katolik.

1. ARMENIA

Dianggap baik Ritus sendiri atau versi yang lebih tua dari Byzantium. Bentuk pastinya tidak digunakan oleh Ritus Bizantium lainnya. Ini terdiri dari Umat Katolik yang merupakan orang pertama untuk mengkonversi sebagai bangsa Armenia (Timur Laut dari Turki), dan yang kembali ke Roma pada masa Perang Salib. Patriarkh Kilikia dari Armenia. Bahasa liturgis Armenia klasik. 350.000 Katolik Armenia yang ditemukan di Armenia, Suriah, Iran, Irak, Lebanon, Turki, Mesir, Yunani, Ukraina, Perancis, Rumania, Amerika Serikat dan Argentina. Kebanyakan Warga Armenia yang menganut Ortodoks, tidak dalam persatuan dengan Roma.

2. Bizantium

• Albania – Umat Kristen Albania, hanya berjumlah 1400 orang sekarang ini, yang melanjutkan persekutuan dengan Roma pada tahun 1628. Bahasa liturgi adalah Albania. Sebagian besar orang Albania menganut Kristen Ortodoks Albania.

• Belarusia / Byelorussian – tidak diketahui berapa jumlah umat yang kembali ke Roma pada abad ke-17. Bahasa liturgi Slavia Lama. Yang setia dapat ditemukan di Belarus, serta Eropa, Amerika dan Australia.

• Bulgaria – Bulgaria yang kembali ke Roma pada tahun 1861. Bahasa liturgi Slavia Lama. 20.000 umat setia yang dapat ditemukan di Bulgaria. Sebagian besar bulgaria bulgaria orang Kristen Ortodoks.

• Ceko – Ceko Katolik dari Ritus Byzantium diatur dalam sebuah yurisdiksi pada tahun 1996.

• Križevci – Kroasia Katolik dari Ritus Byzantium yang kembali dalam persekutuan dengan Roma 1611. Bahasa liturgi Slavia Lama. memiliki 50.000 umat dapat ditemukan di Kroasia dan Amerika. Kebanyakan Kroasia adalah Romawi (Ritus) Katolik.

• Yunani – Yunani Kristen yang kembali ke Roma pada 1829. Bahasa liturgi adalah Yunani. Hanya 2500 umat setia di Yunani, Asia Kecil (Turki) dan Eropa. Yunani hampir semua orang menganut Kristen Ortodoks, di bawah Patriark Ortodoks Patriark Konstantinopel.

• Hungaria – Keturunan Ruthenians yang kembali ke Roma pada 1646. Liturgi bahasa Yunani, Hungaria dan Inggris. memiliki 300.000 umat beriman yang ditemukan di Hungaria, Eropa dan Amerika.

• Italo-Albania – Tidak pernah terpisah dari Roma, dengan 60.000 umat Katolik Ritus Bizantium ditemukan di Italia, Sisilia dan Amerika. Bahasa liturgi adalah Yunani dan Italo-Albania.

• Melkite – Katolik dari antara mereka yang terpisah dari Roma di Syria dan Mesir yang kembali komuni dengan Roma pada waktu Perang Salib. Namun, serikat definitif hanya datang di abad 18. Patriark-nya membawahi wilayah Melkite Yunani Damaskus. Liturgi bahasa Yunani, Arab, Inggris, Portugis dan Spanyol. Lebih dari 1 juta Melkite Katolik dapat ditemukan di Suriah, Libanon, Yordania, Israel, Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Venezuela, Argentina dan Australia.

• Rumania – Rumania yang kembali ke Roma pada 1697. Bahasa liturgi Rumania. Ada lebih dari 1 juta Umat Katolik Rumania di Rumania, Eropa dan Amerika. Sebagian besar orang Kristen Rumania penganut Ortodoks Rumania.

• Rusia – Rusia yang kembali ke dalam persekutuan dengan Roma pada tahun 1905. Bahasa liturgi Slavia Lama. Tidak diketahui jumlah umat yang setia di Rusia, Cina, Amerika dan Australia. Kebanyakan orang Kristen Rusia menganut Ortodoks Rusia, dengan Patriark-nya adalah Patriark Ortodoks Moskow.

• Ruthenia – Katolik dari antara mereka yang terpisah dari Roma di Rusia, Hungaria dan Kroasia yang bersatu kembali dengan Roma pada 1596 (Brest-Litovsk) dan 1646 (Uzhorod).

• Slovakia – Ritus Byzantium Katolik asal Slowakia berjumlah 225.000 Umat dan dapat ditemukan di Slovakia dan Kanada.

• Ukraina – Katolik dari antara mereka yang terpisah dari Roma oleh Skisma Yunani dan bersatu kembali sekitar 1595. Patriark atau Metropolitan Kyiv. Bahasa liturgi Lama Slavia dan bahasa sehari-hari. Dengan 5,5 juta Umat Ukraina Katolik dapat ditemukan di Ukraina, Polandia, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, Amerika Serikat, Brazil, Argentina dan Australia. Selama era Uni Soviet, Katolik Ukraina dengan kejam dipaksa untuk bergabung dengan Gereja Ortodoks Ukraina. Hierarki mereka yang kemudian terus menggembala dari luar tanah air, saat ini mereka telah berdiri kembali di Ukraina.

 

Keluarga ritus-ritus liturgis Aleksandria

Gereja Alexandria di Mesir adalah salah satu pusat asli Kekristenan, karena seperti Roma dan Antiokhia dan mereka memiliki populasi orang Yahudi yang banyak sehingga merupakan objek awal kerasulan penginjilan. Liturgi mereka dipersembahkan untuk Santo Markus Penginjil, dan menunjukkan pengaruhnya dalam Liturgi Byzantium, di samping juga memiliki elemen yang unik.

• Koptik – Katolik Mesir yang kembali ke dalam persekutuan dengan Roma pada 1741. Patriark Aleksandria memimpin setia 200.000 Umat, ritual gereja ini tersebar di seluruh Mesir dan Timur Tengah. Bahasa liturgi Koptik (Mesir) dan bahasa Arab. Kebanyakan bangsa Koptik tidak menganut Katolik.

• Ethiopia / Abyssinian – Ethiopia Kristen Koptik yang kembali ke Roma pada tahun 1846. Bahasa liturginya Geez. Memiliki 200.000 Umat beriman tersebar di Ethiopia, Eritrea, Somalia, dan Yerusalem.

DARI KIRI KE KANAN:
Patriarkh Nerses Bedros XIX Tarmouni (Kepala Gereja Katolik Armenia)
Patriarkh Gregorios III Laham (Kepala Gereja Katolik Melkit)
Patriarkh Kardinal Nasrallah Boutros Sfeir (Kepala Gereja Katolik Maronit)
Paus Benediktus XVI (Kepala Gereja Katolik Roma, sekaligus Kepala Gereja Katolik Sedunia)
Patriarkh Kardinal Emmanuel III Delly (Kepala Gereja Katolik Kaldea)
Patriarkh Antonios Naguib (Kepala Gereja Katolik Koptik)
Patriarkh Baselios Cleemis Thottunkal (Kepala Gereja Katolik Siro-Malankara)

 

Dikutip dari artikel FB Gereja Katolik

Basilika St. Petrus Sebelum Sebelum Disentuh Michaelangelo dkk

Sebelum dibangun Basilika St. Petrus yang sekarang kita kenal, Kaisar Konstantine pada abad ke-4 telah mendirikan sebuah basilika di tempat yang sama, yaitu di Vatikan, untuk menghormati para martir yang dibunuh dan dimakamkan di sana, termasuk St. Petrus. Altar diposisikan berada di atas makam St. Petrus dan posisinya tidak berubah sampai sekarang.

Sejarah pendirian basilika dan makam St. Petrus bisa dilihat di sini.

Berikut ini gambar-gambar serta video penggambaran basilika lama versi 3D yang berhasil aku temukan di internet.

Basilika St. Petrus lama terlihat di bagian kiri gambar, sementara Kastil San Angelo di sebelah kanan gambar

Lukisan basilika lama

Penggambaran basilika lama

Sketsa interior basilika

Lukisan menunjukkan aktivitas di dalam basilika lama

 

 

Bahkan Setan pun Mengakui Kehadiran Tuhan dalam Sakramen Mahakudus

Bagi kita, orang Katolik, percaya dengan sungguh bahwa Yesus memang hadir dalam rupa Hosti dan Anggur. Banyak sudah mujizat yang terjadi berkenaan dengan hal ini, antara lain, Hosti dan Anggur benar berubah menjadi, masing-masing, cukilan daging dan gumpalan darah segar. Dan itu tidak rusak sampai saat ini meski sudah puluhan, ratusan, atau bahkan, ribuan tahun umurnya.

Keledai lebih memilih menyembah Sakramen Mahakudus ketimbang memakan rumput yang ada di sebelahnya.

Juga pernah kita dengar kisah St. Antonius Padua saat berkhotbah di Toulose, Perancis. Kala itu, St. Antonius membuat mujizat dengan menyuruh seekor keledai yang kelaparan untuk berlutut di hadapan Sakramen Maha Kudus seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. Sang keledai yang sengaja tidak diberi makan selama tiga hari itu sama sekali tidak menghiraukan jerami segar yang ada di dekatnya.

Bahkan setan pun dipergunakan oleh-Nya untuk mengakui kehadiran nyata Tuhan dalam Sakramen Maha Kudus ! Hal ini terkuak ketika dilakukan proses eksorsisme terhadap Nicola Aubrey, seorang wanita Katolik saleh yang dirasuki oleh Beelzebul, sang penghulu setan (Mat 12:24, Luk 11:15), beserta 29 setan pengikutnya atas seizin Tuhan sendiri.

Proses eksorsisme adalah proses pengusiran setan. Pihak Gereja Katolik memiliki ritual khusus untuk proses ini. Tidak semua imam Katolik diberi kuasa untuk melakukannya. Karena itulah, sangat jarang kita dengar proses eksorsisme yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Namun beberapa di antaranya telah dipublikasikan, bahkan ada yang dibuatkan film. Kasus Anneliese Michel adalah salah satunya. Sayangnya gadis muda belia yang berparas cantik itu harus kehilangan nyawanya di dunia ini.

Nah kisah Nicola Aubrey ini beakhir happy ending. Kisahnya, konon kabarnya, baru dibuka setelah wafatnya Sri Paus JP II. Berikut petikan kisahnya. Maaf kalau kepanjangan. Kebenarannya bisa ditanyakan ke mbah Google atau ke mas Wikipedia.

Bila setan pun mengakui, meskipun dipaksa oleh kekuatan Ilahi, masih adakah kita meragukan kehadiran nyata Tuhan sendiri dalam rupa Hosti dan Anggur ? Namun juga jangan sampai terjadi ‘main hakim sendiri’ bila ditemui kasus pelecehan Sakramen Maha Kudus, sebagaimana yang pernah saya dengar terjadi di Flores……

Eksorsisme Nicola Aubrey,
oleh Father Michael Müller, C.S.S.R.
(kisah nyata / true story / dokument Vatikan yang baru dibuka )

Sungguh suatu kenyataan yang luar biasa bahwa, sebagaimana setan menggunakan Martin Luther, seorang rahib yang ingkar, demi merendahkan Misa Kudus dan menyangkal Kehadiran Nyata, sedemikan pula Allah dapat menggunakan kekuatan setan sebagai pembuktian kehadiranNya yang nyata. Allah berulang kali secara terbuka memaksa setan untuk menyatakan kepercayaannya tentang kehadiranNya yang nyata, untuk mengacaukan para bidaah akibat kesesatan mereka, dan menaklukkan dirinya (setan) di hadapan Allah dalam rupa Sakramen Maha Kudus.

Untuk maksud inilah Allah telah mengijinkan seorang wanita yang bernama Nicola Aubrey, seorang yang innocent/tak bersalah menjadi dikuasai/dirasuki oleh Beelzebul dan 29 kekuatan jahat lainnya. Penguasaan ini terjadi 08 November 1565 dan berakhir hingga 08 Februari1566.

Orang tuanya membawa Nicola kepada Romo de Motta, seorang Imam yang saleh di Vervins, agar beliau dapat mengusir setan melalui eksorsisme sesuai Gereja Katholik. Rm.de Motta telah mencoba beberapa kali mengusir kekuatan jahat dengan menggunakan relikwi salib suci, namun tidak berhasil; Setan tidak dapat diusir. Akhirnya, diinspirasikan oleh Roh Kudus, beliau memutuskan untuk mengusir setan dengan kehadiran Sakramen Tubuh dan Darah Kristus. Sementara Nicola terbaring dalam keadaan mati suri, Rm. de Motta meletakkan Sakramen Maha Kudus di bibir Nicola, dan seketika daya kekuatan jahat dipatahkan; Nicola kembali sadar dan dapat menerima komuni kudus dengan segenap tanda devosi. Segera setelah Nicola dapat menerima Komuni Kudus, wajahnya menjadi cerah dan cantik sebagaimana raut wajah seorang malaikat, dan semua yang menyaksikannya diliputi sukacita dan keheranan, dan mereka bersyukur memuji Allah dari hati mereka yang terdalam.

Dengan seizin Allah, setan datang kembali dan merasuki Nicola lagi.

Ketika keadaan penguasaan setan atas Nicola diketahui orang banyak, beberapa orang pengkotbah Calvinis bersama pengikutnya datang, untuk “menyingkap kebohongan Paus”, kata mereka. Saat mereka masuk, setan memberi salam sambil mengejek mereka, menyebut nama2 mereka dan mengatakan bahwa mereka telah datang karena ketaatan pada setan. Salah seorang pengkotbah membuka buku doa Protestannya dan mulai membaca dengan wajah yang sungguh khidmat. Setan mentertawakannya, dan menunjukkan mimik muka seperti komik, setan berkata: “Ho ho! Teman-teman baikku; apakah engkau ingin mengusir aku dengan doa2 dan pujianmu? Apakah kamu pikir hal itu akan menyakiti aku ? Tidak tahukah kamu bahwa doa pujian itu milikku ? Akulah yang telah membantu untuk menggubahnya !”

“Aku akan mengusirmu dalam nama Tuhan,” kata pengkotbah itu sungguh2.

“Kamu..!” kata setan, mengejek. “Kamu tidak akan mengusir aku baik dalam nama Tuhan atau dalam nama setan. Apakah kamu pernah mendengar ada setan yang satu mengusir setan yang lain?”

“Aku bukan setan.” kata pengkotbah itu dengan marah, “Aku adalah pelayan Kristus”.

“Seorang pelayan Kristus, tentu saja!” kata setan sambil menyeringai. “Tahukah kamu! Kukatakan padamu bahwa kamu lebih buruk daripada aku. Aku percaya, sedangkan kamu tidak mau percaya. Apakah kamu mengira bahwa kamu dapat mengusir aku dari tubuh orang sialan ini? Ha! Pergilah dulu dan usir setan2 dari dalam hatimu sendiri !”

Pengkotbah itu hendak pergi, ia merasa tidak senang. Ketika berjalan keluar, ia berkata seraya menatap ke atas, “Oo Tuhan, aku berdoa padaMu, tolonglah anakmu yang malang ini!”

“Dan aku berdoa, Lucifer,” teriak setan, “agar pengkotbah ini tidak akan pernah meninggalkanmu (Lucifer), tetapi semoga ia tetap memujamu dengan segenap kekuatannya, seperti yang dilakukannya saat ini. Pengkotbah, pergilah selesaikan tugas2mu sekarang. Kalian semua milikku, dan akulah tuanmu”.

Saat Romo de Motta tiba, beberapa orang Protestan segera pergi – mereka telah melihat dan mendengar lebih dari yang mereka inginkan. Yang lainnya, bagaimanapun, tetap tinggal; dan amatlah dahsyat terror yang mereka terima ketika mereka melihat bagaimana setan menggeliat dan berteriak dalam kengerian, ketika Sakramen Maha Kudus dibawa dekat pada setan. Akhirnya kekuatan jahat itu pergi, meninggalkan Nicola dalam keadaan tak sadar.
Sementara Nicola dalam keadaan ini, beberapa pengkotbah mencoba membuka mata Nicola, namun mereka tak dapat melakukannya. Romo kemudian meletakkan Sakramen Maha Kudus di bibir Nicola; dan seketika ia kembali sadar.

Romo de Motta kemudian berpaling kepada para pengkotbah yang keheranan, dan berkata: “Pergilah sekarang, kalian para pengkotbah Injil baru; pergilah dan kabarkan kemana saja apa yang telah kalian lihat dan dengar. Janganlah lagi menyangkali bahwa Tuhan kita Yesus Kristus sungguh2 ada dan nyata hadir dalam Sakramen Mahakudus di altar. Pergilah sekarang, dan jangan membiarkan wibawa hormat manusia menghalang-halangimu dari menyatakan kebenaran”.

Selama beberapa hari eksorsisme berikutnya, setan dipaksa untuk mengakui bahwa ia memang tidak diusir di Vervins, dan bahwa ia membawa bersamanya 29 setan2 lain diantaranya 3 iblis yang berkuasa : Cerberus, Astaroth dan Legio.

Pada hari ke 3 di bulan Januari tahun 1556, bapa Uskup tiba di Vervins, dan memulai eksorsisme di Gereja, di tengah kehadiran umat yang amat banyak.

“Saya perintahkan engkau, dalam nama dan kekuatan dari kehadiran nyata Tuhan kami dalam Sakramen Maha Kudus, untuk segera enyah.” demikian kata bapa Uskup kepada setan dalam suaran yang khidmat.

Setan akhirnya diusir, untuk kedua kalinya berkat kehadiran Sakramen Ekaristi. Saat pergi, setan melumpuhkan tangan kiri dan kaki kanan Nicola, dan juga membuat tangan kirinya lebih panjang dari tangan kanan; dan tidak ada kekuatan di bumi yang dapat menyembuhkan keadaan yang aneh ini, hingga beberapa minggu kemudian ketika setan akirnya telah dienyahkan dengan sempurna dan tidak dapat kembali lagi.

Nicola kemudian dibawa ke perayaan peziarahan Bunda Maria dari Liesse, khususnya karena setan sepertinya amat takut terhadap tempat itu.

Hari berikutnya Rm. de Motta memulai eksorsisme di Gereja Bunda Maria dari Liesse, di tengah kehadiran umat yang besar.

Romo memegang Sakramen MahaKudus dalam tangannya dan menunjukkanNya pada iblis, sambil berkata “Aku perintahkan engkau, dalam nama Tuhan yang hidup, Emmanuel yang Agung yang hadir di sini, dan yang di dalamNya engkau percaya”.

“Ah, ya!” kata setan, “Aku percaya padaNya,” dan setan berteriak kesakitan lagi ketika mengatakan pengakuannya, karena ia disiksa oleh kekuatan Ilahi.

“Aku perintahkan engkau, oleh karena NamaNya.” kata Imam. “untuk meninggalkan tubuh ini segera”

Dengan kata2 ini, dan khususnya dengan kehadiran Sakramen Ekaristi, setan menderita siksaan hebat yang sangat menakutkan. Suatu saat tubuh Nicola berputar menggelinding seperti bola, lalu kembali tubuhnya membengkak sangat menakutkan.
Suatu ketika wajahnya memanjang dengan aneh, lalu melebar sekali dan terkadang berwarna merah padam dan terkadang berbintik-bintik seperti katak.

Imam masih meneruskan untuk mendesak dan menyiksa setan. “Roh yang terkutuk” teriaknya, “Aku perintahkan engkau, dalam Nama dan oleh kehadiran nyata dari Tuhan kita Yesus Kristus di sini dalam Sakramen Maha Kudus, untuk segera enyah dari tubuh makhluk yang malang ini”.

“Ah ya!” jerit setan, melengking liar, “26 dari teman-temanku akan segera pergi saat ini, karena mereka dipaksa berbuat demikian”.

Umat yang hadir kini mulai berdoa dengan penuh semangat. Tiba2 anggota badan Nicola mulai retak, seperti tulang2 dalam tubuhnya mulai patah, semacam wabah asap/uap keluar dari mulutnya, dan 26 roh jahat meninggalkan tubuh Nicola, tidak pernah kembali lagi.

Lalu Nicola jatuh pingsan, dimana ia hanya dapat disadarkan dengan Sakramen Maha Kudus. Ketika dipulihkan dan menerima sakramen Ekaristi, raut wajah Nicola bercahaya seperti wajah seorang malaikat.

Imam masih meneruskan mendesak setan, dan menggunakan semua harta pusaka gereja untuk mengusirnya.

“Aku tidak akan pergi, kecuali diperintahkan oleh Uskup dari Leon” kata setan dengan marah.

Lalu Nicola dibawa ke Pierrepont, dimana satu iblis bernama Legio, diusir oleh kehadiran Sakramen Maha Kudus.

Pagi hari berikutnya Nicola dibawa ke Gereja. Dengan menakutkan ia dibawa keluar rumah, ketika setan merasukinya lagi.

Uskup yang diminta untuk pengusiran dalam Nicola, mempersiapkan dirinya untuk tugas yang berat ini dengan berdoa dan berpuasa, dan mengerjakan perbuatan2 silih lainnya.

Saat kedatangan Nicola di Gereja, eksorsisme dimulai. “Berapa diantaramu yang ada dalam tubuh ini?” tanya bapa Uskup.

“Kami bertiga” jawab roh jahat itu.

“Apa nama2 kalian?”

“Beelzebub, Cerberus, dan Astaroth.”

“Apa yang terjadi pada yang lainnya? tanya bapa Uskup.

“Mereka sudah dienyahkan” jawab setan.

“Siapa yang mengusir mereka?”

“Ha!” teriak setan, menggertakkan giginya. “itulah Dia yang engkau pegang dalam tanganmu, di sana dalam Patena”. Setan menunjuk Tuhan kita dalam Sakramen Maha Kudus.

Bapa Uskup lalu memegang Sakramen Maha Kudus ke dekat wajah Nicola. Setan menggeliat dan berteriak penuh kengerian. “Ah. ya! Aku akan pergi, aku akan pergi!” ia memekik tertawa, “tetapi aku akan kembali”.

Segera tubuh Nicola menjadi kaku dan tak bergerak seperti batu marmer. Bapa Uskup lalu menyentuhkan bibirnya dengan Sakramen Maha Kudus dan detik itu juga ia segera sadar sepenuhnya. Nicola menerima Komuni Kudus dan air mukanya sekarang bercahaya memancarkan kecantikan Ilahi.

Hari berikutnya Nicola dibawa kembali ke Gereja, dan eksorsisme dimulai lagi seperti biasa.

Bapa Uskup memegang Sakramen Ekaristi dalam tangannya, mendekatkan pada wajah Nicola dan berkata:

“Aku perintahkan engkau dalam nama Allah yang hidup, dan dengan kehadiran Yesus Kristus Tuhan kita yang nyata di sini dalam Sakramen di altar, agar engkau segera enyah dari tubuh ciptaan Tuhan ini dan tak pernah kembali”.

“Tidak, tidak” teriak setan, “Aku tidak akan pergi. Waktuku belum tiba”.

“Aku perintahkan engkau untuk pergi, enyahlah, roh tercela, terkutuk! Pergilah!” dan bapa Uskup memegang Sakramen Maha Kudus dekat wajah Nicola.

“Stop, stop!” jerit setan; “biarkan aku pergi! Aku akan pergi – tetapi aku akan kembali”. Segera Nicola terjatuh dengan tawa yang mengerikan. Suatu asap hitam keluar dari mulutnya dan ia jatuh pingsan lagi.

Selama Nicola tinggal di Leon, ia dengan hati-hati dipelajari oleh para psikiater Katolik dan Protestan. Tangan kirinya, yang telah dilumpuhkan oleh setan, didapati mati rasa. Para dokter menggores lengannya dengan pisau tajam, membakar dengan api, menusuk dengan jarum dan paku pada jari2 tangannya, tetapi Nicola tidak merasa sakit; tangannya telah mati rasa.
Suatu ketika Nicola sedang berbaring dalam keadaan mati suri, para dokter memberinya semacam roti yang dicelupkan ke dalam anggur (seperti yang disebut kaum Protestan sebagai komuni mereka atau Perjamuan Kudus), mereka menyeka bibrnya dengan kasar, meeka memercikkan air pada wajahnya, mereka menusuk lidahnya hingga darah keluar; mereka mencoba segala cara untuk membagunkan Nicola, namun sia-sia!
Tubuh Nicola tetap diam dan tak bergerak seperti patung marmer. Akhirnya Imam menyentuhkan Sakramen Maha Kudus ke bibir Nicola dan seketika ia kembali sadar sepenuhnya dan mulai memuji Tuhan.

Mukjizat ini sangat jelas, sangat gamblang, hingga seorang dokter yang tadinya Calvinis fanatik, segera memperbaiki kesalahannya, dan menjadi Katholik.

Beberapa kali, juga kaum Protestan menyentuhkan hosti yang belum dikonsekrasi ke wajah Nicola, yang mana konsekwensinya adalah hanya roti, tidak berpengaruh sedikitpun bagi setan, malah ia melecehkan usaha mereka.

Pada tanggal 27 Januari, bapa Uskup, setelah berjalan dalam prosesi yang hikmat dengan para rahib dan umat, memulai exorsisme di Gereja, dengan kehadiran banyak jemaat Protestan dan Katolik.

Bapa Uskup sekarang memegang Sakramen Maha Kudus dekat ke wajah Nicola. Tiba-tiba suatu teriakan yang liar dan aneh terdengar nyaring di udara – suatu asap hitam pekat keluar dari mulut Nicola. Setan Astaroth telah dienyahkan selamanya.

Selama eksorsisme yang berlangsung tanggal 1 Februari, bapa Uskup mengatakan:

“Oh roh yang terkutuk! Oleh karena bukan doa, atau Injil Suci ataupun eksorsisme oleh Gereja, atau relikwi suci, dapat memaksamu untuk pergi, saya sekarang akan menunjukkan padamu Tuhan dan Junjungan kami, dan dengan kuasaNya saya perintahkan engkau”

Selama eksorsisme yang dilangsungkan setelah Misa, bapa Uskup memegang Sakramen Maha Kudus dalam tangannya dan berkata : “Oh roh yang terkutuk, musuh besar dari Allah yang maha Kuasa! Aku perintahkan engkau, oleh Darah Yesus Kristus yang Maha Mulia hadir di sini, agar enyah dari wanita malang ini! Enyahlah hai terkutuk ke dalam api neraka yang kekal!”

Saat kata2 ini diucapkan, dan khususnya dengan kehadiran Sakramen Maha Kudus, setan menjadi sangat takut dan kesakitan dan penampilan Nicola menjadi seram dan memberontak, hingga orang2 memalingkan mata mereka penuh ketakutan. Akhirnya suatu keluhan berat terdengar, dan sutau awan dari asap hitam keluar dari mulut Nicola, Cerberus telah dienyahkan.

Lalu Nicola jatuh lagi dalam mati suri dan ia dapat disadarkan kembali hanya oleh kehadiran Sakramen Ekaristi.

Selama eksorsisme, yang berlangsung di hari ketujuh bulan Februari, Uskup mengatakan pada setan:

“Katakan padaku, mengapa engkau merasuki tubuh wanita Katolik yang jujur dan berbudi luhur ini ?”

“Aku melakukannya atas izin Allah. Aku telah dapat menguasai dia akibat dosa-dosa banyak orang. Aku melakukannya untuk menunjukkan kepada para pengikut Calvinis ku bahwa mereka adalah roh jahat yang dapat mengambil kuasa atas manusia jika Allah mengizinkannya. Aku tahu mereka tak ingin mempercayai ini; namun aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa akulah roh jahat. Aku telah merasuki makhluk ini agar mereka bertobat, atau agar makin mengeraskan hati mereka dalam dosa2 mereka; dan melalui kurban berdarah, akau akan melakukan karya-karyaku”.

Jawaban ini menakutkan hati tiap orang yang mendengarnya dengan horor. “Ya”, jawab bapa Uskup dengan khidmat, “Allah menginginkan persatuan setiap orang hanya dalam iman yang kudus. Karena hanya ada satu Allah, maka hanya ada satu agama yang benar. Agama seperti yang telah diciptakan kaum protestan hanyalah suatu olok-olok yang palsu. Ajaran ini pasti hancur. Agama yang didirikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya yang sejati; hanya itu yang akan bertahan sampai kekal. Agama ini dimaksudkan untuk persatuan semua umat manusia dalam rangkulan pengorbanannya, agar hanya ada satu kawanan dengan satu gembala. Gembala Ilahi inilah Tuhan kita Yesus Kristus, yakni kepala yang tak nampak dari Gereja Katolik yang Kudus. yang pemimpin nyatanya adalah Bapa Suci – Paus penerus St.Petrus”.

Setan berdiam diri – dia dipermalukan di hadapan orang banyak. Setan sekali lagi dienyahkan oleh kehadiran Sakramen Maha Kudus.

Pada sore harinya, setan mulai menangis: “Ah! Ha! Kalian pikir bahwa kalian dapat mengusir aku dengan cara ini. Kalian tidak memiliki prosedur kehadiran Uskup yang benar. Di manakah para diakon dan prodiakon? Di manakah para hakim agung? Di mana kepala hakim, yang telah ketakutan karena ucapannya malam itu, di penjara ? Di manakah para penagih kerajaan ? Di mana para pengacara dan penasihat ? Di mana juru tulis pengadilan ? (Setan menyebutkan nama mereka masing-masing) “Aku tidak akan pergi sampai mereka semua hadir. Jika aku harus pergi sekarang, apa bukti yang dapat kalian berikan pada raja atas segala sesuatu yang telah terjadi? Kalian pikir orang akan mempercayaimu demikian saja? Tidak, tidak! Akan banyak yang mengajukan keberatan-pengakuan. Pengakuan dan kesaksian dari orang2 & penduduk setempat bobotnya rendah. Adalah penyiksaan bagiku bahwa aku harus memberitahu padamu apa yang harus kalian lakukan. Aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Terkutuklah jam disaat pertama aku menguasai orang sial ini”.

“Aku menemukan sedikit kesenangan dari ocehanmu,” jawab bapa Uskup; “Ada cukup banyak saksi di sini. Mereka yang kau sebutkan tidaklah dibutuhkan.
Enyah! lalu berikan kemuliaan bagi Tuhan. Pergilah – ke dalam kobaran api neraka!”

“Ya, aku akan pergi, namun tidak hari ini. Aku tahu pasti aku harus pergi. Kalimatku telah berlalu; aku dipaksa untuk pergi”

“Aku tidak perduli pada ocehanmu”, kata bapa Uskup, “Aku dapat mengusirmu dengan kuasa dari Allah; dengan darah yang Maha Mulia dari Tuhan kita Yesus Kristus”.

“Ya, aku harus taat padamu”, teriak setan dengan liar. “Sangat menyakitkan bagiku untuk memberi padamu hormat ini”.

Bapa Uskup sekarang mengangkat Sakramen Maha Kudus dalam tangannya, dan memegangnya dekat dengan wajah Nicola.

Akhirnya setan dipaksa untuk pergi sekali lagi.

Pagi berikutnya, setelah prosesi selesai, Kurban Misa Kudus dirayakan seperti biasanya.
Selama konsekrasi, Nicola diangkat ke udara setinggi 6 kaki (sekitar 180 cm) sebanyak 2-kali, dan dijatuhkan dengan keras ke lantai. Saat Uskup, sejenak sebelum Bapa Kami, mengambil Hosti sekali lagi dalam tangannya dan mengangkat hosti beserta piala, Nicole diangkat lagi ke udara, dengan 15 orang pria yang menahannya setinggi 6 kaki, dan setelah beberapa waktu ia jatuh dengan keras ke lantai.

Pada saat ini, semua yang hadir dipenuhi teror yang mengerikan. Seorang Jerman Protestan bernama Voske jatuh berlutut, berlinang air mata; iapun bertobat.

“Ah!” kata Voske. “Aku sekarang percaya penuh bahwa setan sungguh dapat menguasai makhluk yang malang. Aku percaya bahwa sungguh2 hanyalah Tubuh dan Darah Kristus yang dapat mengusir setan. Aku sungguh percaya. Aku tidak akan lagi menjadi Prostestan”.

Selesai Misa, eksorsisme dimulai seperti biasanya.
“Sekarang, akhirnya,” kata bapa Uskup, “engkau harus pergi. Pergilah, roh jahat!”
“Ya,” kata setan, “benar bahwa aku harus pergi, tapi belum saatnya. Aku tidak akan pergi sebelum waktunya sejak aku menguasai orang celaka ini”

Akhirnya Uskup mengambil Hosti Kudus dalam tangannya dan berkata: “Dalam nama Allah Tritunggal termulia: Bapa, Putera dan Roh Kudus – dalam nama Tubuh Kritus yang hadir di sini – aku perintahkan engkau, roh jahat, enyahlah”.

“Ya, ya, itu benar!” teriak setan dengan liar: “benarlah, Itu adalah Tubuh dan Darah Kristus. Aku harus mengakuinya, karena aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Sangat menyakitkan bagiku untuk mengakuinya, tapi aku harus. Aku mengatakan yang benar hanya jika aku dipaksa melakukannya. Kebenaran bukan dari aku. Kebenaran datang dari Allah Tuhanku dan Majikanku. Aku telah dapat merasuki tubuh ini atas seijinNya.

Bapa Uskup sekarang memegang Hosti Kudus dalam tangannya dekat ke wajah Nicola. Setan menggeliat dalam kesakitan yang mengerikan. Ia berusaha dengan segala cara untuk menghindari kehadiran Tuhan Yesus dalam Sakramen Maha Kudus. Akhirnya suatu asap hitam yang panjang keluar dari mulut Nicola. Iapun jatuh tak sadarkan diri dan sekali lagi dapat disadarkan hanya dengan kehadiran Sakramen maha Kudus.

Pada tanggal 8 Feb., hari yang ditetapkan Allah dimana setan harus meninggalkan Nicola selama-lamanya, akhirnya tiba. Setelah prosesi yang hikmat, bapa Uskup memulai eksorsisme yang terakhir.

“Aku tidak akan bertanya lagi kepadamu,” kata bapa Uskup pada setan, “ketika engkau berniat pergi; aku akan memaksa mu keluar segera dengan kuasa dari Allah yang hidup dan tubuh dan darah termulia Yesus Kristus, Putera terkasihNya, disini hadir dalam Sakramen di Altar”.

“Ha! Ya”, jerit setan: “Aku mengakui bahwa Putera Allah sungguh hadir di sini. Ia adalah Tuhan dan Majikanku. Sangat menyiksa bagiku untuk mengakuinya, namun aku dipaksa untuk melakukan ini.” Lalu setan mengulanginya beberapa kali, dengan teriakan yang nyaring dan aneh: “Ya benar, aku harus mengakuinya. Aku dipaksa untuk keluar, oleh kuasa Tubuh Kristus yang hadir di sini. Aku harus – aku harus pergi. Aku sangat tersiksa karena harus pergi demikian cepat, dan aku harus mengakui kebenaran ini. Tetapi kebenaran ini bukan dari aku; kebenaran ini datang dari Tuhanku dan Majikanku, yang telah mengirim aku kemari, dan yang telah memerintahkan dan memaksa aku untuk memberi kesaksian akan kebenaran ini di depan khalayak.”

Bapa Uskup lalu mengambil Sakramen Maha Kudus dalam tangannya dan meninggikanNya lalu berkata dengan khidmat: “O engkau yang jahat, roh yang tercemar, Beelzebub ! Engkau musuh besar Allah yang kekal! Perhatikanlah, hadir di sini, Tubuh dan Darah dari Tuhan kita Yesus Kristus, Tuhan dan Junjungan kita. Aku mendesakmu, dalam nama dan kuasa dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, sungguh Allah sungguh manusia, yang hadir di sini; aku perintahkan engkau segera pergi untuk selama-lamanya dari ciptaan Allah ini. Pergilah ke tempat terdalam dari neraka, disana untuk tersiksa selama-lamanya. Pergilah, roh yang tercemar, pergilah – perhatikan di sini Tuhan dan Allahmu !”.
Melalui kata2 khidmat ini, dan di depan Sakramen Kudus Allah, tubuh wanita malang yang dirasuki itu menggeliat ketakutan. Anggota2 tubuhnya retak seolah tiap2 tulangnya patah. Kelima belas pria dewasa yang kuat menahannya dengan susah payah. Mereka terhuyung-huyung dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga mereka bersimbah peluh. Setan mencoba menghindat dari kehadiran Tuhan Allah dalam Sakramen Maha Kudus. Mulut Nicola terbuka lebar, lidahnya menjulur panjang melewati dagunya, wajahnya membengkak dan rautnya menyimpang aneh sangat menakutkan.
Warna tubuhnya berubah-ubahnya dari kuning menjadi hijau, dan malah menjadi abu-abu atau biru, sehingga ia tidak lagi nampak serupa seorang manusia; ia lebih nampak sebagai inkarnasi setan yang mengerikan. Seluruh yang hadir tercekam dalam teror, khususnya ketika mereka mendengar jerit tangis setan yang menakutkan, terdengar seperti raungan nyaring seekor kerbau liar.

Merekapun jatuh berlutut, berlinang air mata, menangis: “Yesus, kasihanilah kami!”

Bapa Uskup terus mendesak setan. Akhirnya roh jahat itu pergi dan Nicola terjatuh tak sadarkan diri ke tangan para penahannya. Dia masih shock dan trauma. Saat itu dalam kondisi demikian ia dipertunjukkan kepada para hakim, dan kepada segenap yang hadir, ia telah berputar menggelinding seperti bola.
Bapa Uskup pun berlutut untuk memberikan Sakramen Maha Kudus, seperti biasanya. Namun lihat! Tiba2 setan itu kembali, dengan amarah yang liar, berusaha membekukan tangan Uskup dan malah mencoba merebut Sakramen itu. Bapa Uskup berusaha mengelak; Nicola terangkat ke udara dan Uskup bangkit berdiri, terkejut dan tergetar oleh teror hingga pucat pasi.

Namun Uskup yang baik itu mengumpulkan segenap keberaniannya; ia mengejar si setan, memegang Sakramen Maha Kudus dalam tangannya, sampai suatu jarak dengan setan, maka diliputi kuasa Tubuh Kristus Tuhan kita, keluarlah dari mulut Nicola asap pekat dan kilat menyambar disertai guntur.

Sejurus kemudian, setan telah dipaksa enyah selama-lamanya, pada Jum’at sore itu tepat jam tiga, pada hari dan jam yang sama ketika Kristus Tuhan kita mengalahkan kekuasaan neraka oleh KematianNya yang menyelamatkan.

Nicola sekarang telah dipulihkan dengan sempurna, ia dapat menggerakkan tangan kirinya dengan mudah. Ia jatuh berlutut, bersyukur dan memuji Allah, dan berterimakasih kepada bapa Uskup atas segala yang telah diberikannya kepada Nicola.

Para umat yang hadir menangis dalam sukacita dan menyanyikan kidung pujian dan syukur dalam hormat kepada Allah dalam Sakaramen Maha Kudus.

Di segenap penjuru kota terdengar teriakan: “Oh, mukjizat yang luar biasa! Oh, terimakasih dan syukur pada Tuhan, bahwa aku menyaksikannya! Siapakah yang sekarang dapat meragukan kehadiran Tuhan kita Yesus Kristus yang nyata dalam Sakramen di Altar yang kudus!”

Banyak orang Protestan juga berkata: “Sekarang aku percaya pada kehadiran Kristus Tuhan kita dalam Sakramen Maha Kudus; aku telah menyaksikannya dengan mataku sendiri! Aku tak akan menjadi Calvinis lagi. Terkutuklah mereka yang telah menyesatkan aku! Oh, sekarang aku dapat mengerti kemuliaan dalam Kurban Misa yang Kudus!”

Te Deum” yang khidmat dinyanyikan; meriah suara organ bergemuruh, dan lonceng Gereja bersahutan dibunyikan, genta kegembiraan.

Segenap penduduk kota diliputi damai dan sukacita.

Kemenangan besar Yesus Kristus dalam Sakramen Maha Kudus atas setan ini, terjadi di hadapan lebih dari 150.000 orang, dihadiri semua pejabat Gereja dan pemerintahan di kota itu, umat Protestan dan Katolik bersatu. Saya sudah menerbitkan suatu buku dari peristiwa luar biasa ini berjudul “Triumph of the Blessed Sacrament“. Kenyataan ini telah dibukti-nyatakan oleh berbagai pihak dan diterbitkan dalam beragam bahasa – Perancis, Italia, Spanyol dan Jerman.

Sumber: http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=6692&sid=6f16330b79ddfae9e4de02a5ecace63f

Urbi et Orbi – Berkat Bagi Roma dan Dunia – Minggu Paskah, 9 April 2012 dari Vatikan

Seperti biasa, Paus dalam Natal dan Paskah selalu memberikan berkat Urbi et Orbi nya dari balkon Basilika St. Petrus, Vatikan. Berkat ini ditujukan bukan hanya untuk seluruh umat yang hadir di sana, melainkan juga umat yang mengikuti misa Paskah di Vatikan melalui radio, televisi, dan berbagai macam alat teknologi seperti live-stream. Dalam berkat ini diberikan pula indulgensi/peringanan hukuman dosa secara penuh. Selengkapnya lihat link saya di sini.
Selain berkat, Paus pada kemarin (8/4) juga memberikan renungan Paskah. Berikut saya ambil dari situs resmi Vatikan dalam bahasa Inggris.

 
Dear Brothers and Sisters in Rome and throughout the world!

“Surrexit Christus, spes mea” – “Christ, my hope, has risen” (Easter Sequence).

May the jubilant voice of the Church reach all of you with the words which the ancient hymn puts on the lips of Mary Magdalene, the first to encounter the risen Jesus on Easter morning. She ran to the other disciples and breathlessly announced: “I have seen the Lord!” (Jn 20:18). We too, who have journeyed through the desert of Lent and the sorrowful days of the Passion, today raise the cry of victory: “He has risen! He has truly risen!”

Every Christian relives the experience of Mary Magdalene. It involves an encounter which changes our lives: the encounter with a unique Man who lets us experience all God’s goodness and truth, who frees us from evil not in a superficial and fleeting way, but sets us free radically, heals us completely and restores our dignity. This is why Mary Magdalene calls Jesus “my hope”: he was the one who allowed her to be reborn, who gave her a new future, a life of goodness and freedom from evil. “Christ my hope” means that all my yearnings for goodness find in him a real possibility of fulfilment: with him I can hope for a life that is good, full and eternal, for God himself has drawn near to us, even sharing our humanity.

But Mary Magdalene, like the other disciples, was to see Jesus rejected by the leaders of the people, arrested, scourged, condemned to death and crucified. It must have been unbearable to see Goodness in person subjected to human malice, truth derided by falsehood, mercy abused by vengeance. With Jesus’ death, the hope of all those who had put their trust in him seemed doomed. But that faith never completely failed: especially in the heart of the Virgin Mary, Jesus’ Mother, its flame burned even in the dark of night. In this world, hope can not avoid confronting the harshness of evil. It is not thwarted by the wall of death alone, but even more by the barbs of envy and pride, falsehood and violence. Jesus passed through this mortal mesh in order to open a path to the kingdom of life. For a moment Jesus seemed vanquished: darkness had invaded the land, the silence of God was complete, hope a seemingly empty word.

And lo, on the dawn of the day after the Sabbath, the tomb is found empty. Jesus then shows himself to Mary Magdalene, to the other women, to his disciples. Faith is born anew, more alive and strong than ever, now invincible since it is based on a decisive experience: “Death with life contended: combat strangely ended! Life’s own champion, slain, now lives to reign”. The signs of the resurrection testify to the victory of life over death, love over hatred, mercy over vengeance: “The tomb the living did enclose, I saw Christ’s glory as he rose! The angels there attesting, shroud with grave-clothes resting”.

Dear brothers and sisters! If Jesus is risen, then – and only then – has something truly new happened, something that changes the state of humanity and the world. Then he, Jesus, is someone in whom we can put absolute trust; we can put our trust not only in his message but in Jesus himself, for the Risen One does not belong to the past, but is present today, alive. Christ is hope and comfort in a particular way for those Christian communities suffering most for their faith on account of discrimination and persecution. And he is present as a force of hope through his Church, which is close to all human situations of suffering and injustice.

May the risen Christ grant hope to the Middle East and enable all the ethnic, cultural and religious groups in that region to work together to advance the common good and respect for human rights. Particularly in Syria, may there be an end to bloodshed and an immediate commitment to the path of respect, dialogue and reconciliation, as called for by the international community. May the many refugees from that country who are in need of humanitarian assistance find the acceptance and solidarity capable of relieving their dreadful sufferings. May the paschal victory encourage the Iraqi people to spare no effort in pursuing the path of stability and development. In the Holy Land, may Israelis and Palestinians courageously take up anew the peace process.

May the Lord, the victor over evil and death, sustain the Christian communities of the African continent; may he grant them hope in facing their difficulties, and make them peacemakers and agents of development in the societies to which they belong.

May the risen Jesus comfort the suffering populations of the Horn of Africa and favour their reconciliation; may he help the Great Lakes Region, Sudan and South Sudan, and grant their inhabitants the power of forgiveness. In Mali, now experiencing delicate political developments, may the glorious Christ grant peace and stability. To Nigeria, which in recent times has experienced savage terrorist attacks, may the joy of Easter grant the strength needed to take up anew the building of a society which is peaceful and respectful of the religious freedom of all its citizens.

Happy Easter to all!

 

 

Berikut video Urbi et Orbi dari Vatikan pada Misa Paskah 2012 kemarin (8/4).

Video